Kesadaran datang perlahan, seperti naik dari dasar laut.Awalnya hanya dingin di lantai marmer yang bening. Lalu aroma asing, bersih, mahal, bercampur wangi kayu, terlalu tenang jika disebut rumah sakit.Senian membuka mata.Langit-langit tinggi berwarna putih gading menyambutnya, dihiasi lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya pagi. Tirai besar terbuka setengah, memperlihatkan laut biru jauh di bawah tebing. Villa. Bukan kamar hotel, bukan rumah sakit, bukan pula tempat mana pun yang dikenalnya.Napasnya tercekat.Dia mencoba bangkit, tubuhnya lemas, kepala terasa berat. Tidak ada rasa sakit yang tajam, hanya sisa pusing seperti telah tidur panjang yang dipaksakan. Tangannya bebas, kakinya juga, tidak ada borgol, tidak ada tali.Itu justru membuatnya lebih takut.“Emilia…?” suaranya serak, hampir tidak terdengar.Tidak ada jawaban.Keheningan di ruangan itu begitu sempurna hingga terasa menekan telinga. Tidak ada suara kota, tidak ada klakson, tidak ada orang. Hanya debur ombak
Last Updated : 2025-12-22 Read more