Mag-log inSelama 2 tahun bertunangan dan 6 tahun menikah Xieran selalu bersikap dingin ke istrinya, Senian, meskipun Xieran memperlakukannya dengan baik dan memanjakannya. Dan Senian anggap itu adalah cinta. Sampai pada akhirnya Senian melihat Xieran tersenyum manis dan menatap lembut ke seseorang tapi wanita itu bukan dirinya. Awalnya, Senian mencoba menguatkan diri. “Aku istri sah. Aku punya hak. Aku punya tempat,” bisiknya pada hati yang terluka. Tapi perlahan, dunia seakan bersekongkol melawannya. Suaminya makin menjauh, keluarga suaminya tak lagi mendengar, bahkan mereka pun mulai berjarak. Dan ketika Xieran berkata “Mungkin… sudah saatnya kita berpisah.” Kata-kata itu menghantam jiwanya lebih keras daripada apa pun. itu bukan sekadar suara suaminya, itu gema dari bisikan Yuilan yang berhasil merebut tempatnya. Hingga dirinya sekarat ditangan Yuilan, rahasia 6 tahun bersama suaminya terkuak yang menimbulkan dendam ke kehidupan dirinya yang terlahir kembali. Bertekad untuk menuntut balas pada semua orang yang menyakitinya.
view moreSenian perlahan membuka mata dan menatap sekeliling ruangan yang asing.
Udara di dalam ruangan itu dingin, sedikit lembap, bau kapur dan aroma kayu lapuk menyeruak. Dinding kamar kusam dan perabotaan sederhana yang tak pernah dia lihat, tapi anehnya semuanya terasa sangat akrab. Cahaya yang masuk dari sela jendela kecil menyilaukan wajahnya membuat dia menyipitkan mata.
Dia mengangkat tangan menutupi wajahnya dari cahaya matahari yang silau. Matanya mulai menatap sekeliling ruangan.
Ruangan ini hanya ada satu pintu kayu dengan gagang pintu yang sedikit berkarat. Ada goresan di ambang pintu, bekas tangan.
Potongan memori yang lambat-lambat merayap naik.
“akh ini bukan kamarku, tapi …….” Senian membelalakkan matanya. Sesaat dia ingat, ruangan ini, seperti kejadian enam tahun yang lalu.
“Kenapa aku kembali ke sini?” pikirnya. Suaranya serak bahkan untuk dirinya sendiri.
Apakah ini mimpi? Beberapa menit yang lalu dia ingat, memori tentang hari pernikahan, gaun yang belum sempat dipakai, wajah yang dingin, janji-janji yang retak, nyala api yang membesar, lalu kegelapan dan seharusnya itu akhir.
Apa yang terjadi, bukankah dia sudah mati!?
Dia meraba saku, berharap menemukan sesuatu yang nyata tapi tidak menemukan apapun. Dia melihat ada bekas luka samar di pergelangan yang terasa perih seperti bekas jeratan. Jemarinya masih halus, kulitnya belum dipenuhi garis lelah enam tahun pernikahan.
Dia terdiam, lalu bangkit dengan susah payah menuju cermin kecil yang tergantung miring di dinding. Bayangan yang menatap balik adalah wajah mudanya, mata penuh cahaya, kulit segar, bukan wajah lusuh yang pernah dia lihat di akhir hidupnya.
Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit, tapi ada campuran ketakutan, kebingungan, dan sesuatu yang lebih berbahaya. Ruangan ini tidak asing, dia mengenalnya karena sesuatu yang paling buruk dalam hidupnya pernah terjadi.
Ini adalah tempat dia pernah terkurung enam tahun lalu. Ingatan itu meledak, padat dan dingin. Gambaran villa, pemindahan, keheningan yang mematikan.
Dalam sekejap, semua ingatannya kembali.
“Bagaimana mungkin?” bisiknya.
Jika dia kembali di sini, berarti waktu telah bergeser atau dirinya dipaksa untuk mengulang. Ada alasan mengapa jejak-jejak itu disiapkan untuknya lagi.
Perlahan, kesadaran berpindah dari panik ke kegembiraan kecil, jantungnya yang berdetak memberi bukti bahwa dia masih hidup, dan ini adalah kesempatan.
Jika dia memang hidup lagi, jika takdir memberinya detik kedua, apakah dia akan membiarkan kejadian lama terulang?
Di ujung bibirnya terbit senyum kecil, tipis tetapi nyata.
Napasnya tercekat. “Aku… kembali?” Gumaman itu menggema lirih.
Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin masuk hingga ke dasar paru-paru, dan untuk pertama kali sejak membuka mata, sebuah rencana kecil bergema di otaknya bukan untuk lari lagi, tapi untuk mengubah akhir.
Ternyata dia benar-benar telah bereinkarnasi!
Bereinkarnasi kembali ke enam tahun lalu, pada hari pernikahannya.
Dia adalah Senian Zhuge, putri sulung keluarga Zhuge. Dia bertunangan dengan Xieran Murrel, anak tunggal Muriel Group, pewaris tunggal bisnis keluarga Murrel. Senian mempunyai adik laki-laki Marco Zhuge dan seorang adik tiri, Yuilan Zhuge.
Ingatannya menyeruak, malam sebelum pernikahan, adik tirinya, Yuilan, mengetuk pintu dengan senyum manis.
Dia mengajaknya berbincang, berkata ingin menenangkan hati kakaknya yang akan menikah besok. Tanpa curiga, dia menuruti. Di meja, ada minuman yang Yuilan suguhkan. Dia meneguk tanpa berpikir. Lalu gelap.
Ketika dia sadar, Senian berada di ruangan terkunci.
Sekarang, puzzle itu tersusun jelas. Dulu, dia sama sekali tidak mencurigai kelicikan itu. Dia bodoh, terlalu percaya pada adik tirinya hingga akhirnya, dia terbangun di tempat ini, tidak sadar bahwa hidupnya akan berubah selamanya.
Air mata menggenang di pelupuk, bukan karena kelemahan, melainkan karena campuran getir dan marah.
“Jadi ini awal segalanya” pikirnya.
Tuhan, atau takdir, atau entah siapa, telah mengembalikannya tepat ke titik sebelum kehancuran dimulai.
Hari pernikahannya!.
Hari yang dulu dia kira akan membuka kebahagiaan, tetapi justru membawanya ke neraka panjang.
Kali ini, tidak akan ada kebodohan. Tidak ada lagi kelengahan. Jika ini kesempatan kedua, maka dia bersumpah, kelicikan itu tidak akan pernah berhasil.
Dia tidak akan menjadi korban lagi.
Villa di Tepi Laut, Foto satelit muncul di layar laptopnya malam itu.Villa putih besar, berdiri sendiri di ujung tebing. Di belakangnya hutan pinus. Di depannya laut biru gelap yang tampak tenang namun dalam.Tidak ada tetangga dekat, tidak ada kamera publik. Satu jalan masuk darat. Satu dermaga kecil tersembunyi.Terlalu sempurna.“Lucien…” bisiknya. “Kamu selalu memilih sangkar yang indah.”Yuilan menutup laptop perlahan.Dia tidak mengirim laporan ke siapa pun. Tidak ke Xieran, apalagi ke Nathan.Jika dia melibatkan mereka sekarang, Senian mungkin akan diselamatkan. Tapi itu bukan yang dia inginkan.Dia ingin kepastian, dia ingin melihat dengan matanya sendiri. Dia ingin memutuskan dengan tangannya sendiri apa yang akan terjadi pada Senian.***Dua hari kemudian, Yuilan sudah berada di bandara internasional.Tanpa koper besar, tanpa nama asli dan tanpa rencana cadangan. Seolah dia sudah sangat yakin Senian ada di sana.Yuilan pergi dengan penerbangan transit dan identitas sewaan.
“Kalau dia menyembunyikan Senian,” gumamnya, “maka pasti ada orang yang menjaga. Dan semua penjaga punya harga.”Yuilan tidak lagi menunggu instruksi.Dia menyusup pelan-pelan ke pinggiran jaringan Lucien, bukan sebagai sekutu, tapi sebagai parasit. Dia tidak mencari konfrontasi, hanya mencari lokasi.Dia tahu risikonya besar.Jika Lucien tahu, dia bisa dibungkam. Jika Nathan tahu, dia bisa ditangkap. Namun rasa takut itu kalah oleh satu pikiran obsesif yang terus berdengung di kepalanya.“Selama Senian hidup, aku tidak akan pernah menang.”Yuilan tersenyum tipis, senyum yang dingin dan retak.“Kamu pikir kamu mengendalikan segalanya, Lucien,” bisiknya. “Tapi aku tidak lagi menjadi pion.”Di luar sana, Senian pasti masih hidup. Dan Yuilan bersumpah, jika dia menemukan lokasinya terlebih dahulu, maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkan Senian lagi. Bahkan Lucien sendiri.Ingatan Yuilan berputar seperti pecahan kaca tajam, menyakitkan, tapi justru semakin jelas.Dia duduk di tepi ra
Malam-malam menjadi yang terburuk.Nathan duduk sendirian di paviliun, tempat Senian terakhir kali dia lihat tersenyum. Dia menggenggam cincin pernikahan di jarinya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap waras.“Di mana kamu…” bisiknya pada keheningan. “Aku akan menghancurkan apa pun, siapa pun, asal bisa menemukanmu.”Dan jauh di dalam dirinya, ketakutan paling gelap mulai merayapi hari-harinya. Bagaimana jika Senian tidak bisa ditemukan? Bagaimana jika dia terlambat?Pemikiran itu membuat Nathan kehilangan kendali.Dia menutup mata, napasnya bergetar, tinjunya menghantam meja hingga berdarah.“Tidak,” gumamnya keras. “Dia pasti menungguku. Aku tahu itu.”Di belahan dunia lain, Senian terkurung dalam sangkar emas. Di sini, Nathan terkurung dalam kehilangan. Dan ketika dua obsesi itu bergerak menuju titik yang sama, dunia akan pecah.Nathan akhirnya berhenti menunggu keajaiban.Dia bergerak.Seluruh kekuatan Deloit Corporation dikerahkan tanpa sisa. Bukan hanya divisi b
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar ruang makan.Meja sarapan tersaji sempurna, roti hangat, buah segar, kopi yang aromanya menenangkan. Seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi apapun.Lucien sudah duduk di sana ketika Senian datang.Wajahnya kembali tenang seperti tidak ada sisa amarah, tidak ada jejak emosi yang meledak semalam. Dia kembali mengenakan topeng pria berkelas yang menguasai segalanya.Senian duduk di seberangnya tanpa menyentuh apa pun.“Lucien,” katanya langsung, suaranya datar. “Pulangkan aku.”Lucien mengangkat pandangan dari cangkir kopinya, alisnya sedikit terangkat.“Tidak,” jawabnya singkat.Senian tidak terkejut, dia sudah menduganya.“Aku harus kembali,” lanjut Senian tegas. “Perusahaanku membutuhkanku, Zhuge Group bukan tempat yang bisa ditinggalkan terlalu lama.”Lucien tersenyum kecil, senyum yang membuat perut Senian mengeras.“Kamu selalu mencari alasan yang terdengar mulia,” katanya pelan. “Tapi yang i






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.