“Aaaaak—!”Teriakan itu memecah keheningan apartemen.Reza yang baru saja membuka pintu langsung berbalik. Evander, yang berdiri tepat di belakangnya dengan koper kecil di tangan, ikut tersentak.“Aerin!” Reza berlari.Aerin sudah terduduk di lantai ruang TV, punggungnya menempel ke sisi sofa. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Ponselnya tergeletak tak jauh dari tangannya—layarnya masih menyala, tampak layar panggilan yang telah terputus.Evander menjatuhkan koper. “Apa yang terjadi?”Reza berlutut, mengambil ponsel itu. “Panggilan masuk… nomor tidak dikenal.” Ia menatap Aerin. “Siapa?”Aerin membuka mulut—lalu menutupnya lagi. Tatapannya jatuh ke lantai. Tangannya mencengkeram ujung lengan bajunya sendiri.“Dia…” suaranya patah. “Dia tahu nomorku.”Reza berdiri dalam satu gerakan cepat. “Evander, tolong.”Tanpa perlu penjelasan, Evander mengangguk. Ia mendekat, membungkuk di depan Aerin. “Aerin. Lihat aku. Tarik napas.”Aerin mencoba. Gagal. Dadanya terasa sesa
최신 업데이트 : 2026-01-10 더 보기