"Stella, sudah puas main-main?"Aku tak berani mengangkat kepala. Tubuhku seolah membeku di tempat, darah mengalir deras ke otak hingga seluruh tubuhku terasa dingin.Melihat aku diam saja, Joshua mengulurkan tangannya dengan nada sabar."Bangun, ikut aku pulang."Aku menelan ludah, berusaha tenang, lalu mengenakan maskerku kembali.Dapur belakang masih banyak pekerjaan, aku tak punya waktu untuk dibuang pada orang busuk sepertinya.Melihat aku tidak berbicara dan hendak pergi, Joshua meraih pergelangan tanganku dan mengangkatnya, membuatku terpaksa berbalikTanganku yang terendam air jadi pucat dan bengkak. Tatapannya tanpa sadar tertuju ke sana, alisnya berkerut."Kau ini sedang apa sebenarnya? Tidak mau jadi nyonya kaya, malah mencuci piring di negeri orang?"Aku menatap wajah Joshua.Baru kusadari, aku masih belum benar-benar melupakannya, karena aku masih menyimpan kebencian yang begitu kuat.Segala yang kualami sekarang, bukankah semuanya karena bajingan ini?Aku menarik tanganku
Read more