“Aku sudah berhasil membuat sebagian dari perusahaannya hancur, Sayang.” Naina tersenyum picing, wanita itu tampak sedang bersulang dengan seorang pria. “Kau memang selalu dapat kuandalkan, Naina. Aku masih ingin melihatnya lebih hancur dari saat ini.” Tatapan pria itu tampak begitu bengis, kedua satu tangannya mengepal erat. Seolah ada bagian dendam di dalam sana. “Kau tenang, saja. Aku akan membuatnya lebih hancur dari saat ini. Tapi, kau pun harus tahu, Sayang. Jika semua ini tidak ada yang gratis. Sesuatu yang kulakukan tentu harus ada timbal baliknya.” “Kau tenang saja, apa pun yang kau pinta dariku, aku pasti akan mewujudkannya.” “Sekali pun itu hatimu?” Pria itu bergeming. Hatinya bahkan bukan untuk Naina. Baginya, Naina tidak ubahnya sebagai media pelampiasan hasrat karena selama ini ia belum bisa mendapatkan wanita yang diinginkannya. “Kau bisa meminta apa pun dariku, Naina. Tapi tidak untuk hatiku.” Naina membanting gelasnya, hingga suara pecahannya menggema
Last Updated : 2026-02-19 Read more