Revan membalas pelukan itu. Tangannya sempat ragu, lalu perlahan mengusap punggung Aruna, seakan ingin memastikan perempuan itu benar-benar masih miliknya.Aruna menutup mata. Pelukan itu hangat, tapi dadanya terasa sesak. Tubuhnya berada di sana, namun pikirannya berlari jauh—mencari celah, mencari waktu.“Mas takut kehilangan kamu, Aruna,” suara Revan parau, dahinya menempel di pelipis istrinya. “Mas salah, mas tau… tapi jangan tinggalin mas ya.”Aruna mengangguk di dada itu. Jarinya mencengkeram punggung Revan, bukan karena rindu, melainkan menahan gemetar di tubuhnya sendiri.“Iya, mas…” jawabnya lirih. “Aruna di sini.”Revan tersenyum kecil. Ia menarik wajah Aruna, menatapnya lama, seolah ingin membaca kebenaran di mata itu. Telapak tangannya menyentuh pipi Aruna, mengusap lembut—terlalu lembut untuk seseorang yang sebelumnya tega memborgol.“Mas pengen kita kayak dulu,” ucapnya pelan. “Kamu nurut, kamu percaya sama mas.”Kata-kata itu menusuk Aruna lebih dalam dari rantai m
Terakhir Diperbarui : 2025-12-19 Baca selengkapnya