Aruna masih terbaring di dalam ruangan, tubuhnya setengah mati rasa akibat pengaruh obat bius. Pandangannya kabur, kelopak matanya terasa berat, namun pendengarannya masih berfungsi dengan jelas.Saat lantunan azan perlahan berkumandang dari bibir Revan, sudut mata Aruna tiba-tiba terasa panas. Air mata itu menetes tanpa bisa ia cegah, mengalir pelan melewati pelipisnya dan membasahi bantal rumah sakit. Dadanya bergetar, napasnya tertahan, meski suaranya tak sanggup keluar.Di dalam hati, Aruna berdoa lirih.Ya Allah… aku menerima semua takdir yang Engkau tentukan untukku di masa depan. Tapi aku mohon, jangan Engkau kembalikan aku pada pria yang telah mengkhianatiku. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti ibuku—bertahan dalam luka, terjebak bersama pria brengsek seperti ayahku.Tangisnya kian tak terbendung, meski hanya berupa isakan kecil yang tertahan di dada. Aruna terus memanjatkan doa itu berulang kali, memohon agar hidupnya kelak tidak lagi dipenuhi pengkhianatan dan penderitaa
Terakhir Diperbarui : 2026-01-13 Baca selengkapnya