Nadia yang masih duduk di tepi ranjang, seketika bahunya bergetar. Ia menangis. Bryan mendekat, duduk di sampingnya, lantas memeluknya erat. “Yan, kita bercerai saja," ucap Nadia di sela tangisnya. “Aku ... aku enggak bisa lagi menjalani pernikahan ini.” Pelukan Bryan mengerat. Dia menenggelamkan wajahnya di rambut indah Nadia yang menguarkan wangi sampo."Maaf, maafkan aku, Dia. Andai waktu bisa diulang, aku tidak akan menodaimu. Karena rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab atas kesalahanku itu, aku turut menekanmu untuk mau menjadi ibu pengganti untuk bayiku dengan Adelia."Aku sangat menyesal, Dia. Katakan apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku itu? Semua akan kulakukan, kecuali perceraian. Andai semua rencana kita berjalan sempurna. Paling tidak rahimmu masih ada. Aku tak akan berpikir dua kali saat kau meminta berpisah."Bryan menangkup kedua pipi Nadia, matanya berkaca-kaca saat dia mengecup kening istrinya dalam-dalam. Keduanya berpelukan, dalam isak tangis ya
Last Updated : 2026-01-01 Read more