LOGINBu Sinta menyambut kepulangan Bryan dari kantor dengan wajah berseri. "Nadia dan anak-anak kalian sudah datang. Anak-anak sudah dibawa ke rumah kakakmu. Nadia sementara bersiap di kamar kalian," ucap mamanya Bryan mengerling penuh makna. "Mama doakan semoga, kalian tidak jadi berpisah."
Tanpa banyak kata, Bryan melangkah panjang-panjang menuju kamarnya. Selama proses perceraian mereka baru hari ini, Nadia datang. Bisa jadi, karena tak enak menolak undangan selamatan empat bulanan kandungan Alinka, kakak iparnya. Sebentar lagi, kakaknya akan menambah member anggota keluarga Narendra.Berita kedatangan istrinya itu, jauh lebih menggembirakan bagi Bryan daripada kabar take over sebuah hotel di Kuta yang baru saja ia sepakati tadi pagi.Dari balik pintu, Bryan mendengar samar suara percikan air dari kamar mandi. Senyum gembira tersungging di bibirnya. Tas milik Nadia sudah tergeletak di atas ranjang. Di sudut kamar ada koper yang biasa dibawa saat kedua anaknyBeberapa minggu berlalu, Bryan disibukkan dengan pekerjaan barunya di Adijaya. Ia mencoba fokus bekerja untuk supaya kenangan bersama Nadia teralihkan oleh pekerjaanEnam bulan kemarin dengan sengaja Bryan bekerja keras untuk merampungkan segala urusan di Malang. Memastikan Petra Jaya berjalan stabil. Walaupun dirinya CEO yang sudah tak memiliki saham di Petra Jaya.Saham kepemilikan enam puluh persen yang dulunya Bryan miliki kini telah berpindah, 50% atas nama Nadia dan 10% atas nama Adelia.Nadia mempercayakan sahamnya pada Pak Narendra. Meskipun begitu, Pak Narendra tetap memberikan wewenang kepada Bryan untuk mengurus perusahaan. Sebagai CEO, mewakili dirinya selama ini di Petra Jaya.Hingga proses perceraian selesai. Bryan masih berharap keajaiban akan nasib rumah tangganya bersama Nadia. •Siang itu, Pak Narendra bertandang ke Petra Jaya dengan setelan jas rapi warna abu-abu. Ia meminta Pak Alby, papa dari Adelia, mantan
Nadia merasa wajahnya merona saat semua orang menatapnya. Aktivitas panas yang barusan terjadi membuat mereka lumayan terlambat. Meskipun tidak ada yang mengucapkan komentar mengenai keterlambatan itu, Nadia merasa semua orang seakan tahu apa yang terjadi. Benar-benar memalukan.Tak lama kemudian, Bryan menyusul di belakangnya. Bu Sinta menyuruh dua orang itu, menuju meja makan. Bryan berjalan sambil merangkul pinggang Nadia. Tubuh Nadia menegang. Ia tahu, seharusnya Bryan tidak bersikap seperti itu di depan keluarganya, memperlihatkan seolah-olah mereka baik-baik saja. Padahal sidang perceraian masih berjalan.Nadia sadar, semua berharap dirinya mencabut gugatan. Hingga tidak perlu ada perceraian antara dirinya dan Bryan.“Duduk di sini, Sayang,” ujar Bryan sambil menarik kursi untuk Nadia, lalu duduk di sebelahnya.Nadia menerima perlakuan itu dengan canggung, "terima kasih, Yan." Keduanya segera menikmati hidangan yang disuguhkan di meja makan rumah Devan.Setelah dirasa cukup keny
Bu Sinta menyambut kepulangan Bryan dari kantor dengan wajah berseri. "Nadia dan anak-anak kalian sudah datang. Anak-anak sudah dibawa ke rumah kakakmu. Nadia sementara bersiap di kamar kalian," ucap mamanya Bryan mengerling penuh makna. "Mama doakan semoga, kalian tidak jadi berpisah."Tanpa banyak kata, Bryan melangkah panjang-panjang menuju kamarnya. Selama proses perceraian mereka baru hari ini, Nadia datang. Bisa jadi, karena tak enak menolak undangan selamatan empat bulanan kandungan Alinka, kakak iparnya. Sebentar lagi, kakaknya akan menambah member anggota keluarga Narendra.Berita kedatangan istrinya itu, jauh lebih menggembirakan bagi Bryan daripada kabar take over sebuah hotel di Kuta yang baru saja ia sepakati tadi pagi.Dari balik pintu, Bryan mendengar samar suara percikan air dari kamar mandi. Senyum gembira tersungging di bibirnya. Tas milik Nadia sudah tergeletak di atas ranjang. Di sudut kamar ada koper yang biasa dibawa saat kedua anakny
Malam belum begitu larut saat mobil SUV hitam yang dikendarai Bryan masuk ke halaman rumah mewah keluarga Narendra. "Papa dan Mama di kamar ya, Mbak Rin?" "Nggih, Mas Bre." Angguk Mbak Rini yang kebetulan membukaan pintu untuknya tadi. Bryan melangkah menuju kamar utama yang berseberangan dengan kamar tamu yang dipugar menjadi kamarnya bersama Nadia saat berkunjung ke rumah orang tuanya. Melihat wajah lesu putra keduanya Pak Narendra sudah bisa meräba apa yang dialami oleh Bryan hari ini. Di Malang meeting belum selesai harus bertolak ke Jakarta menenangkan istri keduanya. Setelah itu, menghadapi amukan Adelia. Sesampai di rumahnya, Nadia keukeh meminta berpisah darinya. Pak Narendra menepuk lengan Bryan sebagai dukungan terhadap putra mengambil keputusan kali ini. "Apapun keputusanmu kali ini, pikir dengan baik-baik, Yan." "Papa keluar dulu, Ma. Sepertinya, ada yang mau minta dipukpuk malam ini," canda Pak Narendra melirik istrinya yang tersenyum simpul. "Ya, enggak apa-apa. M
Adelia memeluk lututnya di atas ranjang. Air matanya dibiarkan terus berlinang. Mengingat Bryan tak menyangkal semua tuduhannya membuatnya terluka. "Akhirnya aku yang keluar sebagai pecundang. Dibanding Mbak Nadia, aku memang tak ada apa-apanya dari dulu. Mbak Nadia cantik dan juga pinter. Mas Bryan menyukainya dari SMU.""Jangan bicara begitu, Delia. Mama jadi sedih melihatmu begini. Ayo, kita temui mertuamu. Seperti yang Mama bilang tadi. Pasti mereka akan memilihmu dibandingkan Nadia," bujuk Bu Riska sembari mengelus dan merapikan rambut panjang putrinya.Adelia menggelengkan kepala. "Mama saja, aku mau di sini saja.""Baiklah, kita makan dulu. Selesai makan, mama bersiap ke rumah Pak Narendra."•▪︎•Bryan melajukan mobilnya perlahan saat memasuki gerbang 'Andalusia.' Semilir angin menerpa wajah lelahnya saat keluar dari mobil SUV hitam miliknya."Itu, Papa siapa yang datang!" seru Leni yang menyuapi Baby Rai yang duduk di stollernya."Appa!" seru Baby Rai seraya bertepuk tangan. B
Di hotel tempat Adelia menginap, Bu Riska mengomel tak terima dimarahi suaminya via telepon."Enggak usah menakuti mama dengan mengatakan masalah makin ruyam, Papa! Mama kemari, membantu Adelia mempertahankan pernikahannya bersama Bryan. Kalau keponakanmu itu, tahu diri. Pasti dirinya akan mundur. Bryan tidak mau menceraikan Nadia, berarti Nadialah yang harus menggugat Bryan.""Mungkin sekarang Bryan sudah tiba di Jakarta. Gara-gara kelakuan Mama. Dia tadi langsung pergi meninggalkan meeting penting di kantor.""Hah! Bryan sampai nekat terbang kemari gara-gara kita nyamperi Nadia tadi. Hebat ya, keponakanmu itu, Pa. Sihir apa yang digunakan untuk menjerat Bryan. Sebulanan lebih, dia bisa tak pedulikan Adelia. Begitu, ngadu yang tidak-tidak langsung disamperi kemari.""Nadia enggak ngadu. Tapi, Bryan ditelepon kakaknya, Devan.""Ma!" Sentak Adelia panik karena dia turut mendengarkan pembicaraan mama dan papanya yang sengaja dihidupkan loud







