Home / Romansa / SAHAM 50 PERSEN / Gugat Cerai Bryan

Share

Gugat Cerai Bryan

Author: Rumi Cr
last update Last Updated: 2025-12-31 08:00:42

Nadia menoleh tepat ke arah mereka. Wajah istri kedua Bryan itu, nampak berseri bahagia. Siang itu, ia mengenaikan blus biru polos dipadu celana jens dengan rambut diikat sederhana.

“Bibi ... Delia. Kejutan nih, sampai datang kemari. Sepertinya ada hal penting yang ingin kalian bicarakan." Nadia bangkit masih dengan mengendong Zaidan. Indah menghampiri sebentar seraya berbisik untuk mempersilakan kedua tamu mereka, sementara dirinya ke dapur membuat minuman.

"Sudah tentu ada yang penting. Enggak mungkin, kita jauh-jauh datang dari Malang ke sini hanya sekedar main saja," ketus Bu Riska menatap tajam ke arah Nadia.

Nadia terdiam sesaat. Ia mulai bisa menebak maksud kedatangan istri pamannya itu. "Apakah Bibi kemari untuk membahas saham Petra Jaya yang diberikan Bryan padaku?" Tanya Nadia begitu berdiri di hadapan Bu Riska. "Mari kita ngobrol di ruang tamu, Bi ... Del."

Bu Riska mengikuti langkah Nadia yang berjalan ke ruang tamu, demikian juga Ade
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SAHAM 50 PERSEN    Jangan Kau Hadirkan Orang Lain

    Sore yang cerah, Bryan datang menjenguk Raihan dan Rayyan seperti biasa. Ia membawa sebuah mobil-mobilan remote control terbaru yang pasti akan disukai kedua putranya. Saat ia memasuki pekarangan rumah, ia melihat sebuah mobil SUV hitam terparkir di belakang mobil Nadia.Jantung Bryan berdebar, ada perasaan tak nyaman dalam hatinya. Ketika sampai di teras, ia melihat pemandangan yang membuat darahnya bergejolak.Di ruang keluarga, Raditya duduk di sofa, mengobrol akrab dengan Nadia. Raihan dan Rayyan tampak asyik bermain dengan mobil-mobilan baru. Tentu, itu pemberian Raditya. Sebuah kotak kue favorit Nadia juga tergeletak di meja, anggur hijau dan minuman dingin di gelas yang hampir habis.“Bryan?” sapa Nadia, terkejut melihat kedatangan mantan suaminya.Raditya menoleh, senyumnya pun terukir di bibirnya. "Hai, Yan ... apa kabar, lama kita tidak berjumpa."Bryan menatap Raditya tajam. “Untuk apa kamu kemari, Dit?" tanya Bryan dengan tata

  • SAHAM 50 PERSEN    Gelisah

    Bryan duduk di ruang kerjanya. Berkas-berkas terbuka tapi tak satupun disentuh. Yang terngiang di kepalanya hanya bayangan Sindy semalam dengan gaun tipis, senyum genit, langkah mendekat yang membuat darahnya mendidih. Ia benci bukan main, bukan karena tergoda, melainkan karena merasa direndahkan oleh adik Septi itu.Akhir pekan seharusnya menjadi momen kebahagiaan bagi Bryan, kesempatan untuk menebus waktu yang hilang bersama Raihan dan Rayyan. Namun, karena kejadian semalam membuatnya enggan untuk ke rumah Nadia, bahkan dengan alasan mengembalikan mobil Nadia yang ia bawa.Gadis itu, sudah dianggap adik oleh Nadia. Kenapa sampai berani menggodanya, dari semalam pertanyaan tersebut berkelibatan terus di kepalanya.Setelah makan malam bersama kedua orangtuanya, Bryan sengaja meminta waktu mamanya untuk bicara berdua."Anakmu lagi gelisah lagi, itu, Ma ..." sindir Pak Narendra sebelum berlalu menuju teras samping memberi waktu pada istri dan putran

  • SAHAM 50 PERSEN    Godaan

    Suatu malam, setelah Raihan dan Rayyan terlelap, Bryan kembali ke kamar tamu. Ia baru saja selesai membaca cerita pengantar tidur untuk anak-anaknya. Saat berbalik menutup kamar tamu ia dikejutkan dengan kemunculan Sindy dari kamar mandi.Adik Septi itu, membiarkan rambut panjangnya tergerai, dan ia memakai daster tipis dengan belahan dada rendah. Di tangan Sindy ada segelas minuman berwarna merah.“Aku bawakan minum untuk Mas Bryan," kata Sindy dengan suara manja.Bryan merasa risih. “Apa yang kau lakukan Sindy. Cepat keluar dari sini.”Sindy melangkah mendekat. "Yakin, Mas Bryan ingin aku keluar dari sini. Aku takut kepergok Mbak Nadia kalau aku keluar sekarang." Dengan berani Sindy mengelus pipi hingga rahang Bryan.Sindy tersenyum. “Mas Bryan sampai kapan akan menunggu Mbak Nadia. Sedangkan Mbak Nadia sepertinya sudah mulai nyaman dengan Mas Radith.""Apa maksudmu, Sindy?""Mas Bryan enggak usah pura-pura enggak tah

  • SAHAM 50 PERSEN    Kami Bercerai

    Setelah perceraian mereka resmi, Bryan dan Nadia berusaha sebaik mungkin menjaga hubungan demi kedua anak mereka, Raihan dan Rayyan. Mereka sepakat untuk merawat kedua anak itu bersama. Kadang kala di akhir pekan, Bryan akan menginap di rumah Nadia di Andalusia. Tentunya Bryan beristirahat di kamar tamu bukan kamar utama lagi.Siang itu, Nadia membawa kedua anaknya ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Raihan dan Rayyan pada dokter anak langganan keluarganya. Dokter Rifia, SpA"Nadia!" Panggil seseorang yang suaranya masih familiar di telinga Nadia. "Radith." Nadia tersenyum menatap teman karib sekaligus tetangganya di rumah Madiun."Aku enggak nyangka bakal bertemu kembali denganmu di rumah sakit, ini." Radith menjabat erat tangan kanan sahabatnya itu."Sudah dua hari anak-anak demam. Menunggu nanti malam periksa ke rumah Dokter Rifia kok rasanya kelamaan. Makanya, kubawa kemari," ujar Nadia seraya menunjuk ke arah Raihan dan Rayyan ya

  • SAHAM 50 PERSEN    Saham Petra Jaya

    Beberapa minggu berlalu, Bryan disibukkan dengan pekerjaan barunya di Adijaya. Ia mencoba fokus bekerja untuk supaya kenangan bersama Nadia teralihkan oleh pekerjaanEnam bulan kemarin dengan sengaja Bryan bekerja keras untuk merampungkan segala urusan di Malang. Memastikan Petra Jaya berjalan stabil. Walaupun dirinya CEO yang sudah tak memiliki saham di Petra Jaya.Saham kepemilikan enam puluh persen yang dulunya Bryan miliki kini telah berpindah, 50% atas nama Nadia dan 10% atas nama Adelia.Nadia mempercayakan sahamnya pada Pak Narendra. Meskipun begitu, Pak Narendra tetap memberikan wewenang kepada Bryan untuk mengurus perusahaan. Sebagai CEO, mewakili dirinya selama ini di Petra Jaya.Hingga proses perceraian selesai. Bryan masih berharap keajaiban akan nasib rumah tangganya bersama Nadia. •Siang itu, Pak Narendra bertandang ke Petra Jaya dengan setelan jas rapi warna abu-abu. Ia meminta Pak Alby, papa dari Adelia, mantan

  • SAHAM 50 PERSEN    Awal Bukan Akhir

    Nadia merasa wajahnya merona saat semua orang menatapnya. Aktivitas panas yang barusan terjadi membuat mereka lumayan terlambat. Meskipun tidak ada yang mengucapkan komentar mengenai keterlambatan itu, Nadia merasa semua orang seakan tahu apa yang terjadi. Benar-benar memalukan.Tak lama kemudian, Bryan menyusul di belakangnya. Bu Sinta menyuruh dua orang itu, menuju meja makan. Bryan berjalan sambil merangkul pinggang Nadia. Tubuh Nadia menegang. Ia tahu, seharusnya Bryan tidak bersikap seperti itu di depan keluarganya, memperlihatkan seolah-olah mereka baik-baik saja. Padahal sidang perceraian masih berjalan.Nadia sadar, semua berharap dirinya mencabut gugatan. Hingga tidak perlu ada perceraian antara dirinya dan Bryan.“Duduk di sini, Sayang,” ujar Bryan sambil menarik kursi untuk Nadia, lalu duduk di sebelahnya.Nadia menerima perlakuan itu dengan canggung, "terima kasih, Yan." Keduanya segera menikmati hidangan yang disuguhkan di meja makan rumah Devan.Setelah dirasa cukup keny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status