Ciuman brutal itu kembali menyerang Maira. Liur menetes dari sudut bibir mereka, mengalir ke dagu Maira, lalu ke lehernya dengan rasa panas, lengket. Maira hanya bisa mengerang di dalam ciuman itu, suaranya terendam, tercekat, terputus setiap kali Wisnutama menarik napas sebentar sebelum kembali menyerbu.“Mmmph!”Jari Wisnutama menjerat rambut gadis itu erat-erat, menarik sedikit hingga kepala Maira terpaksa menengadah, memberi akses penuh. Tangan satunya dengan dua jarinya masih di dalam tubuh Maira bergerak semakin cepat sekarang.Keluar-masuk, keluar-masuk hingga menimbulkan bunyi antar kulit, bercampur dengan napas tersengal Maira dan geraman rendah Wisnutama di dalam ciuman.“Nghh!”“Ahhh... Pak,” tubuh Maira sudah tak lagi patuh pada akal sehatnya.Pinggulnya bergerak sendiri, menyambut setiap tusukan jari itu, mencari lebih dalam, lebih cepat.“Kamu cantik sekali saat tak berdaya seperti ini,” bisiknya serak, suaranya bergetar karena hasrat.Pria itu melengkungkan jari di dala
Última atualização : 2025-12-28 Ler mais