Maira membeku. Tubuh Wisnutama yang tinggi besar kini menjebaknya di antara rak buku dan tubuh pria. Jarak mereka begitu dekat hingga Maira bisa merasakan hembusan napas hangat Wisnutama menyapu bibirnya.“Pak, ini,” gumam Maira, suaranya pecah, tangannya refleks terangkat untuk mendorong dada Wisnutama, tapi jemarinya malah menempel di sana, “kita... di ruang arsip, orang bisa masuk.”“Kamu takut?” bisiknya serak dengan ibu jarinya naik pelan, menyusuri garis rahang Maira, menyentuh bibir bawahnya yang gemetar, “atau kamu takut karena kamu tahu... tubuhmu bereaksi berlebihan.”Maira menggeleng cepat, pipinya memanas, telinganya panas, tapi matanya tak bisa lepas dari bibir Wisnutama yang dikelilingi jambang hitam tipis yang terawat, membuatnya penasaran sejak pagi tadi, bayangan rasanya.“Saya... benci cara Bapak berbicara seperti ini,” desahnya lirih, suaranya campur marah dan desahan tak sengaja, napasnya tersengal pendek. “Bapak mentor saya. Ini salah besar, Pak. Saya... saya belu
Last Updated : 2025-12-23 Read more