“Ayah, Kakak, aku sudah datang ke depan pintu kalian hanya untuk dipukul.” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuat Lin Chuan dan Lin Yao gemetar hebat. Jantung mereka berdebar kencang. Lin Chuan tiba-tiba berdiri dan berteriak, “Tian?” “Ayah, putramu yang durhaka ini sudah bertahun-tahun tidak kembali menemuimu.” Suara itu terdengar lagi. Seketika, dua sosok muncul begitu saja di hadapan Lin Chuan. Melihat mereka, tubuh Lin Chuan dan Lin Yao semakin bergetar. Lin Chuan tertawa terbahak-bahak, matanya memerah. Dengan tubuh gemetar, ia melangkah maju dan meletakkan kedua tangannya di bahu Lin Tian. Tangannya sedikit bergetar. Ia menepuk bahu Lin Tian dengan keras sambil berkata, “Bagus, bagus. Bagus kau kembali...” “Ayah.” Lin Tian memeluk Lin Chuan, tetapi Lin Chuan menepuk punggungnya dengan keras. Ayah dan anak itu berpisah. Lin Tian menatap Lin Yao. Ia melihat mata Lin Yao memerah dan air mata mengalir di wajahnya. Ia menyeka air matanya dengan tangan. Lin Tian mem
Baca selengkapnya