Pagi datang tanpa membawa harapan.Cahaya matahari merayap masuk lewat celah gorden, menyilaukan mataku yang masih perih.Aku terbangun dengan dada terasa sesak, seolah ada beban berat yang menindih napasku sejak semalam dan tak pernah benar-benar pergi.Kepalaku berdenyut pelan, sakit yang tidak seberapa, tapi cukup untuk membuatku ingin kembali menutup mata dan menghilang dari dunia.Tidurku semalam bahkan tak layak disebut tidur. Hanya dua atau tiga jam, terputus-putus, dipenuhi mimpi buruk yang terasa lebih nyata daripada kenyataan.Aku bermimpi tentang Kiara.Dalam mimpi itu, ia berdiri membelakangiku, rambutnya tergerai, sosoknya begitu dekat tapi terasa mustahil untuk kugapai.Setiap kali aku melangkah mendekat, jarak di antara kami justru semakin melebar.Aku memanggil namanya, berulang kali, hingga suaraku serak. Kiara menoleh, sebentar saja, tatapannya kosong, dingin, seolah aku hanyalah orang asing yang kebetulan lewat dalam hidupnya.Lalu mimpi itu berubah.Bu Siska muncul
Read more