Plak!Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Kiara menamparku dengan sekuat tenaga.Rasa panas menjalar seketika, meninggalkan denyut perih yang menjalar hingga ke rahang.Namun, sengatan fisik itu tak ada apa-apanya dibanding tatapan matanya. Tatapan yang biasanya penuh binar hangat, kini redup dan basah oleh kekecewaan yang teramat dalam."Aku benci kamu," bisiknya dengan suara penuh luka. "Aku benci kamu, Radit."Setiap kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat tepat di ulu hati. Aku berdiri terpaku, lidahku kelu. Aku ingin merengkuhnya, menghapus air mata yang terus membanjiri pipinya, tapi tanganku terasa seberat timah."Kiara..." suaraku tercekat di tenggorokan, hampir tak terdengar di antara isak tangisnya yang tertahan. "Maafin aku... aku mohon, dengerin dulu..."Tanpa satu kata pun lagi, Kiara berbalik. Ia berlari menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera melarikan diri dari keberadaanku yang kini dianggapnya racun. Sedetik kemudian, suara dentum
最終更新日 : 2026-01-17 続きを読む