"Halo, Nindy. Ini aku, Malia.""Malia, ada apa?"Dari seberang telepon terdengar suara Nindy yang lemah dan tak bersemangat. Sejak hubungannya dengan Ray semakin renggang, dia jadi tidak berenergi melakukan apa pun."Hari ini aku ketemu Ray. Gara-gara dia, aku bukan cuma dipukul Bos, tapi juga kehilangan pekerjaan! Bisa keluar ketemu sebentar nggak, Nindy?"Wajah Malia penuh amarah dan sorot matanya dipenuhi kebencian."Dia sampai bisa bikin bosmu mukul dan memecat kamu? Heh, benar-benar sudah berubah ya ...." Nindy tertawa getir, lalu bergumam, "Salahku ... salahku ... lima tahun aku menikah dengannya, tapi aku nggak pernah sadar dia punya kemampuan sebesar itu.""Nindy, kamu ngomong apa, sih?"Malia langsung merasa tidak terima, lalu berkata, "Aku nggak percaya orang seperti Ray yang nggak berguna itu punya kemampuan hebat.""Sudahlah, susah dijelaskan di telepon. Kita ketemu saja."Setelah telepon ditutup, Nindy yang terus didesak oleh Malia akhirnya keluar juga.Mereka janjian bert
Ler mais