Di depan restoran, kini hanya tersisa aku dan Gisela.Aku menatapnya. Berbalut pakaian putih, secantik bidadari. Kemudian, aku bertanya, "Nona, katanya kamu dokter hebat, biaya pengobatan pasti nggak murah ya?"Begitu kata-kataku terlontar, dia melirikku. Alisnya sedikit berkerut, suaranya tetap dingin. "Kamu mau bayar aku?""Memangnya nggak boleh?" Aku langsung membelalak dengan kaget. "Masa dokter hebat menyelamatkan orang nggak minta uang? Mau minta saham atau emas ya?""Maaf, Cantik, aku belum punya itu. Perusahaanku baru berdiri hari ini, bahkan belum go public!""Kamu ...." Gisela terdiam sejenak, hanya bisa menatapku tajam, lalu melangkah mendekat hingga hampir menempel padaku.Aku bahkan bisa mencium aroma samar dari tubuhnya. Seperti kayu, juga seperti obat herbal ...."Ray, kamu terus memanggilku 'cantik', kamu lupa siapa aku? Kamu nggak ingat aku?" Ketika kalimat terakhir itu keluar, di matanya sudah jelas terlihat kekecewaan.Melihat tatapannya, hatiku langsung bergetar. Bi
อ่านเพิ่มเติม