Pagi itu terasa terlalu cerah untuk hari yang seharusnya tenang. Aku berdiri di depan cermin, merapikan rambut dengan tangan yang sedikit gemetar. Sejak pertemuan di kafe kemarin, perasaanku tidak benar-benar turun. Seolah ada bayangan yang mengikuti dari sudut pandang mata, lalu menghilang ketika kutoleh. Ravindra menungguku di ruang tamu. Ia mengenakan kemeja gelap dan jaket tipis. Tidak formal, tapi siap. Cara berdirinya tegak, waspada membuatku sadar betapa berbeda hari-hari kami sekarang. “Kita langsung ke sana,” katanya. “Tidak mampir.” Aku mengangguk. Di mobil, ia mengemudi tanpa banyak bicara. Jalanan pagi cukup padat. Aku menatap keluar jendela, menghitung napas, mencoba menenangkan degup jantung. “Kamu tidur?” tanyanya singkat. “Sebentar,” jawabku. “Kamu?” “Tidak,” katanya jujur. Kami berhenti di lampu merah. Aku melihat bayangan mobil hitam di kaca spion, terlalu dekat, terlalu lama. Saat lampu hijau, mobil itu ikut melaju. “Ravindra,” kataku pelan.
Terakhir Diperbarui : 2025-12-18 Baca selengkapnya