로그인Demi menyelamatkan anaknya yang sakit, Alena menerima tawaran gila dari seorang CEO dingin: menjadi istri kontrak selama enam bulan. Masalahnya, pria itu adalah mantan kekasih yang meninggalkannya lima tahun lalu dan ayah kandung dari anak yang selama ini ia sembunyikan. Ia tidak mengenalinya. Ia tidak tahu masa lalu. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh anak itu adalah miliknya. Pernikahan palsu ini penuh aturan. Tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh menyentuh masa lalu. Namun, setiap hari bersama justru membuat rahasia itu semakin sulit disembunyikan. Apa yang terjadi jika CEO dingin itu tahu… seluruh pernikahan ini dibangun di atas kebohongan terbesar?
더 보기Kedatangan Keluarga Mantan
Aku duduk menghadap suami istri yang duduk berdampingan. Sang suami menegakkan tubuhnya di atas sofa ruang tamuku. Matanya berkali-kali mengalihkan pandangannya denganku saat kami bertatapan tanpa sengaja. Tangan sang istri bergelayut di lengan suaminya, menegaskan dengan kuat posisinya saat ini.
Wanita itu dengan begitu jelas menampakkan wajah tak sukanya padaku. Matanya melirik dengan pandangan sinis sekaligus merendahkanku. Beberapa kali dia mengeratkan jemari lentikknya pada lengan Sang suami. Aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya yang seperti ketakutan kehilangan laki-laki di sampingnya.
Sedangkan dua orang lagi, sepasang suami istri lanjut usia masing-masing duduk di kursi single di kanan dan kiriku. Sama dengan pasangan sebelumnya, tak ada raut ramah sama sekali dari air mukanya. Aneh, padahal merekalah yang datang sendiri kemari tanpa kuundanh. Bahkan jika aku mau, sudah kuusir kedua pasang manusia yang sudah menorehkan luka begitu dalam di dalam hatiku. Tetapi aku menahan diri, aku ingin tahu keajaiban apa yang membawa mereka datang kemari.
Kuangkat daguku, mengabaikan dentuman detak jantung dan emosi yang tertahan. Aku tak bisa membiarkan emosi membuatku lepas kendali dan kalah dengan permainan ini.
" Bagaimana kabar anak-anakmu, Vin?" tanya Pak Tanu, mantan mertuaku. Rambutnya hampir keseluruhan memutih, berbeda dengan tiga tahun lalu, saat terakhir bertemu dengannya. Suara baritonnya sama angkernya dengan bertahun yang lalu. Hanya saja mentalku sudah lain, aku tak serapuh dulu saat masih menjadi menantunya.
"Sehat, Alhamdulillah." Aku menjawab datar. Bahkan aku tak ingin memanggilnya dengan sebutan 'pak'. Kudengar dia berdehem. Mungkin dia tak suka dengan nada suaraku. Mana aku peduli! Kulihat mantan ibu mertuaku meremas tas yang dari tadi berada di pangkuannya. Entah kalimat apalagi yang akan dia lontarkan untuk mencairkan sebongkah hati yang sudah beku di dalam dadaku.
Sedangkan pria di depanku, yang tiga tahun lalu menjatuhkan talak dan mengusirku beserta tiga anaknya, hanya tertunduk saat tatapan mataku menghujam manik matanya. Tak ada kesombongan yang terlihat dari sana. Tentu kontras dengan sikapnya dulu. Aku masih ingat matanya menyala-nyala seolah ada bara api kebencian disertai kalimat kasar yang dia lontarkan padaku tanpa ampun.
"Dimana mereka sekarang?" tanya mantan mertuaku lagi.
"Adek tidur di kamar. Dua kakaknya sedang ikut les di bimbel, " jawabku lantang tak ada keraguan sama sekali.
"Kamu biarkan Zoya sendirian di kamar? Bukankah tadi waktu kami datang kamu sedang berada di dapur?" Pertanyaan Ibu mertua terdengar ingin mengulitiku. Matanya terlihat puas mempermalukanku. Seolah aku ibu yang payah, membiarkan anaknya yang berusia tiga tahun tidur sendirian di dalam kamar. Dia belum tahu serangan apa yang kusiapkan untuk menjawab kalimatnya.
"Siapa bilang sendirian? Sudah kuminta pengasuh untuk menjaganya." Sengaja kutekan kata 'pengasuh' kali ini. Kata yang hampir tak mungkin dikeluarkan saat aku masih menjadi menantunya dahulu.
Kulihat wajah-wajah tegang mereka. Entah hanya perasaanku atau memang nyatanya seperti itu, aku melihat rona wajah kecewa setelah aku menjawab demikian. Memang benar, aku meminta Mbak Yuli—pengasuh Zoya—untuk menjaga anak bungsuku itu. Tak ada kebohongan dalam kalimatku. Hanya saja mereka yang seolah tak siap dengan jawaban yang kulontarkan.
" Jam berapa Zayn dan Ziyan pulang dari les? " Laki-laki pecundang di depanku akhirnya bersuara. Kulihat sang istri meremas lengan suaminya, seolah tak setuju dengan kalimat yang dikeluarkannya. Aku hampir terkekeh melihat kecemburuan yang mudah sekali terlihat dari mata cantik wanita itu.
"Sebentar lagi. Sudah kuminta tantenya untuk menjemput, " jawabku singkat dengan menatap sekilas ke arahnya. Lagi-lagi mata itu mengalihkan pandangannya. Kali ini aku tak tahan menyunggingkan senyum sinis untuknya.
" Tiga tahun tak bertemu, sepertinya banyak perubahan pada dirimu, Vin. Belum juga berniat menikah? " Mantan Ibu mertuaku bertanya. Wanita yang dulu begitu kuhormati dan kuperlakukan selayaknya ibu kandung itu bertanya lagi. Nada suaranya seperti mengejekku yang belum juga menikah selepas bercerai dari anak kesayangannya.
" Belum. Fokusku membesarkan anak-anak dengan baik."
" Menikahlah, Vin. Anak-anak membutuhkan sosok ayah dalam kehidupan mereka. Jangan larut dengan kesedihan seperti ini. Kamu masih muda, masih banyak laki-laki …."
" Memangnya ada, laki-laki yang mau dengan janda beranak tiga?" tanyaku memancing emosi mereka. Kuingatkan kembali kalimat yang dulu pernah mereka ucapkan saat mengusir kami dari rumah.
" Bukankah semua laki-laki dan keluarganya kebanyakan mencari gadis yang memiliki karir? Lagi pula anak-anakku sudah terbiasa hidup dengan ibunya saja, bahkan jauh sebelum orangtuanya bercerai mereka sudah tak punya ayah. Ayah mereka sibuk dengan pekerjaan … dan urusan lainnya."
Kuberi tekanan lebih saat mengucapkan kalimat terakhir. Mereka semua tertunduk, kecuali wanita di depanku. Soraya menatapku penuh kebencian. Aku tak gentar, lagi pula aku tak pernah melakukan kesalahan sedikit pun padanya. Bahkan dialah wanita mengerikan yang sudah masuk dan memporak-porandakan kehidupan keluargaku.
Kenanganku dengannya berkelebat di kepalaku. Tiga tahun yang lalu aku nekat menemuinya di sekolah tempat dia bekerja. Bahkan aku menggendong Zoya yang seharusnya tertidur nyaman di kasurnya yang hangat. Saat itu aku berharap dia mengasihiku dan mau memutuskan hubungannya dengan Mas Galih—suamiku.
"Tentu saja. Mas Galih dan keluarganya mendambakan istri dan menantu sepertiku. Wanita karir lebih menjamin kehidupan rumah tangga ke depannya dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang tidak memiliki kemandirian finansial. Jangan salahkan orang lain, salahkan dirimu yang tak memiliki apapun untuk dibanggakan."
Soraya mengangkat dahunya tinggi. Bibir berwarna mirabela berpadu cantik dengan wajahnya yang putih berseri. Rambutnya digerai begitu indah yang membuatnya sangat mirip dengan model papan atas.
Perkataan Soraya membuatku tergelitik. Kutarik sudut bibirku, membuat senyuman yang tidak simetris.
" Wah … Ibu juga dulu hanya ibu rumah tangga kan, Bu? Berarti kehidupan Ibu dan Bapak dulu juga tidak terjamin? Serba kekurangan tepatnya … "
Kutatap wajah kedua mantan mertuaku bergantian. Rahang Pak Tanu mengeras, matanya nyalang menatapku. Begitu pun istrinya, kulihat jarinya bertaut satu sama lain. Sementara Soraya memandangku penuh amarah. Kalimatnya berhasil kukembalikan, hingga justru memukul wajahnya sendiri. Sang suami membelai punggung tangannya dengan lembut. Perlakukan yang dulu hanya kuterima di awal-awal pernikahan.
Suara gawaiku berbunyi. Sebuah panggilan dari Tania, adikku perempuanku satu-satunya.
"Mbak. Kembar pengin main timezone dulu, boleh nggak, nih?" tanya adikku setelah aku menjawab salam darinya. Kuyakin mereka yang duduk disana mendengar kalimat yang diucapkan Tania. Buktinya wajah mereka berubah lebih keruh.
" Boleh. Maksimal satu jam, jangan lebih. Ingatkan mereka jam lima nanti guru ngajinya datang ke rumah. Jangan sampai ustadzah menunggu," jawabku. Panggilan dimatikan oleh Tania. Kudengar lamat-lamat Zayn dan Ziyan berteriak kegirangan setelah keinginan mereka dikabulkan. Aku tersenyum membayangkan tingkah kedua anak kembarku. Pasti mereka tak menyangka aku mengizinkan mereka bermain tanpa pulang terlebih dahulu.
"Loh, kok mereka diijinkan main timezone? Padahal kami ingin mengajaknya jalan-jalan, kenapa malah tidak langsung pulang?" protes Bu Mirna, mantan mertuaku. Aku balas memandang wajahnya yang memang tak pernah menyukaiku dari awal pernikahan.
" Loh, siapa yang mengijinkan kembarku ikut kalian? Lagi pula … kalian yakin sekali mereka mau ikut orang asing." Ja
" Kami bukan orang asing! Kami keluarganya! Jangan mencoba memisahkan anak dari ayahnya!" ucap mantan suamiku setengah berteriak. Aku berusaha menetralisir debaran jantung yang berdetak makin cepat seiring emosi yang mulai naik.
Sejak kapan dia ingat bahwa dirinya adalah seorang ayah?
" Kalau kalian bukan orang asing, mengapa dengan teganya mengusir kami berempat dari tempat tinggal kami, padahal waktu itu sudah malam."Aku menjeda kalimatku dengan sekali tarikan napas. Kutatap mereka satu persatu dengan dengan emosi yang kutekan sekuat tenaga.
"Dan kau, Mas. Hal apa yang membuatmu tiba-tiba ingat dirimu adalah seorang ayah? Dan sejak kapan?"
***
Kutatap kepergian mereka satu per satu dari ruang tamu. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka. Setelah menunggu lama Zayn dan Ziyan dari bermain timezone, nyatanya hanya kekecewaan yang mereka dapatkan.
Tak ada sambutan penuh haru biru layaknya ayah bertemu anak yang bertahun-tahun terpisah. Tak ada pelukan hangat dari Sang cucu pada kakek neneknya yang mungkin baru ingat ada darah dagingnya disini. Hanya kekecewaan karena anakku bahkan menampakkan wajah pias saat melihat tamu-tamu itu duduk rapi di sofa rumahku.
Kedua anak kembarku yang saat ini berusia delapan tahun kupaksa bersalaman dengan mereka. Tadinya mereka hanya menampakkan wajah kaget dengan orang-orang itu tanpa mau beranjak dari tempatnya berdiri.
Sedangkan Zoya, dia hanya menangis kencang saat Mas Galih berusaha menggendongnya. Aku tak bisa memaksa, karena Zoya bahkan hanya merasakan dekapan ayahnya kurang dari tiga bulan. Itu pun sangat jarang, mengingat ayahnya saat itu sibuk dengan Soraya—selingkuhannya.
"Jangan racuni anakmu untuk membenci ayahnya. Bagaimanapun Galih adalah ayah kandung mereka," ujar Bu Mirna dengan wajah kesal. Dia yang ingin menggendong Zoya bahkan tak sempat menyentuh kulit bungsuku. Saat Mas Galih tak bisa menenangkan Zoya barang sedetik pun, kuminta dengan segera Mbak Yuli mengambil alih anakku. Zoya mendekap erat tubuh pengasuhnya seolah tengah terlepas dari bahaya yang mengancamnya.
Bagus, penolakan itu sudah pasti melukai harga diri mereka hingga tak berharga sama sekali. Aku tak bisa memaksa anak-anakku untuk menerima mereka, sedangkan orang-orang dewasa itulah yang dulu sudah menolaknya mentah-mentah.
"Anakku punya ingatan, Bu. Mereka tentu tak akan lupa pernah melihat bagaimana ayah mereka memperlakukan ibunya. Bagaimana kakek neneknya bahkan tak punya perasaan sama sekali pada anak sekecil mereka. Jangan merasa menjadi pihak yang tersakiti disini, Bu. Nada suaramu terdengar kau begitu didzolimi. Justru itu lucu sekali.
Kalau Zoya, barangkali memang dia benar-benar asing dengan ayahnya. Maklum Bu, sejak lahir Zoya hanya mengenal ibunya. Mas Galih bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali dia menggendong Zoya," jawabku menohok.
Puas sekali kukuliti mereka satu per satu. Laki-laki yang pernah menyandang gelar suamiku selama hampir enam tahun itu hanya menunduk mendengar penuturanku. Tangannya mengepal rapat, kurasa perkataanku cukup membuatnya tersudut. Tetapi dia bisa menyangkalnya, karena memang kenyataannya sama dengan yang kuucapkan.
"Mohon maaf, sebentar lagi guru ngaji kembar akan datang. Aku harus mempersiapkan baju mereka. Jika ada hal penting lainnya, kalian bisa tunggu mereka disini. Mungkin saja setelah mengaji pikiran mereka jauh lebih fresh dan bisa menerima kunjungan mendadak dari keluarga ayahnya. Tidak lama, menjelang maghrib mereka selesai."
Kurasa mereka paham dengan kalimat pengusiranku kali ini. Buktinya tak lama mereka berdiri, diawali oleh mantan ayah mertuaku. Disusul Mas Galih dan dua orang lainnya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Bahkan kalimat pamitan pun tak keluar sama sekali dari mulut orang-orang berpendidikan itu.
Kuikuti mereka sampai pintu rumahku. Kututup pintu dengan gerakan cepat hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Tak peduli lagi soal sopan santun yang selalu kukatakan pada kedua anakku. Mereka, Orang-orang tak punya hati itu harus tahu bagaimana rasanya terusir.
Malam itu, kediaman Mahesa yang kembali tenang ternyata hanya ilusi sementara. Dua hari kemudian, Ravindra dan Alena sedang duduk di ruang keluarga saat Krisna masuk dengan wajah tegang. Di tangannya ada map dokumen tebal yang baru saja dikirim dari kantor pengacara pusat kota. “Tuan, ini faks yang masuk malam itu. Rencana B Nyonya Widya… sudah aktif.” Ravindra membuka map itu. Isinya surat pernyataan resmi yang ditandatangani Widya jauh sebelum penangkapannya. Dokumen itu mengalihkan 40% saham Mahesa Group kepada Arjuna Wicaksana — saingan bisnis terbesar keluarga yang selama ini diam-diam menjadi sekutu Widya. Selain itu, ada bukti transfer dana rahasia yang menyiratkan Widya telah membocorkan rahasia perusahaan ke Arjuna selama bertahun-tahun. Di lampiran terakhir, sebuah catatan tulisan tangan Widya yang dingin: “Jika aku jatuh, Mahesa akan ikut runtuh bersamaku. Arjuna akan menyelesaikan apa yang kubangun. Selamat tinggal, Putraku.” Alena memegang perutnya yang sudah semaki
Suasana kediaman Mahesa berubah mencekam sejak fajar menyingsing. Para pelayan bekerja dalam diam, seolah-olah suara gesekan kain pel di lantai marmer adalah sebuah dosa besar. Ravindra telah menyulap sayap kanan rumah menjadi unit perawatan intensif yang privat namun terlihat "menyedihkan" bagi mata yang tidak terlatih. Cahaya matahari dihalangi oleh tirai beludru tebal, hanya menyisakan keremangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Alena berbaring. Wajahnya dipulas dengan bedak berwarna porselen pucat, dengan sedikit rona ungu di bawah mata untuk menciptakan kesan kelelahan yang kronis. Adrian berdiri di sampingnya, memeriksa monitor jantung yang telah dimodifikasi frekuensinya agar terdengar tidak teratur. "Detak jantungmu stabil, Alena. Tapi ingat, saat dia masuk nanti, kau harus mengatur napasmu agar terlihat sesak," bisik Adrian. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan selimut Alena. "Aku mempertaruhkan seluruh karier dan nyawaku di sini." Alena meraih tangan Adrian, me
Kecurigaan Ravindra bukanlah sekadar bumbu cemburu buta. Sebagai seorang pria yang membangun imperium bisnis dari reruntuhan intrik, ia memiliki insting yang tajam terhadap sesuatu yang terasa "terlalu sempurna". Kedatangan dr. Adrian di saat kritis, keahliannya yang luar biasa, hingga sejarah masa lalunya dengan Alena, semuanya terasa seperti potongan puzzle yang sengaja diletakkan oleh tangan yang tak terlihat. Malam itu, di saat Alena sedang tertidur lelap di bawah pengawasan ketat perawat, Ravindra memanggil Krisna ke ruang kerjanya di kediaman Mahesa. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu meja, menciptakan bayangan panjang yang menambah kesan dingin. "Sudah ketemu?" tanya Ravindra tanpa basa-basi. Krisna meletakkan sebuah map tebal di meja. "Sudah, Tuan. Hasil penyelidikan tim intelijen kita di Jerman menunjukkan hal yang janggal. Riset fetomaternal dr. Adrian selama tiga tahun terakhir dibiayai oleh sebuah yayasan medis bernama Aurora Foundation. Yayasan itu tidak pern
Keadaan Alena yang sempat kritis memaksa Ravindra untuk mencari bantuan medis terbaik di negeri ini. Melalui koneksi pribadinya, ia berhasil mendatangkan seorang dokter spesialis konsultan fetomaternal yang baru saja menyelesaikan riset panjangnya di Jerman. Dokter tersebut dikenal sebagai "tangan dingin" dalam menangani kehamilan berisiko tinggi. Namun, Ravindra tidak pernah menyangka bahwa malaikat penyelamat yang ia panggil justru akan menjadi duri baru dalam ketenangan jiwanya. Pagi itu, pintu ruang perawatan intensif terbuka. Seorang pria jangkung dengan jas putih yang sangat rapi masuk. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun dibalut dengan keramahan yang tenang. Matanya yang cerdas berbinar saat menatap papan informasi medis di ujung ranjang Alena. "Alena?" suara pria itu lembut, namun memiliki nada akrab yang membuat Ravindra, yang sedang duduk di samping ranjang, langsung menegakkan punggungnya. Alena yang baru saja terbangun, mengerjapkan matanya. "Adrian? Ka
Pagi itu terasa terlalu terang. Cahaya matahari menembus tirai tanpa izin, seolah ingin membuka semua hal yang seharusnya tetap tersembunyi. Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai marmer yang dingin, mencoba menyusun napas agar terdengar normal. Rumah ini kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai teras. Ravindra masih bersandar di pagar, satu tangan menggenggam gelas anggur yang hampir kosong. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk mendekat, ragu untuk pergi. “Aku j
Mobil berhenti tepat di depan rumah utama keluarga Ravindra. Bangunannya megah, lebih menyerupai vila tua daripada rumah tinggal. Lampu-lampu taman menyala lembut, tapi tidak ada kesan hangat di sana. Justru terasa dingin. Resmi. Seperti tempat di mana setiap kesalahan kecil akan terlihat jelas.
Aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah tirai tipis, membentuk garis lembut di dinding kamar. Udara terasa tenang, terlalu tenang, seolah rumah ini sedang menahan napas bersamaku. Aku menatap langit-langit cukup lama sebelum akhirnya bangkit, mencoba menyin






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.