LOGINDemi menyelamatkan anaknya yang sakit, Alena menerima tawaran gila dari seorang CEO dingin: menjadi istri kontrak selama enam bulan. Masalahnya, pria itu adalah mantan kekasih yang meninggalkannya lima tahun lalu dan ayah kandung dari anak yang selama ini ia sembunyikan. Ia tidak mengenalinya. Ia tidak tahu masa lalu. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh anak itu adalah miliknya. Pernikahan palsu ini penuh aturan. Tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh menyentuh masa lalu. Namun, setiap hari bersama justru membuat rahasia itu semakin sulit disembunyikan. Apa yang terjadi jika CEO dingin itu tahu… seluruh pernikahan ini dibangun di atas kebohongan terbesar?
View MoreRachel sat on the examination bed with her fingers twisting the edge of her purse, trying to ignore the sound of her heartbeat thudding inside her ears.
Across from her, Dr. Halden flipped through her medical file, his brow slowly creasing the deeper he read. “Mrs. Voss,” he began with a sigh that already felt like bad news. Rachel lifted her eyes, forcing a smile that barely reached her eyes. “It's okay, you can tell me.” The doctor hesitated. That alone made her stomach twist in an unusual way. She had been coming for tests for months, chasing the answer to the nagging pain in her lower abdomen, the bleeding. “You've been coming here for months,” he said gently. “We've run multiple scans, blood tests, tissue samples. I wanted to be absolutely sure before speaking to you.” Her throat tightened, “Doctor…please.” He nodded slowly, “The abnormal cells we observed earlier have progressed. You have early stage cervical cancer.” Rachel blinked, her fingers tightening around her purse. “You mean cancer?” Dr. Halden nodded slowly, adjusting his glasses to the bridge of his nose. “Yes, it's in its early stage, that's the good news.” “Is…is that why I can't conceive?” Rachel asked softly. “Yes,” He confirmed, setting her file aside, “your infertility was not a simple hormonal imbalance. The cancer has been developing for some time. As I said earlier the treatment is still time sensitive.” Those words stung. The word ‘Infertile’ had already shattered the joy in her blissful marriage but she held onto one thing which was hope. But it turns out that hope wasn't there for her anymore. Bryce, her beloved husband had already become so distant and disappointed, and Evangeline—his mother, was even worse. She despised Rachel from the very first day the doctor announced the complications in her womb. “Will I still be able to have children?” She muttered, her voice barely above a whisper. “No,” Dr. Halden said gently, “I am afraid not. Even with the treatment, it might still be impossible. Unless there is a miracle.” A quiet, strangled breath escaped her. She covered her mouth, afraid it would break into sobs. Dr. Halden watched her carefully, sympathetic but professional. “We will begin treatment immediately, You will survive this.” He assured. Rachel nodded, though she wasn't sure she would ever survive this. Not after almost three years of marriage, destroyed with the news of infertility. She stood up slowly, “please, don't send anything to my husband's office,” she said quietly. “I'll handle it.” Halden frowned. “You can't face this alone.” “I have been facing it alone,”she murmured before she could stop herself. “Please,” He let out a tender smile, “I won't let anyone know, but please, try not to overwork yourself.” She nodded. “Thank you.” Rachel's mind reeled as she walked out of the clinic. ‘Cancer’, the word felt heavy. She climbed into the black limousine that waited for her at the curb. “You okay, Mrs. Voss?” Alton, her driver asked. “Yes,” she forced a smile, “just tired.” As the car pulled away, Rachel leaned her head against the window. She pressed her hands to her abdomen, tears threatening to spill out. Would Bryce care? Of course not. He would act polite— maybe concerned as a husband should be, but there will be no warmth. Evangeline had already manipulated his mind towards Rachel and he was so loyal and complied to every of her words. They had not even slept in the same room for almost a year. Right now, all she wanted was Bryce's arm around her, cuddling her and making her forget the cruelty of life, just this once. Only if it could be possible. On reaching the mansion gate, Rachel immediately composed herself, blinking away the tears that clouded her eyes and sitting upright. She got down from the car and walked inside the mansion slowly, her heels clicking softly against the marble floor. She could hear voices— Bryce's voice and another feminine voice coming from the living room. Bryce was standing in his tall composed manner with his fingers dipped inside his pocket. But standing next to him was a woman— young, beautiful and heavily pregnant. Her hands rested on her round belly. Bryce held the lady with warmth and stared into her eyes, then lowered his head and gave her a peck on the forehead. Rachel gasped. Bryce's head snapped up immediately. “Rachel? What are you doing home so early?” Rachel stared at the woman, then at Bryce and then round the stomach. “Who…Who is she?” Rachel whispered. The woman immediately clung to Bryce's arm with intimate familiarity. Her beauty was impeccable, dark curls spilling over her shoulders and cascading down her back. The woman rubbed her belly proudly, “it's so good to finally see the mansion,” she said sharply, “it would be a very perfect place to raise our son. Right dear?” The words pierced through Rachel like a blade. Son? Who's son? Bryce would never impregnate any woman out of wedlock. It was a rule the Voss family followed. So why would this lady claim to be pregnant for Bryce— her own husband. Bryce stood besides the woman,as though it were normal. His hands now wrapped against the lady's wrist. Rachel felt her lungs tighten, her heart pounding painfully against her ribcage. “Rachel,” Bryce finally said, “We need to talk.” Before Rachel could say a word, another voice boomed from the top of the grand staircase. “Bryce, if you claim Marissa is pregnant with your child, I demand you end this farce immediately. Right now!” Evangeline descended from the stairs. Rachel swallowed hard, “Bryce? Is this child yours?” “Rachel,” Bryce said, “Look—” Rachel clenched her fist, “please Bryce— Just tell me.” “What? Tell you what?” Evangeline cut in sharply, “After everything he has been through? After years of marriage without a child? No heir! No progress!” Rachel closed her eyes tightly, trying to process what was going on. “Bryce, what have you done?” She whispered. Evangeline stirred. “Bryce, I demand you divorce her tonight!”Malam itu, kediaman Mahesa yang kembali tenang ternyata hanya ilusi sementara. Dua hari kemudian, Ravindra dan Alena sedang duduk di ruang keluarga saat Krisna masuk dengan wajah tegang. Di tangannya ada map dokumen tebal yang baru saja dikirim dari kantor pengacara pusat kota. “Tuan, ini faks yang masuk malam itu. Rencana B Nyonya Widya… sudah aktif.” Ravindra membuka map itu. Isinya surat pernyataan resmi yang ditandatangani Widya jauh sebelum penangkapannya. Dokumen itu mengalihkan 40% saham Mahesa Group kepada Arjuna Wicaksana — saingan bisnis terbesar keluarga yang selama ini diam-diam menjadi sekutu Widya. Selain itu, ada bukti transfer dana rahasia yang menyiratkan Widya telah membocorkan rahasia perusahaan ke Arjuna selama bertahun-tahun. Di lampiran terakhir, sebuah catatan tulisan tangan Widya yang dingin: “Jika aku jatuh, Mahesa akan ikut runtuh bersamaku. Arjuna akan menyelesaikan apa yang kubangun. Selamat tinggal, Putraku.” Alena memegang perutnya yang sudah semaki
Suasana kediaman Mahesa berubah mencekam sejak fajar menyingsing. Para pelayan bekerja dalam diam, seolah-olah suara gesekan kain pel di lantai marmer adalah sebuah dosa besar. Ravindra telah menyulap sayap kanan rumah menjadi unit perawatan intensif yang privat namun terlihat "menyedihkan" bagi mata yang tidak terlatih. Cahaya matahari dihalangi oleh tirai beludru tebal, hanya menyisakan keremangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Alena berbaring. Wajahnya dipulas dengan bedak berwarna porselen pucat, dengan sedikit rona ungu di bawah mata untuk menciptakan kesan kelelahan yang kronis. Adrian berdiri di sampingnya, memeriksa monitor jantung yang telah dimodifikasi frekuensinya agar terdengar tidak teratur. "Detak jantungmu stabil, Alena. Tapi ingat, saat dia masuk nanti, kau harus mengatur napasmu agar terlihat sesak," bisik Adrian. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan selimut Alena. "Aku mempertaruhkan seluruh karier dan nyawaku di sini." Alena meraih tangan Adrian, me
Kecurigaan Ravindra bukanlah sekadar bumbu cemburu buta. Sebagai seorang pria yang membangun imperium bisnis dari reruntuhan intrik, ia memiliki insting yang tajam terhadap sesuatu yang terasa "terlalu sempurna". Kedatangan dr. Adrian di saat kritis, keahliannya yang luar biasa, hingga sejarah masa lalunya dengan Alena, semuanya terasa seperti potongan puzzle yang sengaja diletakkan oleh tangan yang tak terlihat. Malam itu, di saat Alena sedang tertidur lelap di bawah pengawasan ketat perawat, Ravindra memanggil Krisna ke ruang kerjanya di kediaman Mahesa. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu meja, menciptakan bayangan panjang yang menambah kesan dingin. "Sudah ketemu?" tanya Ravindra tanpa basa-basi. Krisna meletakkan sebuah map tebal di meja. "Sudah, Tuan. Hasil penyelidikan tim intelijen kita di Jerman menunjukkan hal yang janggal. Riset fetomaternal dr. Adrian selama tiga tahun terakhir dibiayai oleh sebuah yayasan medis bernama Aurora Foundation. Yayasan itu tidak pern
Keadaan Alena yang sempat kritis memaksa Ravindra untuk mencari bantuan medis terbaik di negeri ini. Melalui koneksi pribadinya, ia berhasil mendatangkan seorang dokter spesialis konsultan fetomaternal yang baru saja menyelesaikan riset panjangnya di Jerman. Dokter tersebut dikenal sebagai "tangan dingin" dalam menangani kehamilan berisiko tinggi. Namun, Ravindra tidak pernah menyangka bahwa malaikat penyelamat yang ia panggil justru akan menjadi duri baru dalam ketenangan jiwanya. Pagi itu, pintu ruang perawatan intensif terbuka. Seorang pria jangkung dengan jas putih yang sangat rapi masuk. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun dibalut dengan keramahan yang tenang. Matanya yang cerdas berbinar saat menatap papan informasi medis di ujung ranjang Alena. "Alena?" suara pria itu lembut, namun memiliki nada akrab yang membuat Ravindra, yang sedang duduk di samping ranjang, langsung menegakkan punggungnya. Alena yang baru saja terbangun, mengerjapkan matanya. "Adrian? Ka
Pagi itu terasa terlalu terang. Cahaya matahari menembus tirai tanpa izin, seolah ingin membuka semua hal yang seharusnya tetap tersembunyi. Aku duduk di tepi ranjang, menatap lantai marmer yang dingin, mencoba menyusun napas agar terdengar normal. Rumah ini kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai teras. Ravindra masih bersandar di pagar, satu tangan menggenggam gelas anggur yang hampir kosong. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya, ragu untuk mendekat, ragu untuk pergi. “Aku j
Rumah itu terasa terlalu sunyi.Saat mobil Ravindra berhenti di depan bangunan modern berwarna abu-abu, aku menatapnya sejenak sebelum turun. Lampu taman menyala temaram, memantulkan bayangan pepohonan di dinding kaca yang menjulang. Segalanya terlihat rapi, mahal, dan dingin seperti keh
“Aku butuh istri.”Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir pria di hadapanku, tanpa intonasi, tanpa emosi, seolah yang ia minta hanyalah laporan keuangan, bukan hidup seorang perempuan.Aku terdiam. Suara AC di ruangan luas itu mendadak terdengar terlalu nyaring. Gedung Mahesa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.