LOGINDemi menyelamatkan anaknya yang sakit, Alena menerima tawaran gila dari seorang CEO dingin: menjadi istri kontrak selama enam bulan. Masalahnya, pria itu adalah mantan kekasih yang meninggalkannya lima tahun lalu dan ayah kandung dari anak yang selama ini ia sembunyikan. Ia tidak mengenalinya. Ia tidak tahu masa lalu. Dan ia sama sekali tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh anak itu adalah miliknya. Pernikahan palsu ini penuh aturan. Tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh menyentuh masa lalu. Namun, setiap hari bersama justru membuat rahasia itu semakin sulit disembunyikan. Apa yang terjadi jika CEO dingin itu tahu… seluruh pernikahan ini dibangun di atas kebohongan terbesar?
View More“Aku butuh istri.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir pria di hadapanku, tanpa intonasi, tanpa emosi, seolah yang ia minta hanyalah laporan keuangan, bukan hidup seorang perempuan. Aku terdiam. Suara AC di ruangan luas itu mendadak terdengar terlalu nyaring. Gedung Mahesa Group menjulang tinggi dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya sore, tapi tubuhku terasa dingin, seperti ada sesuatu yang perlahan merambat naik dari kakiku. “Maaf?” tanyaku, memastikan aku tidak salah dengar. Pria itu 'Ravindra Mahesa' duduk tegak di balik meja kerjanya. Jas hitamnya rapi sempurna, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan sorot mata yang dingin, terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja melontarkan permintaan gila. “Aku butuh istri,” ulangnya tenang. “Dan aku pikir kamu cocok.” Kata cocok itu membuat dadaku sesak. Aku bahkan tidak tahu harus menertawakan atau tersinggung. Aku datang ke sini untuk melamar pekerjaan sebagai asisten sementara. Bukan untuk ditawari pernikahan. Ia meraih sebuah map cokelat dari sisi meja dan mendorongnya ke arahku. Gerakannya tenang, terukur, seolah semua ini sudah ia rencanakan jauh sebelum aku masuk ke ruangan ini. “Pernikahan kontrak,” katanya. “Enam bulan.” Aku ragu, tapi tetap membuka map itu. Mataku langsung tertuju pada deretan angka yang tercetak rapi. Dan napasku tercekat. Seratus lima puluh juta rupiah per bulan. Aku menelan ludah. Tanganku gemetar, meski aku berusaha menyembunyikannya. Jumlah itu terlalu besar. Terlalu mustahil. Terlalu… tepat. Uang sebanyak itu cukup untuk melunasi biaya rumah sakit yang terus menumpuk. Cukup untuk operasi. Cukup untuk membeli waktu, sesuatu yang selama ini tidak kumiliki. “Aku tidak mencari cinta,” lanjut Ravindra, suaranya tetap datar. “Tidak ada kewajiban emosional. Tidak ada hubungan fisik di luar kesepakatan. Kita hanya suami istri di atas kertas dan di depan publik.” Aku mengangkat wajahku. “Kenapa Anda melakukan ini?” Ia menyandarkan tubuh ke kursinya. Tatapannya mengamati wajahku seperti sedang menilai sebuah proposal. “Keluarga menekanku untuk menikah,” jawabnya singkat. “Dan aku butuh seseorang yang tidak akan menuntut apa pun selain uang.” Kalimat itu menusuk. Tapi aku tidak dalam posisi untuk membela harga diriku. “Kenapa saya?” ulangku pelan. Matanya menyipit. “Karena kamu tidak mengenalku. Tidak punya latar belakang mencurigakan. Dan kamu terlihat cukup… terdesak.” Aku menggenggam map itu lebih erat. Ia benar. Aku memang terdesak. Namun yang tidak ia ketahui adalah fakta bahwa aku mengenalnya. Bukan sebagai CEO Mahesa Group. Bukan sebagai pria dingin di balik meja mewah ini. Aku mengenalnya sebagai pria yang lima tahun lalu memelukku di bawah lampu kota, berjanji tidak akan pergi… lalu menghilang keesokan paginya. Dan ia sama sekali tidak mengenaliku. Wajahnya berubah. Rambutnya lebih pendek. Sorot matanya lebih keras. Tapi garis wajah itu, aku tidak mungkin lupa. “Jika Anda setuju,” katanya lagi, “kita akan menikah secara resmi. Tinggal di satu rumah. Tapi semua tetap sesuai kontrak.” Aku menutup map itu perlahan. Detak jantungku terasa terlalu keras di telinga. Anakku muncul di benakku. Wajah kecilnya. Senyumnya yang lemah. Selang infus yang selalu membuatku ingin menangis setiap kali melihatnya. Aku tidak punya banyak pilihan. “Ada satu syarat,” ucapku akhirnya. Ravindra mengangkat alis. “Sebutkan.” Aku mengumpulkan seluruh keberanian yang kupunya. “Jangan pernah bertanya tentang masa laluku.” Ia menatapku lama. Sejenak, aku merasa seolah ia bisa melihat menembus semua kebohonganku. Melihat rahasia yang kusimpan rapat-rapat. Lalu ia mengangguk singkat. “Selama itu tidak mengganggu kontrak, aku tidak peduli.” Pulpen diletakkan di atas meja, tepat di hadapanku. Tanganku gemetar saat mengambilnya. Aku tahu, begitu aku menandatangani ini, tidak ada jalan kembali. Aku akan tinggal bersamanya. Berpura-pura menjadi istrinya. Berbohong setiap hari. Dan yang paling menakutkan Aku akan hidup di dekat pria yang tidak tahu bahwa anak yang setiap malam kupeluk… adalah darah dagingnya sendiri. Ujung pulpen menyentuh kertas. Aku menandatangani namaku. Saat itu juga, aku sadar ini bukan hanya pernikahan kontrak. Ini adalah awal dari kebohongan yang suatu hari akan menuntut kebenaran… dengan harga yang mungkin tidak sanggup kubayar.Suasana kediaman Mahesa berubah mencekam sejak fajar menyingsing. Para pelayan bekerja dalam diam, seolah-olah suara gesekan kain pel di lantai marmer adalah sebuah dosa besar. Ravindra telah menyulap sayap kanan rumah menjadi unit perawatan intensif yang privat namun terlihat "menyedihkan" bagi mata yang tidak terlatih. Cahaya matahari dihalangi oleh tirai beludru tebal, hanya menyisakan keremangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Alena berbaring. Wajahnya dipulas dengan bedak berwarna porselen pucat, dengan sedikit rona ungu di bawah mata untuk menciptakan kesan kelelahan yang kronis. Adrian berdiri di sampingnya, memeriksa monitor jantung yang telah dimodifikasi frekuensinya agar terdengar tidak teratur. "Detak jantungmu stabil, Alena. Tapi ingat, saat dia masuk nanti, kau harus mengatur napasmu agar terlihat sesak," bisik Adrian. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan selimut Alena. "Aku mempertaruhkan seluruh karier dan nyawaku di sini." Alena meraih tangan Adrian, me
Kecurigaan Ravindra bukanlah sekadar bumbu cemburu buta. Sebagai seorang pria yang membangun imperium bisnis dari reruntuhan intrik, ia memiliki insting yang tajam terhadap sesuatu yang terasa "terlalu sempurna". Kedatangan dr. Adrian di saat kritis, keahliannya yang luar biasa, hingga sejarah masa lalunya dengan Alena, semuanya terasa seperti potongan puzzle yang sengaja diletakkan oleh tangan yang tak terlihat. Malam itu, di saat Alena sedang tertidur lelap di bawah pengawasan ketat perawat, Ravindra memanggil Krisna ke ruang kerjanya di kediaman Mahesa. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu meja, menciptakan bayangan panjang yang menambah kesan dingin. "Sudah ketemu?" tanya Ravindra tanpa basa-basi. Krisna meletakkan sebuah map tebal di meja. "Sudah, Tuan. Hasil penyelidikan tim intelijen kita di Jerman menunjukkan hal yang janggal. Riset fetomaternal dr. Adrian selama tiga tahun terakhir dibiayai oleh sebuah yayasan medis bernama Aurora Foundation. Yayasan itu tidak pern
Keadaan Alena yang sempat kritis memaksa Ravindra untuk mencari bantuan medis terbaik di negeri ini. Melalui koneksi pribadinya, ia berhasil mendatangkan seorang dokter spesialis konsultan fetomaternal yang baru saja menyelesaikan riset panjangnya di Jerman. Dokter tersebut dikenal sebagai "tangan dingin" dalam menangani kehamilan berisiko tinggi. Namun, Ravindra tidak pernah menyangka bahwa malaikat penyelamat yang ia panggil justru akan menjadi duri baru dalam ketenangan jiwanya. Pagi itu, pintu ruang perawatan intensif terbuka. Seorang pria jangkung dengan jas putih yang sangat rapi masuk. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun dibalut dengan keramahan yang tenang. Matanya yang cerdas berbinar saat menatap papan informasi medis di ujung ranjang Alena. "Alena?" suara pria itu lembut, namun memiliki nada akrab yang membuat Ravindra, yang sedang duduk di samping ranjang, langsung menegakkan punggungnya. Alena yang baru saja terbangun, mengerjapkan matanya. "Adrian? Ka
Dinding putih rumah sakit terasa seolah menghimpit Ravindra. Bau antiseptik yang tajam menusuk indranya, mengingatkannya pada malam-malam kelam saat Leo berjuang demi nyawanya. Namun kali ini, yang terbaring lemah di balik pintu unit perawatan intensif adalah Alena—pusat semestanya, wanita yang baru saja ia temukan kembali di antara puing-puing rahasia. Dokter spesialis kandungan keluar dengan wajah letih. "Tuan Mahesa, kondisi Nyonya Alena sangat kritis. Tekanan darahnya melonjak drastis akibat stres yang ekstrim—kita menyebutnya preeklampsia dini. Janin dalam kandungannya masih sangat muda, baru memasuki minggu ke-14. Jika Nyonya Alena bergerak sedikit saja atau mengalami tekanan emosional lagi, kita bisa kehilangan keduanya." "Apa yang harus saya lakukan?" suara Ravindra parau, nyaris tak terdengar. "Bed rest total. Setidaknya untuk satu bulan ke depan. Nyonya Alena tidak boleh menyentuh ponsel, tidak boleh mendengar berita kantor, dan tidak boleh memikirkan hal lain selain n






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.