Mata Garry dipenuhi penyesalan. "Maaf... aku memang brengsek. Dulu aku gitu pada dirimu… aku... "Aku tersenyum, merapikan poni yang jatuh, dan menghapus air mata di sudut mata."Nggak apa, semua sudah berlalu. Selama dirawat, aku banyak berpikir. Mungkin kita memang harus saling melepaskan. Kamu lepaskan obsesimu, aku lepaskan masa lalu. Hidup harus terus menatap ke depan," ujarku."Dulu kamu memang menyakitiku, tapi aku juga berterima kasih. Kamu memberiku seorang anak, membuatku kembali punya keluarga," lanjutku.Garry menoleh, dengan canggung berkata, "Mulai sekarang, Keluarga Lukman hanya akan punya satu keturunan ini. Kamu tahu, 'kan?"Aku mengangguk, lalu menegaskan, "Aku nggak akan melarangmu bertemu anak ini, tapi hak asuh harus milikku. Itu nggak bisa kutawar."Dia mengangguk serius, menatapku dan berkata, "Sebenarnya aku juga banyak berpikir. Aku… aku bukan nggak ada perasaan padamu. Kalau nggak, aku nggak akan nekat menyelamatkanmu waktu itu… ""Evina, maukah kamu beri aku
Baca selengkapnya