Undangan anak kecil itu hanyalah secercah alasan rapuh bagi niat orang dewasa yang tidak murni.Kayden menggumam pelan. Suaranya rendah, seksi, serak, juga terdengar sedikit senang.Lampu ruangan ini tidak dinyalakan. Dalam kegelapan, tak terlihat kilau serakah di dasar mata Kayden."Luna, nggak ada yang pernah memberitahumu kalau laki-laki itu bukan orang baik?"Di seluruh dunia, tidak ada satu pun laki-laki yang benar-benar baik. Dirinya juga bukan.Pengakuan yang terus terang itu justru membuat Lunara terdiam. Untungnya, Kayden hanya menatapnya beberapa saat.Kayden mengangkat lengannya, menyalakan lampu di dinding. Kemudian, dia langsung berjalan ke bangku di dalam ruangan dan duduk."Aku maunya seperti ini. Kapan mulai gambar?"Di bagian bawah tubuhnya, sabuk sudah terlepas setengah, longgar, bahkan terlihat tepi celana dalam dan logo mereknya. Garis otot di pinggangnya tampak jelas, bagian atas tubuhnya hanya tersisa satu dasi, dasi yang siang tadi pernah digunakan untuk mengikat
Read more