Kayden membuka laci dan merobek kemasan aluminium obat, lalu menelan loratadin di tangannya."Alergi."Saphira mengakui, saat melihat bekas di leher Kayden, dia sempat mengira putranya akhirnya punya pacar, hanya saja tidak nyaman dibawa pulang.Siapa sangka, ternyata alergi.....Saphira agak kecewa."Kayden, Maeris bilang dia ingin magang di perusahaan. Kamu atur saja.""Suruh dia ikut prosedur. Kalau lolos wawancara, ya silakan."Wajah Saphira langsung tidak senang. Dia tak kuasa mengeluh, "Maeris itu lulusan universitas ternama. Magang di perusahaan sendiri masih harus lewat prosedur segala? Kayden, kamu nggak bisa melonggarkan sedikit?"Kayden mengangkat kelopak mata. "Nggak bisa."Penampilan Maeris tidak buruk, latar belakang keluarganya juga sepadan. Apalagi dia sudah menyukai Kayden selama bertahun-tahun. Lalu, apa yang salah?Saphira menatap Kayden. Semakin dilihat, hatinya semakin tidak tenang. Nada bicaranya pun meninggi,"Kayden, jangan-jangan kamu ... suka laki-laki?"Kayd
Baca selengkapnya