Gigi Florence bergemelatuk keras, suara yang memecah kesunyian malam di pinggiran danau yang gelap. Air yang meresap ke dalam gaunnya terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori kulitnya. Di sekeliling mereka, dunia seolah mati—tidak ada suara serangga, tidak ada kepakan sayap burung, hanya suara napas Duke Cassian yang memburu dan berat."Clarice, lihat aku!" bisik Cassian. Suaranya serak, bergetar menahan dingin yang mulai melumpuhkan sarafnya sendiri.Ia menarik Florence ke dalam pelukannya, berusaha membagi sisa panas tubuh yang kian menipis. Namun, permukaan kulit mereka sama-sama membeku. Langit malam di atas Celah Rocksye begitu bersih, menampakkan bintang-bintang yang bersinar tajam, seolah mengejek mereka yang sedang berjuang di bawah sana."Dingin... Yang Mulia... sangat dingin," gumam Florence lemah. Kesadarannya mulai mengabur, terseret oleh godaan rasa kantuk yang mematikan akibat hipotermia.Duke Cassian mempererat dekapannya, menyandarkan punggungnya pada dind
Última atualização : 2026-01-27 Ler mais