Sudut Pandang Elara:Setelah tiba di Bastin, aku pergi menemui adikku, Luna, terlebih dahulu. Dia terlihat bersinar di kampusnya dan bercerita padaku tentang kelas seni yang diikutinya dengan antusias. Melihatnya hidup dengan begitu bahagia adalah semua yang aku inginkan.Setelah mengucapkan selamat tinggal, aku mencari tempat tinggal baru saat kepalaku kembali terasa pusing. Pandanganku langsung menjadi gelap, lalu aku pingsan. Saat terbangun, aku sudah berada di sebuah ruangan yang aneh. Kepalaku berdenyut, perutku terasa mual, dan tubuhku terasa kosong serta lemah."Kamu sudah sadar."Suara pria yang lembut dengan aksen Irlia yang halus memecah keheningan.Saat menoleh, aku melihat seorang pria tinggi duduk di kursi dekat tempat tidur. Matanya hijau pekat, rambut keritingnya berwarna cokelat, dan wajahnya tampan serta ramah."Siapa kamu? Aku di mana?" tanyaku dengan waspada. Karena tumbuh besar di keluarga mafia, instingku menuntutku untuk selalu waspada di tempat yang asing."Tenan
Read more