Setelah pertunjukan itu, para panitia bersikeras agar aku tetap tinggal untuk makan malam. Aku mencoba menolak, tetapi mereka sangat gigih. Aku mencari sudut yang tenang agar bisa makan dengan cepat dan pergi, tetapi aku bisa merasakan sepasang mata yang menatap tajam punggungku. Tanpa perlu menoleh pun, aku sudah tahu siapa yang menatapku."Dante, malam ini kamu aneh sekali."Dari meja yang tak jauh di sana, aku mendengar suara tajam Ava yang penuh kekesalan. Aku melirik sekilas dan melihat Ava merangkul lengan Dante dengan posesif."Nggak apa-apa," jawab Dante dengan nada datar.Ava membentak, "Benarkah? Jadi, kenapa kamu terus menatap mantan istrimu itu sejak dia naik ke panggung? Apa istimewanya dari dia yang hanya menggesek biola sialan itu?""Ava, jaga mulutmu," kata Dante memperingatkan.Ava meninggikan volume suaranya. "Apa aku salah bicara? Jangan bilang kamu masih punya perasaan padanya. Dante, jangan lupa, dia yang mengajukan cerai. Dia sama sekali nggak pantas menjadi anggo
Read more