Lebih dari setengah jam kemudian, Ryan tiba di tepi Sungai Permata. Pemandangan pertama yang menyambutnya jauh dari yang ia bayangkan. Kerumunan memadati seluruh tepian sungai. Bukan kerumunan biasa yang sekadar jalan pagi atau menikmati udara segar, melainkan orang-orang yang berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, saling berbisik, semua memandang ke arah yang sama. Di atas air, puluhan kapal berlabuh atau bergerak perlahan. Ada kapal yacht kecil yang berjalan ke tengah sungai, speedboat yang mesin dieselnya mendengung rendah, perahu kayu tua yang bergoyang mengikuti arus, bahkan perahu naga dengan ukiran kepala di ujungnya. Dua puluh, mungkin tiga puluh kapal jika dihitung semua. Ryan mengerutkan kening. 'Kenapa sebanyak ini?' Pertanyaan itu belum sempat ia jawab sendiri ketika suara yang sangat ia kenal menghantam telinganya dari arah belakang. "Wah, lihat! Banyak sekali perahu!" Dia berbalik. Dari arah jalan masuk, sekelompok pria dan wanita muda berjalan menuju tepi
Leer más