LOGINRyan Hartono, yang lima tahun lalu diikat dan dilempar ke Sungai Deepwater, tanpa disangka tersedot ke dunia kultivasi melalui Batu Giok misterius. Di Dunia Zhentian, dia menghabiskan lima ribu tahun bertarung melawan iblis dan kultivator, akhirnya mencapai puncak sebagai Kaisar Iblis Gila, gelar yang ditakuti di seluruh dunia kultivasi. Setelah dikhianati dan terlempar kembali melalui retakan dimensi, Ryan kembali ke Bumi, tepatnya Kota Sentralis, negara Garudapolis. Yang mengejutkan, di Bumi baru berlalu lima tahun. Dia menemukan keluarganya dalam kondisi hancur: orang tuanya terlilit utang rentenir 50 juta GDP, dan yang lebih menyakitkan, dia memiliki putri berusia lima tahun bernama Aira Hartono yang menderita leukemia. Elena, pacar Ryan, telah diculik paksa oleh Keluarga Surya, keluarga konglomerat kaya raya tempat Elena berasal. Aira membenci Ryan karena menganggap ayahnya meninggalkan mereka. Sambil mengembalikan kekuatannya, Ryan bertekad menyelesaikan semua masalah: melunasi utang dengan caranya sendiri, menyembuhkan penyakit Aira, merebut kembali Elena dari Keluarga Surya yang arogan, dan membangun kembali keluarga yang hancur. Siapa pun yang berani menyakiti keluarganya akan merasakan murka seorang Kaisar Iblis.
View MoreMalam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam.
Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.
Tiba-tiba, langit meledak.
JEDER!
Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah taman dengan kekuatan yang mengguncang tanah. Cahaya ungu kebiruan memenuhi seluruh area, begitu terang hingga membuat semua lampu taman meledak bersamaan. Tanah di titik sambaran retak membentuk pola seperti jaring laba-laba, dan asap hitam mengepul ke udara.
Ketika cahaya menyilaukan itu memudar, sosok seorang pria berdiri tegak di tengah kawah kecil yang baru terbentuk.
Ryan Hartono.
Pakaiannya compang-camping, robek di berbagai bagian, memperlihatkan luka-luka yang sudah mengering. Rambut hitamnya acak-acakan, wajahnya tertutup debu serta noda darah kering. Namun matanya memancarkan cahaya tajam yang tidak sesuai dengan kondisi fisiknya.
Ryan menghirup udara dalam-dalam. Udara Kota Sentralis yang penuh polusi ini terasa asing namun familiar.
Dia menatap sekeliling. Taman Melati. Pohon-pohon yang sama. Bangku-bangku tua. Bahkan ayunan berkarat di sudut taman masih ada.
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Akhirnya... aku kembali."
Saat berjalan keluar dari kawah, matanya tertangkap oleh tumpukan koran bekas di bangku taman. Dia meraih salah satu lembar dan membaca tanggal di pojok kanan atas.
06 Januari 2026
Tubuh Ryan menegang.
"Lima tahun!"
Tidak ada yang bisa memahami perasaannya saat ini.
Lima tahun yang lalu, dia diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke Sungai Deepwater. Dia mengira pasti akan mati, tetapi siapa sangka di dasar sungai, tangannya menyentuh sebuah batu giok yang bercahaya hijau misterius.
Begitu jari-jarinya menyentuh batu giok itu, cahaya hijau meledak dan tubuhnya menyatu dengan batu giok tersebut.
Ketika terbangun, Ryan mendapati dirinya dipindahkan ke dunia kultivasi yang dipenuhi iblis dan makhluk abadi.
Di dunia itu, Ryan belajar tentang kultivator, manusia yang melatih diri melampaui batas fana untuk mencapai keabadian. Dia memulai perjalanan kultivasi yang brutal, bertarung melawan iblis dan kultivator dari berbagai sekte.
Setelah lima ribu tahun, dia mencapai puncak. Kaisar Iblis Gila, gelar yang ditakuti di seluruh Dunia Zhentian.
Tapi keabadian tanpa tujuan adalah kutukan. Yang dia inginkan hanya pulang.
Setelah mencoba berbagai cara dan dikhianati oleh orang kepercayaannya, dia terlempar ke dalam retakan dimensi. Dan retakan itu membawanya kembali ke Bumi.
**
Ryan meremas koran itu sebelum membuangnya ke tanah.
'Ibu... Ayah... maafkan aku.'
Dia memiliki orang tua di dunia ini, dan bahkan seorang pacar dengan kecantikan yang tak tertandingi.
Dia bertanya-tanya bagaimana kabar orang tuanya.
Dan Elena! Lima tahun telah berlalu, apakah dia masih menunggunya?
Ryan menarik napas dalam-dalam. Setelah menenangkan hatinya yang bergejolak, dia melangkah keluar dari Taman Melati, menyusuri jalan yang sudah lama tidak dilaluinya.
**
Matahari mulai terbit ketika Ryan tiba di kompleks perumahan Graha Sentosa. Lingkungan itu sama seperti dalam ingatannya, rumah-rumah sederhana dengan cat yang mulai memudar, jalanan sempit dengan pot-pot tanaman di setiap teras.
Ryan berjalan perlahan, mengikuti ingatan yang tertanam dalam di benaknya. Setiap sudut, setiap belokan, semua terasa begitu akrab.
Ketika dia membelok di ujung gang, matanya menangkap sebuah rumah dengan pagar besi rendah. Rumahnya.
Di halaman depan, seorang wanita paruh baya berambut putih dengan punggung sedikit bungkuk sedang menyapu dedaunan yang berserakan.
Ryan berhenti di tempatnya, kurang dari sepuluh meter dari wanita itu. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat.
"Ibu..." suaranya keluar sangat serak, hampir seperti bisikan.
Wanita paruh baya itu secara naluriah mendongak. Awalnya terkejut, lalu sapunya terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi keras. Dia menggosok matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ryan... Ryanku?"
Itu adalah ibu Ryan, Wulan.
GEDEBUK!
Ryan berlutut dengan berat di tanah yang masih basah oleh embun pagi, lalu merangkak selangkah demi selangkah menuju Wulan. Hidungnya terasa perih, matanya memanas.
"Ibu, putramu telah durhaka, membuatmu khawatir selama lima tahun!"
"Ryanku, kenapa kau baru pulang sekarang!" Wulan berlari kecil menghampirinya, suaranya bergetar.
Ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis tersedu-sedu. Lima tahun penantian, lima tahun kekhawatiran, semua tumpah dalam pelukan itu.
"Anakku, ke mana kau pergi tanpa menelepon? Tak ada tanda-tanda kau masih hidup, tak ada mayat kalau kau meninggal. Tahukah kau betapa sedihnya ayah dan ibu selama bertahun-tahun ini..." Wulan mengusap kepala Ryan dengan tangan gemetar.
"Bu, putramu pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak bisa menghubungi Ibu. Tidak ada satu hari pun aku tidak merindukanmu," kata Ryan, matanya memerah.
"Senang kau kembali, senang kau kembali. Jangan bicarakan masa lalu lagi!" Wulan menyeka air matanya, lalu menarik Ryan berdiri. "Ayo, kita masuk. Aku akan menelepon ayahmu sekarang, dia pasti akan sangat senang!"
Wulan menggandeng tangan Ryan yang kotor dan berdebu, membimbingnya masuk ke rumah. Sambil berjalan, dia tidak berhenti menatap wajah putranya, seolah takut Ryan akan menghilang lagi jika dia berkedip.
Sesampainya di dalam, Wulan langsung meraih telepon dan menghubungi ayah Ryan dengan suara bergetar penuh kegembiraan.
Ryan diam-diam melihat sekeliling rumah. Semuanya masih sama. Sofa lusuh di ruang tamu, televisi kecil di sudut ruangan, foto-foto keluarga di dinding. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sekarang ada mainan anak-anak berserakan di lantai, sepatu kecil di rak sepatu.
Tepat saat Ryan sedang memperhatikan mainan-mainan itu, terdengar suara tangisan dari arah pintu.
"Nenek! Nenek!"
Seorang gadis kecil berusia empat atau lima tahun berlari masuk dari luar sambil menangis meraung-raung, pipinya basah oleh air mata.
"Nenek, tetangga sebelah rumah menggangguku lagi!"
Gadis kecil itu memiliki dua kepang yang diikat tinggi, memperlihatkan lengannya yang putih seperti akar teratai. Bulu matanya yang panjang terus berkedip, membuatnya tampak seperti boneka porselen yang lembut. Namun, wajah kecilnya saat ini tampak cemberut, penuh kesedihan.
Ryan terpaku menatap gadis kecil itu. Nenek? Dia memanggil ibunya "nenek"?
Pertanyaan besar muncul di benak Ryan, siapa anak ini?
Kalimat Panglima Aldric menggantung di udara teras yang dingin itu.Di belakangnya, Henrik Volkov berdiri dengan tangan disilangkan. Matanya memandang Ryan dengan tatapan orang yang sudah lama ingin bertarung dan hanya menunggu alasan yang tepat.Ryan menatap Panglima Aldric, lalu mengangguk sekali."Masuk dulu."Mereka duduk di ruang tamu kolonial yang sama seperti kunjungan sebelumnya. Aira yang menempel di sisi Ryan duduk diam, memperhatikan sekeliling dengan mata besar dan kepala sedikit miring, cara anak kecil yang tidak bisa membaca ketegangan di antara orang-orang dewasa tapi tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bicara.Aldric menatap Ryan dari seberang meja. "Penjelasanmu?"Ryan merogoh saku bajunya dan mengeluarkan satu bungkusan kecil terbungkus plastik transparan. Isinya serbuk putih halus. Dia melemparkannya ke atas meja di depan Aldric."Itu yang ditemukan di gudang markas mereka."Aldric menatap bungkusan itu. Dahinya berkerut dalam.Narkotika. Kelas satu, dari
Mereka kembali ke Paviliun Ramuan Surgawi.Di dalam, beberapa tukang renovasi sudah sibuk sejak pagi.Hartawan yang baru saja keluar dari rumah sakit langsung melupakan instruksi dokter begitu matanya melihat kondisi toko. Dia bergerak ke sana-sini dengan lengan yang masih dibalut, menunjuk-nunjuk sambil memberi arahan kepada para tukang. Pintunya harus lebih tebal, kacanya harus tempered, rak obatnya digeser tiga puluh senti ke kiri, dan papan namanya perlu diganti karena sudut kirinya sedikit retak kena serpihan kaca kemarin.Ryan meninggalkan mereka dan membawa Aira pergi makan.Mereka memilih satu kedai sederhana tidak jauh dari toko, dengan meja kayu dan kursi plastik dan menu yang ditulis tangan di papan kecil dekat kasir. Pesanan sudah datang dan setengahnya sudah habis ketika kursi di seberang meja bergerak dan seseorang duduk tanpa diundang.Ryan mengangkat kepala.Wanita di depannya mengenakan gaun chiffon putih dengan potongan yang tepat di antara formal dan santai. Waj
Ryan kembali ke rumah sakit tidak lama setelah berita tentang kebakaran di markas Vanguard Corp mulai beredar.Sari sedang menatap layar teleponnya ketika Ryan masuk, wajahnya sudah separuh tercengang bahkan sebelum menengadah. "Bos, Vanguard Corp habis dibakar!" "Empat cabang sekaligus, semuanya dalam satu malam! Semua orang di dalamnya...""Bagus." Ryan duduk di kursi sebelah ranjang Beno. "Mereka memang layak."Rudi yang berdiri di pojok bangsal menundukkan kepala sedikit. Setengah jam yang lalu Ryan berkata mau bunuh orang. Setengah jam kemudian, lebih dari seribu anggota Vanguard Corp tidak ada yang tersisa. Bahkan abunya mungkin sudah bercampur puing.'Tuanku benar-benar Tuanku.' Rudi menggeleng kecil dalam diam.Hartawan menatap Ryan dari ranjangnya. Mulutnya terbuka setengah, lalu menutup lagi. Dia memilih untuk tidak bertanya dan memutuskan itu adalah keputusan terbaik yang pernah dia buat malam ini."Bos," Beno menggeser posisinya di atas ranjang, tulang rusuk yang retak
"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Rex menarik kerah pemuda itu, matanya merah. "Siapa yang melakukan ini?!"Sebelum ada jawaban, teleponnya bergetar. Layarnya menampilkan satu kata.Kakak.Rex melepaskan kerah pemuda itu dan mengangkat telepon. "Kakak, ada apa...""Pulang sekarang."Sambungan terputus.**Vila keluarga Vann di kawasan perumahan elite barat kota seharusnya sudah tenang di jam seperti ini, lampunya padam dan gerbangnya terkunci.Tapi lampu di lantai tiga menyala semua, dan dari luar bisa terdengar suara langkah yang tidak santai.Rex masuk dan naik ke lantai tiga lebih cepat dari biasanya.Ruang keluarga sudah penuh orang. Gerald Vann, ayahnya, duduk di sofa dengan wajah gelap dan tangan terkepal di lutut. Di sudut ruangan berdiri seorang pria tua berpakaian bela diri serba hitam, lengan disilangkan, matanya setengah terpejam tapi tidak benar-benar santai.Dan di depan jendela, membelakangi semua orang, berdiri seorang wanita berbalut gaun formal beige yang potongannya e
Semua kepala berbalik ke arah suara itu bersamaan. Seorang pria paruh baya bertubuh kekar berjalan masuk melalui pintu aula. Wajahnya kasar, mantelnya hitam, dan langkahnya tidak meminta ruang dari siapa pun, ia berjalan begitu saja dan ruang itu terbentuk sendiri. Yang paling langsung tertangka
Kata-kata Ryan tidak keras, tidak memaksa, tapi entah kenapa terdengar sangat jelas oleh semua orang yang ada di ruangan itu. Satu detik keheningan. Kemudian ruangan itu meledak dalam tawa. "Siapa anak ini? Masih muda tapi nyali besar. Berani-beraninya ikut campur di tengah perjudian dua orang be
Setelah itu, Damien Laurent bahkan datang secara pribadi untuk memamerkan semuanya di depan wajah Darren. Untuk memberitahunya bahwa semua itu memang disengaja, bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Saat itu, dorongan pertama Darren adalah melawan sampai titik darah penghabisan. Tapi ada satu
Ryan mengajukan beberapa pertanyaan lagi, dan Catherine menjawab semuanya dengan jelas, runtut, tanpa kebingungan sedikit pun. Ryan berdiri. "Catherine, selamat. Ibu sudah pulih." Ia menjelaskan sekilas apa yang terjadi dalam bahasa yang bisa dipahami orang awam, lalu memimpin Catherine keluar dari






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore