تسجيل الدخولRyan Hartono, yang lima tahun lalu diikat dan dilempar ke Sungai Deepwater, tanpa disangka tersedot ke dunia kultivasi melalui Batu Giok misterius. Di Dunia Zhentian, dia menghabiskan lima ribu tahun bertarung melawan iblis dan kultivator, akhirnya mencapai puncak sebagai Kaisar Iblis Gila, gelar yang ditakuti di seluruh dunia kultivasi. Setelah dikhianati dan terlempar kembali melalui retakan dimensi, Ryan kembali ke Bumi, tepatnya Kota Sentralis, negara Garudapolis. Yang mengejutkan, di Bumi baru berlalu lima tahun. Dia menemukan keluarganya dalam kondisi hancur: orang tuanya terlilit utang rentenir 50 juta GDP, dan yang lebih menyakitkan, dia memiliki putri berusia lima tahun bernama Aira Hartono yang menderita leukemia. Elena, pacar Ryan, telah diculik paksa oleh Keluarga Surya, keluarga konglomerat kaya raya tempat Elena berasal. Aira membenci Ryan karena menganggap ayahnya meninggalkan mereka. Sambil mengembalikan kekuatannya, Ryan bertekad menyelesaikan semua masalah: melunasi utang dengan caranya sendiri, menyembuhkan penyakit Aira, merebut kembali Elena dari Keluarga Surya yang arogan, dan membangun kembali keluarga yang hancur. Siapa pun yang berani menyakiti keluarganya akan merasakan murka seorang Kaisar Iblis.
عرض المزيد"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Rex menarik kerah pemuda itu, matanya merah. "Siapa yang melakukan ini?!"Sebelum ada jawaban, teleponnya bergetar. Layarnya menampilkan satu kata.Kakak.Rex melepaskan kerah pemuda itu dan mengangkat telepon. "Kakak, ada apa...""Pulang sekarang."Sambungan terputus.**Vila keluarga Vann di kawasan perumahan elite barat kota seharusnya sudah tenang di jam seperti ini, lampunya padam dan gerbangnya terkunci.Tapi lampu di lantai tiga menyala semua, dan dari luar bisa terdengar suara langkah yang tidak santai.Rex masuk dan naik ke lantai tiga lebih cepat dari biasanya.Ruang keluarga sudah penuh orang. Gerald Vann, ayahnya, duduk di sofa dengan wajah gelap dan tangan terkepal di lutut. Di sudut ruangan berdiri seorang pria tua berpakaian bela diri serba hitam, lengan disilangkan, matanya setengah terpejam tapi tidak benar-benar santai.Dan di depan jendela, membelakangi semua orang, berdiri seorang wanita berbalut gaun formal beige yang potongannya e
"Tahukah kamu kenapa aku membiarkanmu hidup sampai sekarang?"Ryan berjalan mendekat satu langkah. Matanya tidak berkedip menatap Conrad yang berlutut di atas lantai berdebu abu."Aku mau bicara! Aku mau bicara!" Conrad mengangkat kedua tangan, suaranya sudah tidak karuan bentuknya. "Direktur Roland tidak ada di sini malam ini, dia ada urusan di luar...""Hubungi dia. Suruh dia ke sini menjemputmu."Conrad menatap Ryan dengan mulut setengah terbuka. Tiga detik berlalu.'Ini orang waras tidak? Disuruh menghubungi Direktur Roland supaya datang ke sini... ke tempat di mana tiga puluh orang baru saja jadi abu?'Tapi ekspresi Ryan tidak berubah satu milimeter pun. Conrad memutuskan untuk tidak mempertanyakannya lebih jauh. Tangannya gemetar saat mencabut telepon dan menekan nomor.Sambungan tersambung setelah dua nada."Ada apa?" Suara di ujung sana tua dan berat, nadanya datar dengan wibawa orang yang tidak terbiasa ditelepon untuk hal kecil.Belum sempat Conrad bicara, telepon itu mel
Di pinggiran kota, tersembunyi di balik pagar tinggi dan deretan pohon pinus yang dipangkas rapi, sebuah vila besar berdiri terang benderang. Ini markas asli Vanguard Corp. Di dalam ruang makan utama yang panjangnya hampir sepuluh meter, sekitar empat puluh orang duduk mengelilingi meja panjang. Di atasnya ada hidangan lengkap, botol-botol anggur, dan lilin ulang tahun yang belum ditiup. Seorang pria paruh baya dengan rambut klimis dan dagu yang sedikit berlemak duduk di kepala meja. Namanya Conrad, manajer senior Vanguard Corp, dan malam ini adalah ulang tahunnya yang keempat puluh. "Tuan Conrad, selamat ulang tahun, panjang umur dan sehat selalu!" Seorang pemuda berdiri lebih dulu mengangkat gelas, diikuti semua orang di meja yang berdiri bersama. Conrad mengangkat tangan menenangkan mereka, senyumnya lebar. "Duduk semua. Tidak ada basa-basi malam ini, semua yang ingin disampaikan sudah ada di dalam gelas. Ayo minum!" Setelah tegukan pertama, seseorang di ujung meja bertan
Tidak ada bulan malam itu. Angin yang bertiup di sepanjang jalan Metropolitan Alexandris membawa hawa dingin yang tidak wajar untuk musim ini, menerpa wajah Ryan yang melangkah pelan di trotoar. Rambutnya terkibas ke sisi, tapi matanya tidak bergerak. Lurus ke depan. Datar, dan semakin dingin dengan setiap langkah. 'Aku terlalu meremehkan mereka.' Sejak kembali ke dunia ini, Ryan selalu memandang orang-orang seperti Wilhelm, Damien "Sang Pembantai", Grandmaster Carlos, bahkan Nikolai "Sang Sombong" sekalipun sebagai lawan yang perlu sedikit perhatian. Orang-orang biasa? Lebih kecil dari itu. Hampir tidak dianggap sebagai variabel yang perlu diperhitungkan secara serius. Dan itulah kesalahannya. Karena kelalaian yang tidak perlu itu, keluarga-keluarga besar di Wilayah Selatan tidak pernah benar-benar tunduk, mereka hanya menunggu celah yang tepat. Karena terlalu santai, Beno dan Hartawan kini berbaring di rumah sakit dengan tulang retak dan kepala yang dijahit. Orang-orang
Di lantai dua Hotel Graha Makmur, suasana masih hangat. Gelas-gelas beradu. Anggur merah mengalir. Miranda menyender ke sandaran kursi dengan senyum yang tidak ia sembunyikan. "Manajer Hartawan memang beda. Satu penampilan langsung beres." "Iya." Hendra mengangguk sambil mengangkat gelasnya. "A
Ryan baru saja melangkah ke arah pintu masuk hotel ketika tiga orang berjalan keluar dari dalam menuju ke arahnya. Yang paling depan berpakaian setelan jas dengan sepatu kulit yang mengkilap, tubuhnya membawa aura orang yang terbiasa dihormati. Di belakangnya, dua sosok yang sudah Ryan kenal hari
"Aku... berlutut dan memohon padamu?" Sebastian Tan tertegun satu detik. Satu detik itu cukup untuk seluruh konteks kalimat Ryan meresap ke otaknya, dan yang keluar setelahnya bukan amarah, melainkan tawa. Ia menunjuk Ryan sambil melambaikan tangan ke arah anak buahnya. "Usir dia!" Ia, Sebast
Begitu suara Ryan menggantung di udara, seluruh area depan Paviliun Ramuan Surgawi mendadak hening.Bukan hening biasa. Hening yang tercipta karena tidak ada satu pun orang yang tahu harus bereaksi seperti apa.Sedetik kemudian, kerumunan meledak.Wajar saja. Ryan terla












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر