Tak lama kemudian, Ivy datang. Begitu menerima telepon dari Teresa, dia langsung bergegas ke sana. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Begitu Ivy tiba, dia langsung menerjang ke pelukan sahabatnya."Ivy!"Ekspresi Teresa pun melunak. Dia memeluk Ivy."Ivy, kamu datang."Mereka duduk bersama dan berbincang sebentar. Saat tiba waktunya berpisah, Ivy tak kuasa merasa bersalah."Maaf, aku seharusnya nggak luluh dan membiarkan kakakku mencarimu. Aku malah merepotkanmu dengan begitu banyak masalah."Teresa mencubit pipinya pelan. "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nggak bilang apa-apa, Alex tetap akan mencari cara sendiri. Daripada sakit berkepanjangan, lebih baik sakit sebentar dan semuanya diperjelas."Meskipun begitu, Ivy tetap merasa sangat tidak enak hati. Dia sendiri tidak menyangka kakaknya bisa segila itu sampai nekat kehujanan semalaman tanpa peduli nyawanya. Dia menoleh ke arah Alex yang tidak jauh dari mereka. Alex menatap ke arah mereka dengan penuh kerinduan tertahan.Akhirnya, Ivy t
Read more