Merasakan keperkasaanku, Bilqis membuka matanya dengan cepat."Kamu mau ngapain? Benaran mau melakukannya?"Aku tiba-tiba menghentikan gerakanku. Jarakku dengannya hanya tersisa satu sentimeter. "Kamu benaran nggak mau? Bukannya biasanya kamu sering pesan model pria?"Wajah Bilqis tampak muram."Memang sih aku pesan model, tapi mereka semua itu orang asing. Lagian, suamiku juga nggak tahu. Yang terpenting, kamu ini suami sahabatku. Aku datang untuk menasihatimu, bukan untuk melakukan ini. Kalau sampai ketahuan sama dia, bisa gawat jadinya."Aku menggendong tubuhnya dan menikmati payudaranya dengan serakah. Kemudian, aku membujuknya dengan sabar, "Inilah cara terbaik untuk membantuku. Aku benar-benar nggak tahan lagi. Kamu bantu puasin aku sebentar, kamu juga bisa merasa puas. Yang paling penting lagi, aku juga nggak perlu lagi memaksa istriku. Dengan begini, bagus juga untuk pernikahan kami."Serangkaian ucapanku ini membuat Bilqis tergerak. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Kala
อ่านเพิ่มเติม