Masuk
Setelah resmi mendaftarkan pernikahan dengan Bilqis, hidupku terasa sangat bahagia.Setiap malam sepulang kerja, selalu ada istri tercinta yang sudah menyiapkan masakan lezat untukku. Kalau bahuku pegal, dia juga tak segan memijatkannya dengan sabar.Terutama di ranjang, Bilqis benar-benar sangat kooperatif. Apa pun posisi yang kuinginkan, dia selalu bisa mengikutinya. Bersamanya, aku merasa seluruh tubuhku dipenuhi energi.Di tempat kerja pun aku jadi jauh lebih fokus dan efisien. Penghasilanku melonjak dengan cepat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.Sebaliknya di pihak Shila, dia sama sekali tidak mampu menjalankan pekerjaanku dulu, bahkan menyebabkan perusahaan merugi cukup besar.Sementara itu, Gandi memang seorang playboy. Tak butuh waktu lama baginya untuk bosan dengan Shila. Dia segera mencari selingkuhan baru dan tak lagi peduli pada Shila. Faktanya, Gandi tidak pernah benar-benar mendaftarkan pernikahan dengan Shila. Dia terus mencari alasan untuk menunda, dengan dal
Ternyata dia memang menganggapku sebagai orang yang kotor ....Baiklah. Kalau kamu sudah tidak berperikemanusiaan padaku, jangan salahkan aku jika aku juga tidak berbelaskasihan. Aku berkata dengan nada dingin, "Shila, kalau kamu merasa aku nggak baik, kita cerai saja."Begitu mendengarnya, Shila langsung mengeluarkan selembar dokumen dari tasnya. Saat kulihat, di bagian atas kertas itu tertulis jelas "Perjanjian Perceraian".Ternyata dia sudah lama menyiapkannya. Karena dia sudah bertekad ingin bercerai, aku juga tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.Aku berjalan keluar kamar tanpa suara dan duduk di sofa, mendengarkan suara-suara kegembiraan dari kamar tidur sebelah tempat dia dan Gandi bersama. Air mata sudah membasahi ujung celanaku.Mereka bersenang-senang di dalam kamar selama tiga jam penuh, suara Shila makin lama makin menggema. Padahal jelas-jelas milik Gandi tidak sebesar punyaku. Bukankah seharusnya semakin besar, semakin disukai wanita?Lagi pula, Gandi itu kapitali
Bisa dibilang, kejadiannya berlangsung begitu cepat. Aku segera bergegas pulang ke rumah tanpa menunda sedikit pun. Begitu sampai di depan pintu, aku sudah mendengar suara seorang pria dari dalam."Shila, anjing jantan di rumahmu itu pasti sekarang sedang bersenang-senang sama Bilqis. Biar aku saja yang datang ke rumahnya dan memainkan wanitanya."Pasangan sialan itu benar-benar datang ke rumahku, bahkan berani memanggilku aku sebagai anjing jantan. Aku mengepalkan tinju dengan marah.Tak lama kemudian, terdengar teriakan Shila yang penuh kenikmatan."Tubuh Sayang memang paling enak, nggak kayak Wira seperti anjing jantan. Tahunya cuma angkat dan memainkanku tiap hari.""Dia sama sekali nggak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan lembut. Kamu selembut ini, aku saja ingin terus menjagamu, tapi dia malah memperlakukanmu sekasar itu. Ayo ganti posisi, angkat pantatmu, ya begitu, biar aku lihat baik-baik bentuk tubuhmu."Mendengar mereka bersenang-senang di atas ranjang, apalagi memak
Dia malah mendorong tanganku dan melepaskan diri dari pelukanku."Yang tadi itu cuma impulsif sesaat. Karena nggak bisa menahan diri, makanya .... Setelah tersadar sekarang, bagaimanapun juga aku ini sahabat istrimu. Nggak baik kalau melakukan hal seperti ini."Dia mengenakan sepatu hak tingginya dan melanjutkan, "Aku datang cuma untuk nasihati kamu. Shila berbeda denganku. Dia itu tipe gadis mungil, nggak bisa tahan menerima serangan seganas itu. Ke depannya, kalian harus komunikasi dengan baik."Setelah berkata demikian, dia membuka pintu kamar dan berjalan keluar. Sementara itu, aku berbaring di ranjang sambil tenggelam dalam dilema dan kenangan.Tubuh Bilqis dan Shila sama sekali tidak bisa dibandingkan. Yang satunya adalah wanita seksi yang montok, satunya lagi adalah wanita imut. Tadinnya, aku merasa agak bersalah dan lelah saat terjadi hubungan seperti itu dengan Bilqis. Namun sekarang, sepertinya Shila juga telah melakukan hal yang mengkhianati diriku.Aku menggeleng dengan ker
Merasakan keperkasaanku, Bilqis membuka matanya dengan cepat."Kamu mau ngapain? Benaran mau melakukannya?"Aku tiba-tiba menghentikan gerakanku. Jarakku dengannya hanya tersisa satu sentimeter. "Kamu benaran nggak mau? Bukannya biasanya kamu sering pesan model pria?"Wajah Bilqis tampak muram."Memang sih aku pesan model, tapi mereka semua itu orang asing. Lagian, suamiku juga nggak tahu. Yang terpenting, kamu ini suami sahabatku. Aku datang untuk menasihatimu, bukan untuk melakukan ini. Kalau sampai ketahuan sama dia, bisa gawat jadinya."Aku menggendong tubuhnya dan menikmati payudaranya dengan serakah. Kemudian, aku membujuknya dengan sabar, "Inilah cara terbaik untuk membantuku. Aku benar-benar nggak tahan lagi. Kamu bantu puasin aku sebentar, kamu juga bisa merasa puas. Yang paling penting lagi, aku juga nggak perlu lagi memaksa istriku. Dengan begini, bagus juga untuk pernikahan kami."Serangkaian ucapanku ini membuat Bilqis tergerak. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Kala
Bilqis mengulurkan tangannya yang lembut untuk merabanya beberapa kali. Seketika, aku merasa sensasi yang begitu nikmat menjalar dari bawah tubuhku. Sekujur tubuhku terasa kebas seolah disengat oleh aliran listrik.Gerakannya ini sama sekali bukan sedang meraba, melainkan sedang membantuku untuk melampiaskan hasrat. Diriku yang memang sudah haus selama beberapa hari ini, kini malah harus dipermainkannya seperti ini. Kobaran api dalam hatiku terasa semakin membara dan hampir saja membakar habis seluruh tubuhku.Aku tak kuasa gemetar perlahan.Di saat itulah, Bilqis baru menarik kembali tangannya dan berkata dengan ekspresi aneh, "Baru saja kusentuh, barangmu ini benar-benar tebal ya. Pantas saja Shila nggak tahan."Aku buru-buru mengenakan kembali celanaku. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar akan menyerang Bilqis saat ini juga."Nggak bisa salahin aku, dong. Nggak mungkin aku terus menahan diri dan nggak melampiaskannya. Tersiksa sekali," gumamku.Bilqis berdiri perlahan, lalu duduk d







