Share

Bab 2

Penulis: Richy
Bilqis mengulurkan tangannya yang lembut untuk merabanya beberapa kali. Seketika, aku merasa sensasi yang begitu nikmat menjalar dari bawah tubuhku. Sekujur tubuhku terasa kebas seolah disengat oleh aliran listrik.

Gerakannya ini sama sekali bukan sedang meraba, melainkan sedang membantuku untuk melampiaskan hasrat. Diriku yang memang sudah haus selama beberapa hari ini, kini malah harus dipermainkannya seperti ini. Kobaran api dalam hatiku terasa semakin membara dan hampir saja membakar habis seluruh tubuhku.

Aku tak kuasa gemetar perlahan.

Di saat itulah, Bilqis baru menarik kembali tangannya dan berkata dengan ekspresi aneh, "Baru saja kusentuh, barangmu ini benar-benar tebal ya. Pantas saja Shila nggak tahan."

Aku buru-buru mengenakan kembali celanaku. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar akan menyerang Bilqis saat ini juga.

"Nggak bisa salahin aku, dong. Nggak mungkin aku terus menahan diri dan nggak melampiaskannya. Tersiksa sekali," gumamku.

Bilqis berdiri perlahan, lalu duduk di pangkuanku. Bokongnya yang sintal itu mengenai bagian kemaluanku! Ditindih olehnya, aku jadi benar-benar ingin melakukan seks dengannya.

"Aku datang untuk menasihatimu, memangnya kamu nggak bisa lebih pelan sedikit? Kalau nggak, nanti istrimu ribut mau cerai denganmu, aku jadi nggak ada kesempatan lagi ketemu sama kamu."

Dia bahkan menggerakkan bokongnya sedikit. Gesekan itu membuatku merasa geli dan darah di sekujur tubuhku langsung mendidih.

'Apa sih yang dilakukan Bilqis ini? Tadi dia merabaku, sekarang malah duduk di pangkuanku. Jangan-jangan, dia mau?'

"Bukan masalah aku kasar atau nggak. Intinya, baru saja aku masukkan, dia sudah ngeluh kesakitan."

Mendengar ucapanku, Bilqis tertawa pelan. "Kamu ini ... sepertinya memang agak susah ya. Gimana kalau kamu jangan lakukan itu lagi sama istrimu ke depannya? Hidup saja dengan baik dan benar."

Kedua tanganku tak kuasa memeluk pinggangnya. Pinggangnya ramping dan lembut, rasanya benar-benar menyenangkan.

"Nggak bisa, dong? Kalau begitu aku pasti tersiksa menahannya."

Melihat Bilqis seagresif ini ... jangan-jangan dia mau menggantikan istriku?

Aku menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk bertanya, "Kalau aku benar-benar nggak tahan, gimana kalau kamu bantu aku?"

Bilqis memukulku dengan manja. "Kamu ngomong apaan, sih? Kamu ini suami sahabatku, kamu mau aku selingkuhin dia?"

Aku benar-benar kecewa. Ternyata, Bilqis ini bukan datang untuk membantuku mengusir rasa kesepian.

Kemudian, Bilqis melanjutkan, "Bukan harus seks 'kan, bisa pakai tangan atau mulut ...."

Sambil berbicara, dia membuat gerakan dengan tangannya dan mulutnya menganga membentuk huruf "O". Ingin sekali rasanya aku memasukkan kemaluanku ke dalamnya.

Mendengar ucapannya, aku menggelengkan kepala.

"Nggak bisa, nggak bisa. Kalau cuma sesekali sih nggak masalah. Kalau sampai tiap hari pakai tangan, nggak menarik sekali."

Mendengar ucapanku, Bilqis menghela napas dan turun dari pangkuanku, lalu duduk di sofa. "Haeh, kalau begitu kamu bilang sendiri gimana solusinya? Nggak mungkin kamu benaran cerai, terus cari yang baru, 'kan? Aku dan Shila sahabat baik, aku nggak mau lihat dia cerai, tapi juga nggak mau dia menerima penderitaan seperti ini."

Melihat bentuk tubuhnya yang menggoda, jelas sekali wanita ini adalah tipe yang tidak bisa dipuaskan. Secara logika, wanita secantik ini tidak seharusnya menikah dengan pria tua yang lemah syahwat. Dia pasti menahan diri dengan bersusah payah selama ini.

Memikirkan hal itu, aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Tanganku diulurkan memasuki rok pendeknya. Melihat pangkal pahanya yang kusentuh, Bilqis tidak tampak marah. Sebaliknya, dia malah sangat menikmatinya.

"Duh! Wira, nggak nyangka nyalimu sebesar ini sampai berani sentuh aku?"

Aku terkekeh, lalu menambah tenaga pada tanganku untuk menyentuh bagian intimnya. Dia menepis tanganku dengan manja.

"Ih, sebel. Aku ini bukan istrimu, kamu nyentuh mana sih?"

Dasar genit. Padahal waktu kusentuh jelas-jelas sudah basah semua, masih saja pura-pura.

Aku mengulurkan jari tengahku dan menyibak celah di antaranya. Aku ingin melihat seberapa lama dia bisa bertahan.

"Ugh ... ahh ... nggak boleh sentuh sana."

Wajah Bilqis memerah dan desah manjanya pun mulai terdengar.

Ternyata wanita ini memang tidak terpuaskan. Aku sudah menahan diri beberapa hari, hari ini harus kulampiaskan sepuasnya.

"Malam-malam begini kamu datang ke rumahku sendirian dengan pakaian seseksi ini. Jelas lagi godain aku, 'kan? Tadi bahkan sentuh-sentuh kejantananku. Sekarang aku sedang tersiksa, kamu harus puasin aku," bisikku di samping telinganya.

Jelas sekali, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan. Kedua kakinya tanpa sadar terbuka lebar dan membiarkanku mempermainkannya dengan sesuka hati.

"Nggak bisa, kita sama-sama punya pasangan. Nggak boleh lakukan hal seperti itu." Bilqis masih ingin menjepit rapat kedua kakinya, tetapi telah kusingkirkan dengan sekuat tenaga.

"Sudah punya pasangan, tapi terus-menerus cari model pria di luar sana tiap hari. Nggak usah pura-pura deh kamu. Model pria itu nggak sehebat aku."

Usai bicara, aku mengangkatnya ke bahuku dan membawanya ke kamar. Dia tergeletak di bahuku dengan bokong yang menungging. Kedua kakinya bergoyang hebat.

"Lepaskan aku! Nyalimu benar-benar besar sekali!"

Aku melemparnya langsung ke ranjang dan mengangkat kedua kakinya untuk melepas sepatu hak tinggi. Telapak kaki yang mungil itu terpampang di hadapanku. Rasanya hangat dan sangat menggemaskan.

Aku mengangkat telapak kakinya dan mengendusnya dengan kuat. Semua wangi tubuhnya menembus penciumanku, membuat pikiranku kalut seketika. Darah di sekujur tubuhku seakan bergolak hebat.

"Bilqis, kamu benar-benar wangi. Kamu belum pernah coba yang sebesar ini, 'kan? Selanjutnya kamu rasakan dengan puas."

Bilqis berbaring di ranjang dengan kedua mata yang terpejam dan ekspresi penolakan.

"Aku ini sahabat istrimu, kita benar-benar nggak boleh ...."

Namun, tubuhnya tidak bisa berbohong. Kedua kakinya telah terbuka, menampakkan celana dalam berwarna putih di dalamnya yang telah basah kuyup.

Aku melepas celana dalamnya dengan kasar. Melihat pemandangan yang begitu menggoda di hadapanku, aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku mengangkat kedua kakinya dan menghunjamnya dengan keras.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 7

    Setelah resmi mendaftarkan pernikahan dengan Bilqis, hidupku terasa sangat bahagia.Setiap malam sepulang kerja, selalu ada istri tercinta yang sudah menyiapkan masakan lezat untukku. Kalau bahuku pegal, dia juga tak segan memijatkannya dengan sabar.Terutama di ranjang, Bilqis benar-benar sangat kooperatif. Apa pun posisi yang kuinginkan, dia selalu bisa mengikutinya. Bersamanya, aku merasa seluruh tubuhku dipenuhi energi.Di tempat kerja pun aku jadi jauh lebih fokus dan efisien. Penghasilanku melonjak dengan cepat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.Sebaliknya di pihak Shila, dia sama sekali tidak mampu menjalankan pekerjaanku dulu, bahkan menyebabkan perusahaan merugi cukup besar.Sementara itu, Gandi memang seorang playboy. Tak butuh waktu lama baginya untuk bosan dengan Shila. Dia segera mencari selingkuhan baru dan tak lagi peduli pada Shila. Faktanya, Gandi tidak pernah benar-benar mendaftarkan pernikahan dengan Shila. Dia terus mencari alasan untuk menunda, dengan dal

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 6

    Ternyata dia memang menganggapku sebagai orang yang kotor ....Baiklah. Kalau kamu sudah tidak berperikemanusiaan padaku, jangan salahkan aku jika aku juga tidak berbelaskasihan. Aku berkata dengan nada dingin, "Shila, kalau kamu merasa aku nggak baik, kita cerai saja."Begitu mendengarnya, Shila langsung mengeluarkan selembar dokumen dari tasnya. Saat kulihat, di bagian atas kertas itu tertulis jelas "Perjanjian Perceraian".Ternyata dia sudah lama menyiapkannya. Karena dia sudah bertekad ingin bercerai, aku juga tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.Aku berjalan keluar kamar tanpa suara dan duduk di sofa, mendengarkan suara-suara kegembiraan dari kamar tidur sebelah tempat dia dan Gandi bersama. Air mata sudah membasahi ujung celanaku.Mereka bersenang-senang di dalam kamar selama tiga jam penuh, suara Shila makin lama makin menggema. Padahal jelas-jelas milik Gandi tidak sebesar punyaku. Bukankah seharusnya semakin besar, semakin disukai wanita?Lagi pula, Gandi itu kapitali

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 5

    Bisa dibilang, kejadiannya berlangsung begitu cepat. Aku segera bergegas pulang ke rumah tanpa menunda sedikit pun. Begitu sampai di depan pintu, aku sudah mendengar suara seorang pria dari dalam."Shila, anjing jantan di rumahmu itu pasti sekarang sedang bersenang-senang sama Bilqis. Biar aku saja yang datang ke rumahnya dan memainkan wanitanya."Pasangan sialan itu benar-benar datang ke rumahku, bahkan berani memanggilku aku sebagai anjing jantan. Aku mengepalkan tinju dengan marah.Tak lama kemudian, terdengar teriakan Shila yang penuh kenikmatan."Tubuh Sayang memang paling enak, nggak kayak Wira seperti anjing jantan. Tahunya cuma angkat dan memainkanku tiap hari.""Dia sama sekali nggak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan lembut. Kamu selembut ini, aku saja ingin terus menjagamu, tapi dia malah memperlakukanmu sekasar itu. Ayo ganti posisi, angkat pantatmu, ya begitu, biar aku lihat baik-baik bentuk tubuhmu."Mendengar mereka bersenang-senang di atas ranjang, apalagi memak

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 4

    Dia malah mendorong tanganku dan melepaskan diri dari pelukanku."Yang tadi itu cuma impulsif sesaat. Karena nggak bisa menahan diri, makanya .... Setelah tersadar sekarang, bagaimanapun juga aku ini sahabat istrimu. Nggak baik kalau melakukan hal seperti ini."Dia mengenakan sepatu hak tingginya dan melanjutkan, "Aku datang cuma untuk nasihati kamu. Shila berbeda denganku. Dia itu tipe gadis mungil, nggak bisa tahan menerima serangan seganas itu. Ke depannya, kalian harus komunikasi dengan baik."Setelah berkata demikian, dia membuka pintu kamar dan berjalan keluar. Sementara itu, aku berbaring di ranjang sambil tenggelam dalam dilema dan kenangan.Tubuh Bilqis dan Shila sama sekali tidak bisa dibandingkan. Yang satunya adalah wanita seksi yang montok, satunya lagi adalah wanita imut. Tadinnya, aku merasa agak bersalah dan lelah saat terjadi hubungan seperti itu dengan Bilqis. Namun sekarang, sepertinya Shila juga telah melakukan hal yang mengkhianati diriku.Aku menggeleng dengan ker

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 3

    Merasakan keperkasaanku, Bilqis membuka matanya dengan cepat."Kamu mau ngapain? Benaran mau melakukannya?"Aku tiba-tiba menghentikan gerakanku. Jarakku dengannya hanya tersisa satu sentimeter. "Kamu benaran nggak mau? Bukannya biasanya kamu sering pesan model pria?"Wajah Bilqis tampak muram."Memang sih aku pesan model, tapi mereka semua itu orang asing. Lagian, suamiku juga nggak tahu. Yang terpenting, kamu ini suami sahabatku. Aku datang untuk menasihatimu, bukan untuk melakukan ini. Kalau sampai ketahuan sama dia, bisa gawat jadinya."Aku menggendong tubuhnya dan menikmati payudaranya dengan serakah. Kemudian, aku membujuknya dengan sabar, "Inilah cara terbaik untuk membantuku. Aku benar-benar nggak tahan lagi. Kamu bantu puasin aku sebentar, kamu juga bisa merasa puas. Yang paling penting lagi, aku juga nggak perlu lagi memaksa istriku. Dengan begini, bagus juga untuk pernikahan kami."Serangkaian ucapanku ini membuat Bilqis tergerak. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Kala

  • Sahabat Istriku yang Memikat Hasrat   Bab 2

    Bilqis mengulurkan tangannya yang lembut untuk merabanya beberapa kali. Seketika, aku merasa sensasi yang begitu nikmat menjalar dari bawah tubuhku. Sekujur tubuhku terasa kebas seolah disengat oleh aliran listrik.Gerakannya ini sama sekali bukan sedang meraba, melainkan sedang membantuku untuk melampiaskan hasrat. Diriku yang memang sudah haus selama beberapa hari ini, kini malah harus dipermainkannya seperti ini. Kobaran api dalam hatiku terasa semakin membara dan hampir saja membakar habis seluruh tubuhku.Aku tak kuasa gemetar perlahan.Di saat itulah, Bilqis baru menarik kembali tangannya dan berkata dengan ekspresi aneh, "Baru saja kusentuh, barangmu ini benar-benar tebal ya. Pantas saja Shila nggak tahan."Aku buru-buru mengenakan kembali celanaku. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar akan menyerang Bilqis saat ini juga."Nggak bisa salahin aku, dong. Nggak mungkin aku terus menahan diri dan nggak melampiaskannya. Tersiksa sekali," gumamku.Bilqis berdiri perlahan, lalu duduk d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status