Di lantai bawah, di balik pintu kantornya yang tebal dan berukiran rumit, Atlas telah sepenuhnya beralih. Dunia pribadinya, kebenciannya terhadap Aisha, dan kesedihan atas Luna, semuanya terbungkus rapat di dalam dirinya, tersembunyi di bawah topeng bos mafia yang tak kenal ampun. Sekarang, hanya ada bisnis.Ruangan itu dipenuhi dengan ketegangan yang pekat. Asap cerutu tipis melayang di udara, bercampur dengan aroma kopi hitam yang kuat dan kertas-kertas yang berserakan di meja mahoni. Dante, Mateo, dan beberapa letnan teratas lainnya berdiri tegak, mata mereka terpaku pada Atlas. Peta-peta kota New York terhampar di meja, beberapa titik ditandai dengan spidol merah.Atlas berdiri di depan jendela besar, membelakangi mereka, menatap ke luar ke arah cakrawala kota yang mulai dipenuhi kerlip lampu. Tangannya yang berurat memegang segelas whiskey tua, namun ia belum menyesapnya. Pikirannya berpacu, mengolah setiap informasi, setiap kemungkinan."Jadi," kata Atlas, suaranya rendah, tanpa
Read more