Di Hari Aku Meninggalkan Suamiku

Di Hari Aku Meninggalkan Suamiku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-08
Oleh:  Kay MireaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
20Bab
234Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sebagai kepala keluarga kriminal Valenti, yang dikenal seantero kota sebagai "Il Macellaio" Atlas Valenti adalah sosok yang ditakuti dan dihormati, dengan pikiran strategis yang cemerlang dan rasa keadilan yang tanpa ampun. Tapi di balik wajah yang bersudut tajam dan tatapan mata hijau yang dingin, tersembunyi luka dalam yang tak pernah sembuh. Pada usia tujuh tahun, dia menyaksikan ibunya terbunuh saat melindunginya dari musuh keluarga. Pada usia 29, dia menemukan cinta sejati dalam diri Luna Moretti, wanita yang mampu menghancurkan tembok emosional yang dia bangun selama bertahun-tahun. Mereka diatur untuk menikah guna menyatukan dua keluarga mafia terkuat di kota: Valenti dengan kekuasaan mereka di bidang real estat dan hubungan internasional, serta Moretti dengan kendali mereka atas pelabuhan dan koneksi politik. Namun Atlas jatuh cinta bukan karena kesepakatan melainkan karena kehangatan dan kebaikan yang hanya Luna bisa berikan padanya. Malam sebelum dia berencana untuk melamarnya dengan cincin keluarga kuno, nasib memutar balik, Aisha, saudara perempuan Luna, mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan yang menewaskan calon istrinya. Didesak oleh ayahnya Marcello Valenti dan tuntutan aliansi yang tak dapat dibatalkan, Atlas terpaksa menikahi Aisha, pengantin pengganti yang menjadi sumber kebencian membara baginya. Setiap hari, dia harus menghadapi wanita yang telah mencuri masa depannya, menggunakan kata-kata dan pengabaian sebagai senjata dalam perang psikologis yang dia lakukan. Sementara itu, dia terus menjaga ingatan Luna hidup dengan cara-cara kecil: mengirim bunga lili putih ke makamnya setiap minggu, menyimpan buku agenda dan cincin pertunangan yang tak terpakai di laci mejanya, dan menghindari setiap tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Namun, ketika ancaman dari keluarga saingan mulai mengintai dan kedudukan keluarga Valenti terancam, Atlas harus menghadapi pilihan yang sulit: apakah dia akan terus terjebak dalam kesedihan dan kebencian yang menghancurkan dirinya, ataukah dia akan menemukan cara untuk melepaskan masa lalu dan melindungi apa yang tersisa?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Istri yang Tidak Dia Inginkan

Whiskey itu membakar tenggorokan Atlas, tapi itu tak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang membara di dadanya. Lima minggu. Lima minggu sialan sejak dia mengubur cinta dalam hidupnya, dan sekarang dia menikah dengan pembunuhnya.

Atlas membanting gelas kristal ke mejanya, memperhatikan Aisha tersentak di ambang pintu ruang kerjanya. Dia mengenakan salah satu gaun barunya–hitam, selalu hitam sekarang, seolah-olah dia mencoba berduka. Seolah-olah dia berhak untuk berduka.

"Pergi." Kata-kata itu keluar sebagai geraman, tetapi Aisha tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, mata besarnya tertuju padanya, mengingatkannya pada Luna hingga membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Mereka memiliki mata yang sama. Dulu. Luna memiliki mata seperti itu.

Foto di mejanya menarik perhatian Atlas – Luna di pesta Natal tahun lalu, berseri-seri dalam balutan gaun merah, senyumnya menerangi seluruh ruangan. Atlas tak bisa menahan kata-kata yang keluar selanjutnya, tak bisa menahan racun yang menetes dari setiap suku kata.

"Kau tahu apa yang kupikirkan? Setiap kali aku melihatmu?" Atlas bangkit dari kursinya, kepuasan terpancar dalam dirinya saat Aisha mundur selangkah. "Aku memikirkan bagaimana seharusnya kaulah yang berada di peti mati itu. Bagaimana seharusnya Luna yang berdiri di sini, mengenakan cincinku, membangun masa depan kami."

Langkah kaki Atlas membawanya semakin dekat, setiap langkah terukur, seperti predator. Aroma parfum Aisha menyengat hidungnya – berbeda dari Luna, syukurlah – tetapi itu hanya semakin memicu kebenciannya. Kenapa sih Aisha masih tidak mau pergi?

"Kau selalu menjadi aib keluarga, bukan? Anak liar. Si pembuat onar. Luna menghabiskan seluruh hidupnya membereskan kekacauanmu, dan bagaimana kau membalasnya?" Atlas tertawa, tetapi tidak ada humor di dalamnya. Hanya rasa sakit. Hanya amarah. "Kau membunuhnya. Kau mabuk dan kau membunuh jiwa terindah di dunia terkutuk ini!"

Sikap diam Aisha, penolakannya untuk membela diri, hanya membuat Atlas semakin marah.

"Ada apa, Aisha? Tidak ada yang ingin kau katakan?" Tangannya terulur, mencengkeram rahang Aisha, memaksanya menatapnya. Kulitnya lembut di bawah jari-jarinya, dan dia juga membenci itu. Membenci kenyataan bahwa Aisha bisa merasa hangat dan hidup sementara Luna terbaring dingin di dalam tanah. "Kau banyak bicara malam itu, kan? 'Biarkan aku yang mengemudi, Luna! Aku baik-baik saja, Luna!' Katakan padaku, apakah itu sepadan? Apakah minuman terakhir itu sepadan dengan nyawa Luna-ku?"

"Kau ingin tahu apa yang kakakmu katakan padaku malam itu?" lanjutnya. "Dia mengkhawatirkanmu. Selalu mengkhawatirkan adik perempuannya. Dia bilang dia ingin kita semua menjadi sebuah keluarga." Genggaman Atlas mengencang, dan dia mendekat, membisikkan kata-kata selanjutnya seperti racun. "Baiklah, selamat, sayang. Kita sekarang keluarga. Dan aku berjanji padamu, setiap hari pernikahan ini, setiap napas yang seharusnya menjadi miliknya – aku akan membuatmu berharap kaulah yang berada di kecelakaan itu. Aku akan membuatmu berharap kau tidak pernah selamat."

"Ya Tuhan, aku bahkan tak sanggup melihatmu!" Atlas melepaskan Aisha dengan kasar, lalu kembali ke mejanya, ke wiskinya, ke foto satu-satunya wanita yang akan selalu dicintainya. "Kau hanyalah pengingat terus-menerus tentang bagaimana kau menghancurkan bukan hanya hidupnya, tetapi juga hidupku. Sekarang enyahlah dari pandanganku sebelum aku lupa bahwa aku berjanji pada ayahmu untuk menjaga agar kau tetap hidup."

Aisha terdorong mundur hingga punggungnya menyentuh ubin dinding dingin. Matanya memerah tapi tak ada air mata yang keluar – seolah dia telah belajar untuk menyimpan semua rasa sakit dalam-dalam sejak malam itu. Dia mengusap perlahan rahang yang masih terasa sakit di bawah sentuhan jari-jari Atlas, gerakannya lambat dan penuh rasa sakit.

"Aku tidak pernah berpikir..." Suaranya lemah, hampir tak terdengar di antara gema yang ditinggalkan oleh gelas yang pecah. "...aku tidak pernah berpikir itu akan terjadi."

Atlas hanya menghela napas dengan penuh kemarahan, meraih botol whiskey di mejanya dan menuangkan secangkir lagi tanpa melihat ke arahnya. "Kata-kata tidak ada gunanya lagi, Aisha. Sudah terlambat untuk kata-kata."

Aisha menggigit bibirnya sambil menunduk, "Itu... itu tidak benar. Kau tidak mengerti... Kau tidak tahu apa-apa" bisik Aisha memohon.

Atlas mendengar bisikan wanita itu, "Itu tidak benar," dan tawa getir keluar dari mulutnya, tanpa humor dan tajam. Tidak benar? Sialan, itu tidak benar.

Atlas berbalik perlahan, mata hijaunya, yang biasanya begitu penuh perhitungan dan dingin, kini menyala dengan kobaran api kesedihan dan amarah. "Tidak benar?" ia mengulang, suaranya sangat rendah dan berbahaya, hampir seperti dengungan, tetapi dengan desisan ular berbisa di baliknya. "Apa yang tidak benar, Aisha? Bahwa kau yang mengemudi? Bahwa kau mabuk? Bahwa Luna-ku mati karena ulahmu?"

Aisha hanya menggeleng frustasi berusaha untuk tetap tegar.

"Bukankah begitu?" Atlas melangkah perlahan dan hati-hati ke arahnya, tatapannya tak berkedip, meneliti. "Oh, aku mengerti sepenuhnya. Aku mengerti bahwa aku menghabiskan berbulan-bulan merencanakan masa depan, sebuah kehidupan, dengan seorang wanita yang mencintaiku, yang membuatku merasakan sesuatu selain kekosongan sialan ini." Atlas memberi isyarat samar ke arah dadanya. "Dan aku mengerti bahwa kau, dalam keegoisanmu yang tak terbatas, telah merampas semuanya."

Atlas berhenti beberapa inci di depannya, memaksa gadis itu untuk menatapnya. Air mata yang tertahan di matanya hanya semakin membuat Atlas marah.

"Kau pikir aku tidak tahu apa-apa?" Atlas menunduk, suaranya merendah menjadi bisikan kasar, penuh dengan penghinaan. "Aku tahu Luna meneleponku beberapa menit sebelum kecelakaan itu. Dia tertawa, menceritakan lelucon bodoh yang kau buat sebelumnya hari itu. Dia menyayangimu, terlepas dari dirimu." Matanya menyipit, warna hijaunya berubah menjadi seperti es yang retak. "Dan kau membalasnya dengan menguburnya!."

Atlas tertawa kecil dengan dingin. "Jadi, hentikanlah alasanmu yang menyedihkan itu, Aisha. Jangan bilang 'Aku tidak mengerti.' Tidak ada yang perlu dimengerti. Kau telah membuat kesalahan, dan sekarang kau harus menanggung akibatnya. Bersamaku. Dan setiap pagi kau bangun, setiap napas yang kau hirup, akan menjadi pengingat akan apa yang telah kau curi."

Atlas mundur selangkah, menciptakan jurang yang tiba-tiba di antara mereka. Dia berbalik, berjalan kembali ke mejanya, pandangannya menyapu foto Luna. "Kau mungkin istriku, Aisha, tapi kau tidak akan pernah lebih dari sekadar monumen atas kehilanganku. Sebuah bukti hidup yang terus-menerus atas dosamu yang tak terampuni." Dia mengambil gelas wiskinya lagi, esnya berdentang lembut. "Sekarang, kurasa aku sudah menyuruhmu untuk pergi dari hadapanku."

Aisha hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca menahan gejolak didalam hatinya, rasa bersalah yang meskipun tidak diinginkan selalu muncul.

"Aku akan keluar. Ku mohon makanlah sesuatu, ada makanan di meja makan jika kau lapar" Tanpa menunggu jawaban, Aisha berbalik dan keluar dari ruangan.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
20 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status