ログインSebagai kepala keluarga kriminal Valenti, yang dikenal seantero kota sebagai "Il Macellaio" Atlas Valenti adalah sosok yang ditakuti dan dihormati, dengan pikiran strategis yang cemerlang dan rasa keadilan yang tanpa ampun. Tapi di balik wajah yang bersudut tajam dan tatapan mata hijau yang dingin, tersembunyi luka dalam yang tak pernah sembuh. Pada usia tujuh tahun, dia menyaksikan ibunya terbunuh saat melindunginya dari musuh keluarga. Pada usia 29, dia menemukan cinta sejati dalam diri Luna Moretti, wanita yang mampu menghancurkan tembok emosional yang dia bangun selama bertahun-tahun. Mereka diatur untuk menikah guna menyatukan dua keluarga mafia terkuat di kota: Valenti dengan kekuasaan mereka di bidang real estat dan hubungan internasional, serta Moretti dengan kendali mereka atas pelabuhan dan koneksi politik. Namun Atlas jatuh cinta bukan karena kesepakatan melainkan karena kehangatan dan kebaikan yang hanya Luna bisa berikan padanya. Malam sebelum dia berencana untuk melamarnya dengan cincin keluarga kuno, nasib memutar balik, Aisha, saudara perempuan Luna, mengemudi dalam keadaan mabuk dan menyebabkan kecelakaan yang menewaskan calon istrinya. Didesak oleh ayahnya Marcello Valenti dan tuntutan aliansi yang tak dapat dibatalkan, Atlas terpaksa menikahi Aisha, pengantin pengganti yang menjadi sumber kebencian membara baginya. Setiap hari, dia harus menghadapi wanita yang telah mencuri masa depannya, menggunakan kata-kata dan pengabaian sebagai senjata dalam perang psikologis yang dia lakukan. Sementara itu, dia terus menjaga ingatan Luna hidup dengan cara-cara kecil: mengirim bunga lili putih ke makamnya setiap minggu, menyimpan buku agenda dan cincin pertunangan yang tak terpakai di laci mejanya, dan menghindari setiap tempat yang pernah mereka kunjungi bersama. Namun, ketika ancaman dari keluarga saingan mulai mengintai dan kedudukan keluarga Valenti terancam, Atlas harus menghadapi pilihan yang sulit: apakah dia akan terus terjebak dalam kesedihan dan kebencian yang menghancurkan dirinya, ataukah dia akan menemukan cara untuk melepaskan masa lalu dan melindungi apa yang tersisa?
もっと見るVittorio, Ayah Aisha, kini berdiri di antara Aisha dan Atlas. Tangannya mencengkeram erat kerah jas Atlas, wajahnya merah padam karena amarah. Ia menarik Atlas dengan kasar, memaksa pria itu menjauh dari Aisha.Para pengawal Vittorio segera bergerak. Dua dari mereka langsung mendekati Atlas, tangan mereka sudah berada di dekat senjata yang tersembunyi. Pengawal lainnya membentuk perisai di sekeliling Aisha, mencoba melindunginya, meskipun Aisha masih berlutut, terlalu lemah untuk bergerak.Atlas tidak mundur. Bahkan saat Vittorio mencengkeram kerahnya dan menariknya, tubuhnya yang berotot menegang, dan matanya yang hijau menyala dengan kemarahan yang membara. Ia tidak pernah suka disentuh, apalagi ditarik seperti itu."Lepaskan aku, Vittorio," geram Atlas, suaranya rendah dan berbahaya, penuh ancaman yang tak terucap. Ia tidak mencoba melepaskan cengkeraman Vittorio, ia hanya berdiri tegak, membiarkan kemarahan membangun di dalam dirinya. Ia menatap mata Vittorio, sebuah duel tatapan
Atlas merasakan tubuh Aisha menegang di bawah cengkeramannya. Dia melihat mata Aisha terpejam erat, sebuah perlawanan pasif yang tak berarti apa pun baginya. Dia meletakkan tangannya di rambut Aisha, menikmati rasa sakit yang pasti dirasakannya. Rasa sakit itu menginginkan setiap sentuhan, setiap kata, setiap tatapan menjadi siksaan."Bukalah matamu, Aisha," bisik Atlas, suaranya rendah dan mengancam, tepat di telinga Aisha."Kau tidak akan diizinkan bersembunyi. Tidak di sini. Tidak sekarang." Dia menarik rambut Aisha sedikit, sebagai pengingat."Lihatlah dia. Lihatlah dia. Dan akui dosa-dosamu."Tepat saat itu, sebuah suara yang familiar memecah keheningan pemakaman. Deru beberapa mobil yang mendekat, diikuti oleh suara orang-orang yang berbicara. Atlas merasakan ketegangan yang tiba-tiba. Dia tidak menyangka akan ada kunjungan lain hari ini. Dia menoleh, mata hijaunya menyipit tajam, mengamati dari mana suara itu berasal.Beberapa detik kemudian, tiga mobil hitam mewah berhenti tid
Tubuh Aisha terhuyung-huyung, kakinya yang lemas nyaris tidak mampu menopangnya. Ia tersandung, namun Atlas tidak melepaskannya. Ia menariknya dengan paksa, menyeretnya melewati pintu mobil yang masih terbuka, ke udara dingin di luar. "Kau akan menghadapinya," bisik Atlas, suaranya sedingin angin yang menusuk tulang. "Kau akan menghadapinya, bahkan jika aku harus mengikatmu ke nisan itu sendiri." Aisha terseret, kakinya terseret di tanah berbatu yang dingin, air matanya bercampur dengan angin. Ia mencoba melawan, mencoba menarik tangannya, namun kekuatannya tidak sebanding dengan Atlas. Ia adalah boneka di tangannya, diseret menuju takdir yang mengerikan. Setiap langkah membawa mereka semakin dekat ke makam Luna, ke neraka yang telah Atlas janjikan. Dan Aisha juga mulai semakin takut pada pemakaman itu, berkat pikiran yang mulai tertanam perlahan di otaknya. Kaki Aisha terseret di atas kerikil dan tanah yang dingin, setiap gesekan adalah siksaan baru yang menembus ke dalam tulang.
Mobil melaju dengan mulus, suara mesin yang senyap dan kemewahan interior tidak mampu menyembunyikan ketegangan yang menyesakkan. Aroma kulit mahal bercampur dengan bau asap cerutu yang samar dari Atlas, dan kini, sedikit bau air mata dan ketakutan Aisha.Mobil terus melaju, keluar dari hiruk pikuk kota, menuju pinggiran yang lebih sepi, menuju sebuah tempat yang akan menjadi medan pertempuran baru dalam perang dingin mereka. Aisha terperangkap, sepenuhnya tidak berdaya, di samping pria yang telah bersumpah untuk menghancurkan hidupnya. Tubuh Aisha masih gemetar tak terkendali, getaran yang berasal dari inti jiwanya. Ia mencengkeram kain gaunnya, buku-buku jarinya memutih. Aisha ingin berteriak, ingin memohon, ingin melawan, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya terasa berat, menempel di langit-langit mulut.Mobil terus melaju, melahap jarak. Pemandangan di luar jendela, bangunan-bangunan kota yang mulai digantikan oleh pepohonan yang rimbun, seperti ilusi. Aisha tidak bis
Atlas tidak langsung menjawab setelah Marco mengatakan kalimat itu. “…di dapur umum sebuah gereja kecil.” Keheningan menggantung di ruang kerja. Atlas bersandar di kursinya, rahangnya mengeras. Gereja. Dari semua tempat di New York, Aisha memilih gereja. "Apa yang dia lakukan di sana?" tanyanya
Malam telah tiba, menyelimuti mansion Valenti dalam selubung kegelapan. Atlas masih berada di ruang kerjanya. Cahaya lampu meja menyoroti tumpukan dokumen yang sedang ia baca, menciptakan lingkaran terang kecil di tengah ruangan yang luas. Perutnya bergemuruh pelan, tetapi harga dirinya lebih keras
Ruang makan kembali sunyi setelah Atlas pergi. Langkah kakinya menghilang di koridor mansion yang panjang, meninggalkan Aisha sendirian di meja makan yang terlalu besar untuk satu orang. Pintu masih sedikit terbuka. Angin sore yang lembut masuk dari jendela tinggi, membuat tirai bergerak pelan. Sar
Ruang makan mansion Valenti begitu luas hingga terasa hampir kosong. Meja makan panjang dari kayu ek mengilap itu mampu menampung lebih dari dua puluh orang, tetapi pagi itu hanya ada satu nampan sarapan yang diletakkan dengan rapi di salah satu ujungnya. Telur orak-arik, roti panggang, dan semang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.