Aisha terdiam, meringkuk dalam kesedihan dan rasa bersalahnya, saat suara ponsel Atlas memecah keheningan. Ia hanya bisa mendengar gumaman satu sisi percakapan, namun nada suara Atlas yang mendadak berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh otoritas, sudah cukup untuk memberitahunya bahwa sesuatu yang penting telah terjadi.Ekspresi Atlas yang berubah drastis, dari kemarahan pribadi menjadi kekejaman seorang bos mafia, membuat Aisha merasa semakin kecil dan tak berarti."Kita pergi. Sekarang."Perintah itu, singkat dan tanpa emosi, menusuknya seperti es. Atlas berbalik begitu saja, melangkah cepat menuju mobil, meninggalkannya sendirian di hadapan nisan Luna yang dingin.Aisha tidak bisa bergerak. Kakinya terasa terpaku di tanah, pikirannya masih terperangkap dalam siksaan yang baru saja Atlas berikan padanya. Ia membiarkan Atlas membuka pintu mobilnya sendiri, duduk di kursi penumpang belakang, sebelum akhirnya, dengan sisa-sisa kekuatannya, ia menyeret dirinya untuk mengikuti.Marco, y
Read more