“Ya puan, aku pikir dia bakal nembak kita tadi!” kata Jeni sambil memegang dada, masih syok berat. “Mereka nggak sebodoh itu,” jawab Budi dengan suara tenang. “Kita nggak ada dendam apa-apa sama mereka, jadi mereka juga nggak mau ambil risiko. Lagian, kita dapat senapan dari situ. Lumayan lah.” Sebenarnya, Budi sendiri agak terguncang dengan kejadian barusan. Dia marah sekaligus lega. Untung lawan nggak nekat tembak. Mobil sih sekarang udah nggak terlalu berharga. Bensin malah lebih mahal daripada mobil itu sendiri. Kalau dia jual senapan ini, mungkin bisa dapet ratusan liter bensin, atau bahkan puluhan mobil bekas. “Mbak Jen, kamu bisa pakai senapan nggak?” tanya Budi sambil menyerahkan senapan itu ke Jeni. Jeni menggeleng sambil mencoba memegangnya. “Belum pernah pegang yang beginian. Bidikanku pasti jelek.” “Ya udah, tetap lebih bagus daripada aku yang nol besar,” goda Budi sambil tersenyum kecil. Jeni berusaha mengangkat senapan itu, tapi lengannya langsung turun karena bera
Last Updated : 2026-05-14 Read more