Alam semesta seringkali digambarkan sebagai tempat yang sunyi, namun bagi peradaban yang dipimpin oleh Surya Wijaya, antariksa adalah simfoni data, transmisi saraf, dan getaran kehidupan yang tak henti-hentinya. Namun, semua itu berubah dalam satu milidetik yang mengerikan. Saat matahari buatan di atas Kota Wijaya Baru sedang berada di puncaknya, sebuah gelombang kejut berwarna abu-abu pucat menyapu seluruh dua belas dimensi.Seketika, suara menghilang. Bukan hanya suara yang merambat melalui udara, tetapi semua bentuk komunikasi. Sinyal radio mati, transmisi siber Ares terputus, bahkan neural-link yang menghubungkan jutaan rakyat Wijaya menjadi kosong. Dunia mendadak menjadi film bisu yang mencekam. Jutaan orang membuka mulut untuk berteriak, namun tidak ada getaran yang keluar dari pita suara mereka.Surya Wijaya sedang berdiri di ruang taktik Ares-Zenith bersama Amara dan Yuki Sato saat gelombang itu menghantam. Ia merasakan sensasi dingin yang menusuk di pangkal otaknya—seolah-ola
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-12 Mehr lesen