Mobil sport hitam melaju kencang di jalanan yang sunyi. Pria di kursi pengemudi tenggelam dalam bayangan, ekspresinya sulit terbaca."Emma ...." Brody bergumam, hatinya penuh rasa bersalah dan penyesalan. Dia menghantam setir dengan keras. Ponsel di sampingnya tiba-tiba berdering. Dia menghentikan mobil, membuka layar, lalu menjawab. Suara neneknya langsung terdengar."Brody, sudah ketemu Emma? Apa yang dia bilang? Apakah dia sudah memaafkan kita?"Hati Brody mencelos, tapi dia tetap menenangkan neneknya, "Emma begitu baik dan pengertian, dia pasti akan memaafkanku."Tangisan neneknya semakin keras, "Aku benar-benar menyesal, dulu aku bahkan menamparnya. Sekarang dia pasti menyalahkanku."Pikiran Brody sudah kacau, dia hanya bisa berkata, "Nenek, nanti aku telepon lagi. Istirahat dulu."Untuk pertama kalinya, dia langsung menutup telepon dan memutus tangisan neneknya. Brody sudah lama berhenti merokok, karena Emma tidak suka bau rokok. Namun sekarang, dia tidak tahu harus bagaimana mel
Ler mais