Short
Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia

Yang Kukira Cinta, Ternyata Belum Tentu Setia

Oleh:  MaharsaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
22Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Semua orang bilang, Brody cinta mati terhadap Emma. Dia mengejar Emma selama sepuluh tahun dan memanjakannya selama itu pula. Bahkan hanya karena dia mengernyit sedikit saja, Brody bisa merasa sakit hati setengah hari. Namun, Brody yang seperti itu malah mengkhianatinya sampai tiga kali berturut-turut. Pertama kali, di sebuah pesta bisnis. Dia dibius oleh lawannya dan menghabiskan semalaman dengan seorang mahasiswi. Pada hari Emma mengajukan cerai, dia langsung mengirim wanita itu ke luar negeri malam itu juga, lalu berdiri di bawah apartemen Emma sambil kehujanan selama tiga hari tiga malam. Dia berkata, "Emma, aku salah, maafkan aku kali ini." Emma menatap wajahnya yang pucat, hatinya pun luluh.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Kedua kalinya, Emma memergokinya di rumah sakit sedang menemani mahasiswi itu untuk pemeriksaan kehamilan.

Dengan mata merah, dia menjelaskan, "Emma, setengah bulan lalu aku ke luar negeri untuk negosiasi kerja sama, lalu mengalami kecelakaan mobil. Dia yang mempertaruhkan nyawanya, menyelamatkanku saat mobil hampir meledak, jadi nyawaku bisa selamat."

"Setelah itu, baru ketahuan dia hamil. Nenek mengancam dengan nyawanya agar aku mempertahankan anak ini."

Brody memeluk Emma dengan erat, bahkan suaranya gemetar, "Jangan tinggalkan aku, ya? Aku bersumpah, setelah dia melahirkan, aku bakal usir dia. Anaknya akan ditinggal di rumah lama, mereka nggak akan pernah muncul lagi di hadapanmu seumur hidup."

Emma pun percaya.

Ketiga kalinya di sebuah lelang, Brody bersaing dengan Emma untuk merebut peninggalan ibunya.

Kalung safir itu adalah perhiasan kesayangan ibunya semasa hidup, sekaligus satu-satunya kenangan yang ditinggalkan untuknya.

Namun setiap kali Brody mengangkat papan penawaran, nilainya semakin tinggi dan bahkan di akhir dia langsung memberi penawaran harga maksimal dan memberikan kalung itu kepada mahasiswi tersebut.

Emma menerobos masuk ke ruang VIP dan menanyainya, tapi Brody hanya memijat pelipisnya dengan lelah. "Belakangan ini dia depresi sebelum melahirkan dan kebetulan suka sama kalung ini. Emma, mengalah saja sama dia, ya?"

Di saat itu, Emma tiba-tiba tertawa sampai air matanya mengalir.

"Kalau aku nggak mau mengalah?"

Dia mengernyit dan berkata, "Emma, jangan bikin masalah. Frida sebentar lagi akan melahirkan. Setelah anaknya lahir, semuanya akan kembali seperti dulu."

Emma menatapnya, hatinya terasa tersayat-sayat. "Kembali seperti dulu?"

Seperti apa dulu itu? Saat di matanya hanya ada Emma seorang? Atau saat dia rela mengemudi tiga jam di tengah hujan deras hanya untuk membelikan Emma sepotong kue stroberi?

Apa Brody masih ingat?

"Pak Brody ...."

Dari belakang terdengar seruan kaget Frida. Dia memegangi perut dengan wajah pucat sambil bersandar di dinding. "Kakiku terkilir ... sakit sekali ...."

Ekspresi Brody langsung berubah drastis. Seketika, dia langsung mendorong Emma menjauh, lalu bergegas memeluk Frida.

Bahu pria itu menghantam tubuhnya dengan keras. Dia terhuyung mundur dan pinggangnya membentur sudut meja dengan keras. Rasa sakit membuat keringat dingin langsung membasahi punggungnya.

"Brody!" panggil Emma dengan suara gemetar.

Namun, Brody bahkan tidak menoleh. Dia langsung pergi dengan langkah besar sambil menggendong Frida, hanya menyisakan bayangan punggung yang tergesa-gesa.

Emma berdiri di tempat. Semakin tertawa, air matanya malah semakin mengalir deras.

'Jasa karena telah menyelamatkan nyawa, ditambah lagi ada seorang anak yang menjadi pengikat di antara mereka. Brody, kamu nggak akan bisa lepaskan dia lagi seumur hidup. Lalu, bagaimana kita bisa kembali lagi seperti dulu ....'

Emma terhuyung berdiri dan perlahan mengusap darah di sudut dahinya, lalu naik ke dalam mobil.

Sopir bertanya dengan hati-hati, "Nyonya, kembali ke vila?"

"Nggak." Emma memejamkan mata dan menjawab, "Ke kantor pengacara."

Dua jam kemudian, Emma membawa perjanjian cerai yang baru saja selesai dibuat, pergi ke rumah sakit.

Di luar ruang VIP lantai teratas, para pengawal menundukkan kepala dengan canggung saat melihatnya.

Emma berdiri di ujung koridor, melihat Brody menyewa satu lantai penuh untuk Frida dengan dokter dan perawat siap siaga kapan saja. Brody sendiri tidak pernah menjauh dari sisi ranjangnya, bahkan jika melihat Frida mengernyit sedikit saja, seolah-olah langit akan runtuh kapan saja.

"Aku ingin makan tiramisu dari toko dessert di sisi barat kota ...," kata Frida dengan nada manja.

Brody tidak ragu sedetik pun. Dia mengambil kunci mobil dan langsung berjalan keluar. "Tunggu aku, aku segera kembali."

Emma berdiri di kegelapan, hatinya terasa sakit seakan dirobek hidup-hidup.

Setelah Brody pergi, barulah Emma mendorong pintu kamar.

Melihatnya, mata Frida langsung memerah. "Bu Emma, kamu datang untuk menyalahkanku? Maaf, aku benar-benar nggak sengaja, aku hanya terlalu menyukai kalung itu ...."

Air matanya menggenang dan suaranya tercekat, "Walaupun Pak Brody merebutnya darimu lalu memberikannya padaku, itu hanya supaya aku bisa melahirkan dengan lancar, lalu kembali ke masa lalu bersamamu. Tadi dia merawatku, tapi di hatinya yang dipikirkan tetap kamu. Aku tahu itu."

"Di sini cuma ada kita berdua, nggak usah pura-pura." Emma tidak berminat menikmati aktingnya yang sempurna. "Dulu Brody ngasih kamu 100 miliar agar kamu pergi, tapi kamu tetap muncul lagi di hadapannya, bahkan dalam keadaan hamil. Aku sangat paham apa yang kamu inginkan."

Air mata di wajah Frida langsung membeku.

"Aku nggak mau ikut campur dalam permainan kalian lagi." Dia menyerahkan sebuah perjanjian cerai. "Kalau aku sendiri yang kasih perjanjian ini, dia nggak akan tanda tangan. Kamu cari cara supaya dia tanda tangan tanpa dia sadari."

Frida menggigit bibirnya dan berkata, "Kamu salah paham, aku nggak pernah ingin merusak hubungan kalian ...."

"Kesempatan hanya sekali." Emma memotongnya, "Pikirkan baik-baik."

Frida menatap perjanjian itu cukup lama, akhirnya mengulurkan tangan dan menerimanya. "Terima kasih Bu Emma sudah merestui kami bertiga."

Kami bertiga.

Dada Emma seperti ditusuk pisau tumpul dengan keras, rasa sakitnya membuat napasnya bergetar.

"Kalau begitu aku doakan kalian ... bertiga, bahagia selamanya."

Setelah kembali ke vila, Emma mengeluarkan sebuah kotak kardus dan mulai membereskan semua hal yang berhubungan dengan Brody. Dia dan Brody tumbuh bersama sejak kecil, kenangan mereka terlalu banyak untuk dihitung.

Barang pertama yang dia masukkan ke dalam kotak adalah sebuah album foto.

Saat membuka halaman pertama, terlihat foto mereka saat berusia lima tahun. Di foto itu Brody mengenakan jas kecil sambil berdiri kaku di sampingnya, tapi tangannya diam-diam menarik ujung rok Emma. Ibu Brody pernah bilang, hari itu Brody mati-matian tidak mau difoto sendirian dan bersikeras harus bersama Emma.

Itu adalah pertama kalinya Brody menunjukkan rasa ingin memiliki terhadapnya.

Barang kedua adalah kancing seragam SMA.

Pada hari kelulusan, semua siswi berebut kancing milik para siswa. Emma hanya duduk di tempat tanpa bergerak. Namun saat pulang sekolah, Emma menemukan sebuah kancing milik Brody tergeletak diam di dalam laci meja, bersama selembar kertas bertuliskan:

[ Kamu cuma boleh ambil punyaku. ]

Saat itu, Brody sudah belajar menggunakan statusnya sebagai Tuan Muda Keluarga Sukarsa untuk membuat para siswa lain tidak berani mendekati Emma.

Barang ketiga adalah sebuah cincin berlian.

Pada hari Brody baru mencapai usia legal untuk menikah, dia sudah tidak sabar melamar Emma di layar raksasa gedung CBD. Di tengah kelopak mawar yang berjatuhan dari helikopter, cincin berlian itu memancarkan kilau dingin di tangannya.

Brody sendiri yang memakaikannya di jari Emma, sorot matanya dipenuhi cinta. "Emma, sisa hidupku nanti adalah milikmu."

....

Jika tidak ada Frida, Emma sempat mengira bahwa mereka benar-benar bisa bersama sampai tua. Dia tersenyum pahit dan memasukkan semua itu ke dalam kotak kardus, lalu membuangnya sekaligus ke tempat sampah.

Keesokan paginya, Emma terbangun karena keributan dari bawah.

Begitu keluar, dia melihat para pelayan sedang membawa masuk barang-barang mewah ke ruang tamu satu per satu.

Tas Hermes, perhiasan Cartier, busana haute couture dari Chanel ....

Frida berdiri di aula sambil menggeleng lemah, "Pak Brody, ini terlalu mahal. Aku nggak pernah berpikir untuk minta semua ini ...."

Brody menatapnya dengan lembut. "Dengar, kalau aku belikan buat kamu, terima saja. Perasaanmu harus bahagia supaya anaknya bisa lahir dengan lancar."

Begitu selesai bicara, dia melihat Emma.

Ekspresinya langsung kaku dan segera berkata, "Emma, maaf, kali ini aku cuma beli hadiah untuk Frida. Kamu mau apa, nanti lain kali aku belikan."

Sebelum Emma sempat bicara, Frida sudah lebih dulu berkata lembut, "Pak Brody, aku sudah menyiapkan hadiah yang paling diinginkan Bu Emma."

Setelah itu, dia berjalan ke arah Emma dan menyerahkan sebuah map dokumen.

Emma membukanya, baru menyadari bahwa di dalamnya adalah perjanjian cerai yang sudah ditandatangani. Tanda tangan Brody terlihat tegas, sama persis seperti tulisan tangan Brody saat dulu menulis surat cinta untuknya.
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
22 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status