Pinggang rampingnya yang semula tegang langsung melemas, disertai gumaman lirih “hmm …”, lalu kembali terkulai di pelukanku.Melalui dua lapisan kain tipis itu, aku bisa merasakan napas hangat yang dihembuskannya, yang mengirimkan sensasi geli di perut bagian bawahku.Gumaman pelan itu menjadi rangsangan besar, mendorong tangan kananku untuk terus menjelajah ke bawah, hingga menutupi bagian bokongnya dan hampir menyentuh area paling sensitif.Aku menggenggamnya erat, dan buku-buku jariku tenggelam ke dalam daging yang lembut itu.Sensasi yang kurasakan benar-benar membuatku takjub. Bahkan dari luar rok saja sudah terasa betapa penuh dan elastisnya pinggul Fanny.Sekarang … kulit yang hangat, ditambah reaksi tegang yang halus, membuatku semakin sulit menahan diri.Napas Fanny berubah, matanya menjadi sayu, dia menggigit bibirnya lalu berbisik, “Jangan sentuh lagi, ya?”Aku merangkak di atasnya dan berbisik, “Sebentar lagi saja.”“Apa kamu masih mau menonton videonya?”Aku menyelipkan po
Read More