Malik berdiri kaku di tepi tebing tanah liat. Implan di lehernya mendadak berderit nyaring, memancarkan panas yang membakar kulit. Cahaya merah kusam memancar dari balik pori-pori lehernya, mengikuti irama denyut kota di bawah. "Malik?" Zhafirah melangkah mendekat, menyentuh lengan pria itu. "Ada apa? Implanmu!" Zhafirah tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara berdengung berfrekuensi ultra-tinggi mendadak meledak di dalam ruang dengar mereka. Bukan suara yang merambat melalui udara, melainkan gelombang elektromagnetik mentah yang langsung menghantam saraf pendengaran. Malik mengerang keras, kedua tangannya mencengkeram kepalanya, merobek kulit pelipisnya sendiri saat tubuhnya kejang hebat. Lalu pendangan Malik berubah. Pupil matanya mengecil menjadi titik hitam yang steril. Seluruh kehangatan, amarah, dan rasa kemanusiaan yang baru saja mereka perjuangkan menguap dalam hitungan milidetik. Tatapannya menjadi kosong, dingin, dan mekanis. Sebuah cangkang kosong yang di
Última actualización : 2026-08-24 Leer más