Rumah kaca tua ini berdiri di belakang kawasan Keluarga Bellandi, terbengkalai sejak atap kacanya retak akibat badai salju beberapa tahun lalu.Aku memilih tempat ini karena tidak ada seorang pun yang datang ke sini pada malam hari. Karena ini, orang yang menemukanku nanti pun tidak mungkin adalah Ibu.Sebelum duduk di lantai, aku membuka kunci ponselku dan meninggalkan sebuah video singkat di layar.Dalam video itu, wajahku terlihat jauh lebih pucat daripada yang kubayangkan.“Ibu … aku akan pergi.”“Jangan mencariku. Jangan menungguku.”“Dan kalau bisa … pelan-pelan lupakan aku.”Saat Julian menemukanku, hawa dingin sudah meresap jauh ke dalam tubuhku.Kesadaranku mulai mengabur. Pikiranku terasa melayang dan perlahan memudar.Untuk sesaat, aku bahkan mengira program akhirnya melepaskanku.Lalu sebuah mantel jatuh menutupi bahuku.Julian berjongkok di hadapanku, memeriksa denyut nadiku dengan dua jari, lalu mengumpat pelan, “Isabella, apa yang kamu lakukan?”Dia masih mengenakan sete
Ler mais