Saat program mengatakan bahwa aku bisa kembali, aku tidak merasakan kebahagiaan.Tidak ada rasa lega.Tidak ada kegembiraan.Yang tersisa hanyalah kehampaan.Ketika membuka mata lagi, yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit berwarna putih.Suara mesin monitor berdenting pelan di sampingku.Tenggorokanku terasa terbakar, seolah aku telah tertidur selama bertahun-tahun.Seorang perawat melihatku sadar dan segera berlari mendekat.“Kamu sudah selamat,” katanya. “Kamu terlibat dalam ledakan di dermaga. Sophia Lusinta nggak berhasil selamat.”Jari-jariku mencengkeram seprai.Sophia sudah mati.Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, perawat itu melanjutkan, “Ada satu korban lainnya yang selamat. Itu pria muda bernama Leo. Dia juga baru sadar pagi ini.”Saat ini pula, pintu kamar terbuka.Leo berdiri di sana.Tubuhnya lebih kurus daripada yang kuingat.Wajahnya pucat.Sebuah tongkat menopang langkahnya.Namun, dia masih hidup.Saat mata kami bertemu, senyum tipis muncul di wajahnya.“Ka
Ler mais