Zayn menarik Layla kembali ke dalam pelukannya. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih panas, lebih mendesak. Ciuman yang tadi lembut berubah menjadi gairah yang tak tertahankan. Lidah Zayn menyusup masuk, menjelajahi mulut Layla dengan lapar, seolah ingin menelan seluruh keraguan yang masih tersisa di antara mereka.Layla mendesah di bibir Zayn. Tangan pria itu menyusup ke balik gaunnya, menyentuh kulit punggung yang hangat dengan tegas. Ia membalik tubuh Layla hingga gadis itu terbaring di bawahnya."Zayn… kau masih lemah," bisik Layla khawatir, tapi suaranya sudah parau.Zayn tersenyum tipis di lehernya. "Tapi aku ingin memuaskanmu," jawabnya serak. "Itu imbalan untuk kerja kerasmu tadi."Ia mencium Layla lagi, lebih dalam, lebih mendominasi. Tangan Zayn menjelajahi tubuh gadis itu dengan ahli—menyentuh payudaranya, menggoda puncaknya hingga Layla melengkung dan mendesah keras. Bibir Zayn turun ke leher, ke dada, lalu ke perut Layla, meninggalkan jejak ciuman panas di setiap inc
Leer más