Pagi berikutnya, Lin Yuechan terbangun ketika cahaya matahari menyelinap melewati celah tirai kamarnya. Ia membuka mata perlahan, lalu menatap langit-langit dengan pandangan kosong selama beberapa saat. Setelah menyadari bahwa dirinya berada di paviliun kediaman Jiang, Yuechan menarik selimut hingga menutupi dagunya. “Lima menit lagi,” gumamnya. Sayangnya, kedamaian itu tidak berlangsung lama. “Nona!” Suara Qing’er terdengar dari balik pintu. “Apakah Nona sudah bangun?” “Sudah.” “Kalau begitu, Qing’er masuk!” “Jangan!” Terlambat. Pintu terbuka, dan Qing’er muncul dengan membawa baskom berisi air hangat. Begitu melihat majikannya masih bersembunyi di balik selimut, ia langsung menghela napas panjang. “Nona, matahari sudah tinggi.” Lin Yuechan menarik selimut lebih erat. “Kalau begitu, suruh matahari turun lagi.” Qing’er terdiam. Ia menatap Lin Yuechan dengan ekspresi seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. “Nona, besok Anda akan m
Huling Na-update : 2026-10-19 Magbasa pa