Tangisan histeris Ibu Ratna mendadak berhenti.Suara sirine bahaya kebangkrutan yang sejak pagi bergaung di kantor Pratama Group seolah lenyap dari kepalanya. Wanita tua itu mengusap air matanya kasar, menatap potongan surat penyitaan dari Vance Group yang berserakan di atas lantai marmer.Matanya membelalak lebar, memancarkan binar aneh yang mendadak muncul di tengah kepanikan."Rendra..." bisik Ibu Ratna. Suaranya yang tadi melengking kini berubah pelan dan memburu.Rendra yang sedang terduduk lesu di lantai, menyandarkan punggungnya pada kaki sofa, mendongak lambat. Wajahnya kusam, matanya merah tanpa sisa wibawa."Apa lagi, Ma? Semuanya sudah selesai," gumam Rendra pasrah. "Besok pagi kantor ini disita. Rumah kita juga menyulul."Ibu Ratna berlutut di hadapan Rendra. Tangan wanita tua itu mencengkeram kedua bahu anaknya erat-erat."Belum selesai! Kita masih punya satu kesempatan emas!"Rendra mengerutkan keningnya. "Kesempatan apa? Bank memblokir rekening kita, investor kabur, dan
Terakhir Diperbarui : 2026-08-04 Baca selengkapnya