เข้าสู่ระบบ"Anak itu bukan anakku!" Satu kalimat itu sudah cukup untuk menghancurkan segalanya. Malam itu, Rendra mengusir Shena yang sedang hamil tua ke tengah hujan deras atas fitnah yang tidak pernah ia lakukan. Tanpa kesempatan membela diri, tak ada seorang pun yang mau mendengar penjelasannya. Yang Rendra tidak tahu, wanita yang baru saja ia buang ternyata adalah putri kandung dari salah satu orang paling berkuasa di Asia. Lima tahun kemudian, Shena kembali sebagai pribadi yang sama sekali berbeda. Ia bukan lagi wanita malang yang dicampakkan di bawah derasnya hujan. Kini, hanya dengan melangkah masuk, kehadirannya cukup untuk membuat seisi ruang rapat menegang. Ia tidak pulang untuk memaafkan. Ia pulang untuk membuat perhitungan.
ดูเพิ่มเติม"Keluar dari rumahku."
Rendra tidak berteriak. Justru nada suaranya yang datar membuat dada Shena sesak.
Shena membeku.
Tangannya refleks memeluk perutnya yang membuncit. Kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan. Tinggal menunggu waktu sebelum bayi mereka lahir. Namun malam itu, alih-alih menyambut kelahiran anak pertama, suaminya justru mengusirnya.
"Mas... dengarkan aku dulu." Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Aku nggak pernah mengkhianatimu."
Rendra melemparkan sebuah foto ke atas meja kaca hingga berhenti tepat di depan Shena.
"Masih mau menyangkal?"
Tatapan Shena langsung jatuh pada foto itu.
Tubuhnya gemetar.
Ia bahkan tidak pernah melihat foto itu sebelumnya.
"Ini... ini fitnah."
"Fitnah?" Rendra tertawa hambar. "Kalau begitu jelaskan kenapa ada foto ini. Jelaskan kenapa hasil laboratorium menunjukkan anak yang kamu kandung bukan darah dagingku."
Shena menggeleng cepat.
"Tidak... itu tidak mungkin."
Di samping Rendra, Ibu Ratna mengembuskan napas panjang seolah ikut bersedih. Namun sorot matanya justru menyimpan kepuasan.
"Mama sudah berusaha membelamu, Shena."
Suara wanita itu terdengar lembut. Terlalu lembut.
"Tapi bukti tidak pernah berbohong."
Kertas hasil laboratorium dilemparkan begitu saja ke pangkuan Shena.
Napas Shena tercekat. Penglihatannya mendadak kabur oleh sapuan air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.
Ia tidak mengerti dari mana semua tuduhan itu berasal.
Yang ia tahu hanya satu...
Ia tidak pernah mengkhianati suaminya.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu, Mas. Sembilan bulan ini, tidak ada satu hari pun aku….."
"Sudah cukup." Rendra memotong, suaranya turun menjadi bisikan tajam yang justru lebih menakutkan daripada teriakan. Ia berbalik, tak mau menatap wajah istrinya lebih lama.
"Aku tidak tahu lagi harus percaya yang mana. Foto ini sudah menunjukkan semuanya."
Shena menggeleng, air matanya jatuh satu-satu.
"Aku tidak berbohong!"
Shena bangkit dari sofa, meski tubuhnya limbung karena beban kehamilan yang sudah memasuki minggu-minggu terakhir.
"Rendra, tolong, lihat aku. Kamu yang selama ini kenal aku. Lima tahun kita menikah, apa kamu benar-benar percaya aku melakukan ini?"
Untuk sesaat, ada keraguan yang melintas di mata Rendra. Sesuatu yang hangat, yang mungkin masih tersisa dari cinta yang pernah mereka bangun bersama. Tapi Ibu Ratna cepat menangkap celah itu.
"Rendra."
Suaranya kali ini lebih mendesak.
"Jangan biarkan dia memanipulasimu lagi," desis Ibu Ratna, matanya menyipit sinis ke arah Shena. "Usir dia. Sekarang. Malam ini juga, sebelum semuanya semakin rumit."
Sebelum semuanya semakin rumit. Kalimat itu terlontar begitu cepat, begitu tegas, hingga bahkan di tengah kekacauannya sendiri, Shena sempat merasakan ada yang janggal. Tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya. Rendra sudah berbalik lagi, kali ini dengan tatapan yang telah mengeras sepenuhnya.
"Keluar," ucapnya pelan, namun tajam. "Malam ini juga."
"Rendra, di luar hujan. Aku hamil sembilan bulan, kamu tidak bisa…."
"Aku bilang, keluar!" Kali ini suaranya meledak penuh dengan kemarahan.
Shena berdiri terpaku. Sekujur tubuhnya gemetar dikarenakan rasa dingin yang mulai merayapi kulitnya, hatinya pun terasa sangat hancur. Rumah yang selama ini ia sebut rumah, laki-laki yang selama ini ia percaya sebagai pasangan hidupnya, kini menjadi orang asing yang menatapnya seolah ia adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Ia menoleh sekali lagi ke arah Rendra, berharap ada seseorang yang bisa menahannya bahkan memperjuangkannya.
Tidak ada.
Dengan langkah yang lemah, ia meraih mantel tipisnya dan berjalan menuju pintu. Ibu Ratna mengikutinya, seolah ingin memastikan kepergian itu benar-benar terjadi.
Di ambang pintu, tangan Ibu Ratna tiba-tiba terulur, menyentuh liontin kecil yang tergantung di leher Shena. Peninggalan satu-satunya yang ia miliki sejak kecil, sesuatu yang tak pernah ia lepas meski ia sendiri tak pernah tahu dari mana asalnya.
Jemari Ibu Ratna gemetar saat menyentuh logam kecil itu. Bukan rasa amarah. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang mirip ketakutan. Selama sepersekian detik, wajah wanita itu berubah pucat, matanya melebar seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu yang telah lama ia kubur.
Lalu secepat itu juga, tangan itu ditarik kembali, seolah liontin itu membakar kulitnya.
"Pergi," desis Ibu Ratna, suaranya kini nyaris tak terkendali. "Pergi sekarang, jangan pernah kembali."
Shena tidak sempat memahami keanehan itu. Pikirannya sudah terlalu penuh oleh rasa sakit, oleh pengkhianatan, oleh ketakutan akan nasib anak yang dikandungnya. Pintu tertutup di belakangnya, dan dunia yang selama ini ia kenal resmi berakhir malam itu.
Hujan turun semakin deras ketika Shena melangkah menyusuri trotoar yang lengang. Tanpa payung, tanpa tujuan, ia terus berjalan sambil memeluk perutnya yang membuncit. Air mata bercampur dengan air hujan hingga ia sendiri tak lagi mampu membedakan mana yang lebih dingin.
Perutnya berkontraksi tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menjalar dari punggung hingga ke perut bagian bawah. Ia berhenti, bersandar pada tiang lampu jalan yang basah, mencoba mengatur napas.
"Tolong..." bisiknya lemah, meski tak ada siapa pun yang mendengar.
Pandangannya mulai kabur. Lampu-lampu jalan berpendar menjadi bayangan tak jelas, suara hujan berubah menjadi dengungan jauh di telinganya. Langkahnya lemah sekali lagi sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke aspal basah, dan dunia menjadi gelap total.
Mobil sedan hitam melaju pelan menyusuri jalan yang sama, ketika sopir tiba-tiba menginjak rem mendadak.
"Ada orang di jalan!" seru sang sopir panik.
Adrian tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Pintu mobil terbuka lebih dulu sebelum Hermawan yang duduk di sampingnya sempat bereaksi.
"Adrian, tunggu.. apa yang…"
Tapi Adrian sudah berlari menembus hujan, menuju sosok perempuan yang tergeletak tak berdaya di aspal, ia terkejut melihat perutnya yang membuncit, menandakan kehamilan yang sudah sangat tua.
"Panggil ambulans, sekarang!" perintahnya tegas kepada sopir, saat ia berlutut dan mengangkat tubuh perempuan itu dari genangan air dingin.
Dadanya sesak oleh sesuatu yang asing. Bertahun-tahun ia terbiasa mengendalikan setiap keputusan dengan kepala dingin, tapi malam ini, entah kenapa, logika itu terasa tidak cukup.
Perempuan ini benar-benar asing baginya. Ia bahkan tidak tahu namanya. Tapi ada sesuatu di wajah pucat itu, di antara tetes hujan yang membasahi pipinya, yang membuat Adrian merasa tidak sanggup sekadar berlalu begitu saja.
"Kau akan baik-baik saja," gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derasnya hujan, meski ia tahu perempuan itu tidak bisa mendengar sepatah kata pun.
Hermawan akhirnya turun dari mobil, tergesa mendekat dengan payung yang tak lagi berguna melawan derasnya hujan. Matanya menangkap sesuatu yang tergantung di leher perempuan itu, sebuah liontin kecil, setengah tersembunyi di balik kerah baju yang basah kuyup.
Tubuh Hermawan Vance seketika membeku.
"Itu tidak mungkin..." bisiknya dalam hati, tangannya gemetar meraih liontin itu lebih dekat, mata tuanya berkaca-kaca menatap ukiran kecil yang telah dua puluh tahun ia hafal luar kepala.”
Petir menyambar di kejauhan, menerangi wajah tiga orang di tengah hujan malam itu.
Hermawan menatap liontin itu tanpa berkedip.
Napasnya tercekat.
"Ini... ini liontin yang sama..."
BAB 17: Hadir Tanpa BersuaraSejak mengambil alih posisi Direktur Utama Investasi di Vance Group, hari-hari Shena dipenuhi rapat marathon, pemeriksaan berkas, dan penyelesaian akuisisi aset Pratama Group. Gedung kantor lantai lima puluh itu seolah menjadi rumah keduanya.Siang itu, jam sudah menunjukkan pukul dua. Shena masih berkutat di depan layar laptopnya. Berkas analisis risiko menumpuk tinggi di sisi kiri meja. Perutnya sebenarnya sudah lapar sejak sejam lalu, tetapi tumpukan dokumen menahannya untuk sekadar beranjak dari kursi.Pintu ruang kerjanya terketuk dua kali dengan ketukan khas. Adrian melangkah masuk.Pria itu tidak membawa berkas atau laporan kerja. Di tangannya, ada sebuah nampan berisi semangkuk sup ayam hangat, nasi putih, dan secangkir teh chamomile panas."Makan dulu," ujar Adrian santai seraya meletakkan nampan itu di sudut meja Shena yang agak lengang.Shena menengadah, mengusap pelipisnya yang agak pening. "Aku belum pesan makanan, Adrian.""Saya yang pesankan
Mobil SUV hitam yang membawa Shena dan Arka perlahan meluncur meninggalkan pelataran parkir kedai es krim. Lampu merah belakangnya menghilang di tikungan jalan, tetapi mata Rendra sama sekali tidak beranjak dari teras luar kedai itu.Di atas meja kayu tempat Arka duduk tadi, sebuah topi koki mainan berwarna biru tertinggal begitu saja.Jantung Rendra berdegup kencang. Dalam hitungan detik, seluruh rasa malu, gengsi, dan ketakutan akan kebangkrutannya seolah menguap. Yang tersisa di kepalanya hanyalah benda kecil berwarna biru di atas meja itu.Seorang pelayan berapron merah melangkah mendekati meja membawa nampan dan kain lap. Sebelum tangan pelayan itu menyapu permukaan meja, Rendra sudah bergerak cepat menerobos masuk ke area teras."Tunggu! Jangan dibuang!" seru Rendra setengah berlari.Pelayan itu terkejut, menghentikan gerakannya dengan wajah bingung. "Iya, Pak? Ada apa?"Rendra langsung menyambar topi mainan itu. Dari dalam dompet kulitnya yang tipis, ia menarik dua lembar uang
Rendra tidak langsung pergi setelah dibentak Adrian di depan gerbang.Pria itu memarkir sedannya di seberang jalan, sedikit tersembunyi di bawah rindangnya pohon asam. Dari balik kaca mobil yang agak kusam, Rendra terus menatap ke arah gerbang rumah keluarga Vance.Ancaman Adrian untuk menyita rumah dan memenjarakannya masih bergema di telinga Rendra. Tapi separuh jiwanya masih menolak percaya. Di kepala Rendra, Shena pasti hanya pura-pura jual mahal. Shena hanya sedang memakai Adrian untuk menakut-nakutinya.Aku ini ayahnya Arka. Cinta pertama Shena. Tidak mungkin dia setega itu, bisik Rendra pada dirinya sendiri, mencoba memompa kembali sisa-sisa keberaniannya.Pukul dua siang, gerbang besi tinggi itu perlahan terbuka.Sebuah SUV hitam mewah meluncur keluar dengan pelan. Dari kaca jendela depan yang sedikit terbuka, Rendra bisa melihat Shena duduk di kursi belakang bersama seorang bocah kecil.Arka.Mata Rendra langsung membelalak. Jantungnya berdegup kencang seketika."Shena... Ark
Uang jaminan terakhir dari sisa simpanan pribadinya berhasil mengeluarkan Rendra dari kantor polisi menjelang tengah malam. Pengacaranya menyarankan agar Rendra bersembunyi dan mengamankan sisa aset yang ada.Namun, otak Rendra sudah tidak bisa berpikir rasional lagi.Pikirannya sudah teracuni sepenuhnya oleh ucapan ibunya. Bagi Rendra, fakta bahwa Shena sampai memanggil polisi justru menjadi bukti kuat bahwa wanita itu belum sepenuhnya lupa padanya. Shena hanya sedang emosi. Shena hanya ingin menguji seberapa gigih Rendra akan mengejarnya kembali.Pagi harinya, dengan pakaian yang sudah kembali rapi dan seikat mawar merah segar di tangannya, Rendra berdiri di depan gerbang besi menjulang tinggi milik kediaman megah keluarga Vance di kawasan eksklusif Jakarta Selatan.Gerimis tipis mengguyur Jakarta, membuat udara pagi itu terasa sangat dingin. Namun Rendra tetap berdiri tegap di depan pintu gerbang, mengabaikan tatapan curiga dari dua pengawal berseragam yang berjaga di pos keamanan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.