Noah duduk di kursinya, masih dengan senyum yang sama. Ia menoleh pada Leo. “Halo, Kakak.”Noah duduk tepat di seberang kursi Leo. Rahang Leo mengeras, matanya terkunci pada sosok itu tanpa berkedip. Tatapan yang tak berusaha ia sembunyikan, penuh kebencian.“Leo,” suara berat ayahnya memotong ketegangan yang menggantung di meja. “Kau tidak menyapa balik?”Nada itu bukan pertanyaan. Alis ayah terangkat, matanya menatap tajam menuntut jawaban.“Halo, Noah,” balas Leo, terpaksa.Tak berselang lama, pelayan mulai berdatangan silih berganti, menata piring demi piring di atas meja. Ayah mulai memotong dagingnya, ibu menyendok sup pelan-pelan, Noah mengunyah tenang, Rion juga sama. Hanya bunyi peralatan makan yang saling beradu, tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mereka.Sudut bibir Leo tertarik naik, membentuk seringai tipis. “Keluarga,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada siapa pun itu. “Lucu juga masih ada yang menyebutnya begitu.”“
최신 업데이트 : 2026-08-27 더 보기