เข้าสู่ระบบAeri—gadis yang tak pernah kekurangan apa pun kecuali kasih sayang orang tuanya—mati membawa luka batin dan pertanyaan besar: Mengapa aku tak pernah dicintai? Namun, ia terbangun di tubuh ibunya 19 tahun lalu. Tepat saat Leo, pria yang kelak menjadi ayahnya, memaksanya menandatangani surat cerai ketika janin yang dikandungnya—dirinya sendiri—belum genap tiga bulan. Di kehidupan kedua ini, Aeri akhirnya menemukan jawaban di balik dinginnya takdir. Sambil menatap pria di hadapannya, ia tersenyum sinis. “Dicintai ibuku membuatmu sangat percaya diri, Leo. Kali ini, kamu yang akan mengerti rasanya diabaikan!”
ดูเพิ่มเติม"Nyonya, ada apa? Anda bermimpi buruk?"
Aeri tersentak hebat. Tangannya bergetar saat menunjuk ke arah cermin besar yang berdiri anggun di ujung ranjang megah itu. Dari posisinya yang terduduk di atas lantai dingin, dadanya naik turun memburu. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Itu... siapa?" bisik Aeri. Suaranya terdengar asing, amat sangat asing di telinganya sendiri.
Pelayan gadis di depannya menelengkan kepala bingung. Ia menatap seorang pengawal berjas hitam yang berdiri di dekat pintu. Pengawal itu hanya menggeleng pelan, sama bingungnya.
"Nyonya Ivy, Anda benar-benar membuat kami panik," ucap pelayan itu sambil melangkah mendekat. "Mari berdiri dulu, Nyonya. Lantainya dingin."
Ivy?
Jantung Aeri seakan berhenti berdetak saat mendengar nama itu diucapkan. Kepala Aeri mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa. Seketika, kepingan memori terakhirnya menyeruak masuk, memukul ingatannya tanpa ampun.
Aeri ingat betul bagaimana ia meninggal. Sebuah kecelakaan beruntun yang tragis di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun. Suara dentuman besi, rintihan sakaratul maut, dan rasa dingin yang perlahan mencabut nyawanya masih terasa sangat nyata.
Namun, bukannya pergi ke alam baka, jiwanya justru terlempar kembali ke masa lalu. Masuk ke dalam tubuh Ivy—ibu kandungnya sendiri—sepuluh tahun sebelum kecelakaan tragis yang nantinya juga memisahkan nyawa ibunya dari dunia ini.
Aeri memegangi kepalanya, meratapi takdir kejam yang menimpanya. Di kehidupan lalunya, Aeri tumbuh sebagai anak yang sama sekali tidak pernah diinginkan. Ibunya, Ivy, meninggal saat Aeri masih sangat kecil. Sementara ayahnya... pria itu tidak pernah sekalipun sudi mengunjunginya, menganggapnya ada, apalagi mengusap kepalanya dengan kasih sayang.
Sepanjang hidupnya yang singkat dan kesepian, Aeri hanya dibesarkan oleh pengasuh. Ia cuma ditemani cerita-cerita menyedihkan tentang betapa ibunya tertekan dan menderita demi mengejar cinta sepihak dari sang suami.
Dan kini, Aeri justru terbangun sebagai Ivy. Wanita bodoh yang menderita dan mengemis cinta pada pria yang tak pernah menginginkannya.
Klek.
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka. Langkah kaki berat yang tegas dan teratur menggema mendominasi ruangan tersebut.
"Ada ribut-ribut apa ini?" tanya sebuah suara dingin.
Sejenak, Aeri yang masih duduk di lantai mendongak. Untuk beberapa detik, ia lupa cara bernapas. Paras tampan namun dingin bagai es itu... adalah wajah muda dari ayahnya sendiri. Ada rasa asing dan perih yang menyayat dadanya saat menatap pria itu dari dekat secara langsung.
Laki-laki itu menghela napas kasar. Ia memutar bola matanya malas, menatap Aeri dengan tatapan muak yang tak berusaha disembunyikan.
"Kali ini ada drama apa lagi, Ivy?" tanyanya tanpa empati sedikit pun.
Aeri tertegun. Suara dingin itu terasa membakar seluruh pendengarannya. "Aku... aku bukan—"
"Aku tidak punya waktu untuk mengurusi tingkah manja tidak berguna seperti ini," potong laki-laki itu tanpa belas kasih. Pria itu tidak sudi mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ia bahkan tak mau berlama-lama berada di ruangan yang sama.
Pria itu langsung berbalik pergi. Tanpa berpikir panjang, Aeri refleks berdiri dan mengejar, meraih lengan baju pria itu.
"Tunggu—"
SRET!
Tangan Aeri ditepis begitu kasar hingga tubuhnya tersentak mundur beberapa langkah dan hampir kehilangan keseimbangan.
"JANGAN SENTUH AKU!" bentak pria itu. Matanya memancarkan tatapan penuh kebencian yang mendalam. "Sudah cukup kau memaksaku menikahimu lewat tekanan keluargamu. Jangan pernah berani menyentuhku lagi!"
Pria itu melangkah keluar dan membanting pintu kamar hingga berdenting keras. Suara dentumannya menggema di seluruh ruangan.
“Kalau dulu kamu bisa menekanku melalui keluargaku, tidak sekarang!”
Aeri berdiri mematung di tengah ruangan, tangannya menggenggam udara kosong. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Bukan karena ia mencintai pria itu, melainkan rasa sakit mendalam milik Ivy yang tertinggal di dalam tubuh ini—rasa sakit atas cinta sepihak yang terus-menerus diinjak-injak.
Leo... jadi begini caramu memperlakukan Ibu selama ini? batin Aeri dengan senyum kecut yang getir.
Ibu kandungnya dulu begitu bodoh. Meratapi pria dingin ini hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika Ivy tewas dalam kecelakaan di masa depan kelak, Leo tak pernah sudi menghadiri pemakamannya atau sekadar menengok jasadnya.
"Ibu terlalu bodoh," gumam Aeri pelan sambil menyapu air mata di pipinya. Matanya kini berkilat tegas, memancarkan keberanian yang tak pernah dimiliki Ivy sebelumnya.
"Tapi aku bukan Ibu. Aku tidak akan mengemis cinta dari pria yang membenciku. Mulai hari ini, aku akan hidup sebagai Ivy, dan aku yang akan menentukan jalan hidupku sendiri."
Namun, di tengah tekadnya yang membara, pintu kamar tiba-tiba kembali terbuka pelan. Pelayan tua yang mengurusnya sejak kecil melangkah masuk dengan wajah pucat dan tangan yang gemetaran, memegang sebuah amplop cokelat tebal.
"Nyonya Ivy..." bisik pelayan itu ragu-ragu. "Tuan Leo... baru saja menyuruh saya menyerahkan ini kepada Anda sebelum beliau pergi."
Aeri mengerutkan kening. "Apa itu?"
Pelayan itu menunduk dalam-dalam, takut menatap mata Aeri. "Dokumen... perjanjian hak asuh anak dan draf perceraian, Nyonya. Tuan bilang, beliau ingin Anda menandatanganinya sebelum usia kandungan Anda menginjak tiga bulan."
Jantung Aeri serasa dihantam palu godam. Kandungan? Aeri refleks meraba perutnya yang masih rata. Di dalam tubuh ini... ia yang baru saja merintis jiwa baru, sedang mengandung dirinya sendiri?
“Kembalikan!” ulang Leo, semakin meninggikan suaranya.Aeri tertawa kecil, tawa meremehkan. Ia sama sekali tidak takut pada Leo. “Sudah kukatakan, aku ….”Aeri mengambil napas, dadanya masih berdenyut nyeri sisa hantaman ke dinding tadi. Sudut bibirnya yang berdarah membuat setiap kata terasa perih. Tapi ia menahan diri, tak sedikit pun ringisan lolos dari wajahnya.“… sudah tidak punya lagi,” lanjutnya, suaranya sedikit serak namun tetap tajam.“KAU—”Leo melangkah mendekat pada Aeri. Ia menekuk lutut dan tangannya menahan keras dagu Aeri. Membuat wajah Aeri terpaksa mendongak menatap pria itu.Jari-jarinya menekan kuat di kedua sisi rahang, cukup kuat hingga meninggalkan bekas merah di kulit pucat wanita itu. Wajah mereka begitu dekat, napas Leo yang memburu menyentuh kulit Aeri.“Coba kau ulangi,” gumam Leo, menatap tajam Aeri.Aeri membalas menatap tajam Leo. “Aku sudah tidak punya lagi, surat itu sudah kuhancurkan,” jawabnya mantap.Mata Leo memancarkan amarah yang amat. Rahangny
Noah duduk di kursinya, masih dengan senyum yang sama. Ia menoleh pada Leo. “Halo, Kakak.”Noah duduk tepat di seberang kursi Leo. Rahang Leo mengeras, matanya terkunci pada sosok itu tanpa berkedip. Tatapan yang tak berusaha ia sembunyikan, penuh kebencian.“Leo,” suara berat ayahnya memotong ketegangan yang menggantung di meja. “Kau tidak menyapa balik?”Nada itu bukan pertanyaan. Alis ayah terangkat, matanya menatap tajam menuntut jawaban.“Halo, Noah,” balas Leo, terpaksa.Tak berselang lama, pelayan mulai berdatangan silih berganti, menata piring demi piring di atas meja. Ayah mulai memotong dagingnya, ibu menyendok sup pelan-pelan, Noah mengunyah tenang, Rion juga sama. Hanya bunyi peralatan makan yang saling beradu, tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mereka.Sudut bibir Leo tertarik naik, membentuk seringai tipis. “Keluarga,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada siapa pun itu. “Lucu juga masih ada yang menyebutnya begitu.”“
Aeri tertawa kecil. Ia menghambur berdiri dan berlari. Tetapi, begitu ia melompat berdiri, lantainya serasa miring dan lututnya limbung sebelum sempat menopang berat tubuhnya.TepLengannya tertahan sebelum sempat membentur lantai. Tapi, belum sempat ia bernapas lega, cengkeraman itu mengerat. Kukunya menekan kulitnya, membuat Aeri mendesis dan mencoba menarik diri.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Leo, melotot tajam pada Aeri.Aeri masih meringis kesakitan, mencoba membebaskan lengannya dari tangan Leo.“Aku tanya, apa yang kau lakukan di sini!” Leo membentak, rahangnya mengeras saat ia mencondongkan tubuh, wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah Aeri.“Ke-kenapa kau ingin tau?” ucap Aeri pelan, mengulas senyum tipis meremehkan. Sesekali meringis tiap kali rasa sakit itu menyengat.“Kau—” Leo terhenti, matanya terpaku pada bekas di leher Aeri.Leo mendengus, menyeringai kecil. “Ternyata bukan aku saja yang ingin mencekikmu.”Tanpa pikir panjang, Aeri membenamkan giginya ke leng
Aeri menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuh.“Hei, mau sampai kapan kau akan membelakangi—”Tendangan telak, tepat mengenai selangkangan pria itu. Pria itu tersentak, tubuhnya membungkuk seketika, erangan tertahan lolos dari mulutnya.Tangannya yang sedari tadi menahan pintu akhirnya terlepas, memberi celah Aeri untuk kabur. Sebelum pergi, Aeri menoleh pria itu dari ekor matanya, menatapnya sinis.“Dasar orang aneh,” gumam Aeri pelan, tetapi dapat didengar oleh pria itu.Pintu terbanting menutup, meninggalkan rintihan pria itu di baliknya. Belum sempat ia bangkit berdiri, derap langkah kaki dari atas mulai terdengar mendekat.Pria itu mengulas senyum tipis, menahan sakit di selangkangannya. “Dari mana saja kau?”“Maaf, Tuan. Tuan sendiri yang tidak menginginkan pengawalan bukan?” balas laki-laki muda berjas hitam, berdiri menunggu pria itu memulihkan diri.Pria itu tertawa datar. “Dingin sekali kau pada Tuan Muda-mu ini?”Lak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.