“Dia hampir menamparmu, Alea. Dia jelas tidak peduli padamu—”Alea menoleh tajam. Dadanya naik turun, emosinya yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja.“Bapak tahu apa soal hidup saya?” potong Alea. Suara itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Tangannya mengepal di atas pahanya.“Tiga bulan lagi kami menikah.”Sunyi kembali menguasai. Untuk satu detik, dua detik—tidak ada suara apa pun selain napas mereka sendiri.Dan kemudian—Tiiin!Andra menekan klakson tiba-tiba. Alea tersentak, refleks menaikkan pandangannya ke jalan. Tapi tak menemukan apapun.“Astaga. Ngagetin aja, Pak.”“Ada kucing,” jawab Andra ringan.Alea hampir memprotes, tapi saat menoleh—rahang Andra sedikit mengeras. Alea mengernyit. Sadar bahwa ucapan Andra barusan bukan tentang kucing.‘Kenapa dia?’Sejak mereka berdua bertemu lagi, Andra selalu seperti ini—terlihat ramah, perhatian, tapi ‘menyebalkan’.“Pak Kala kayaknya hobi banget cari perhatian sama kamu, Al. Jangan-jangan…”Suara itu terlint
Última atualização : 2026-09-02 Ler mais