LOGINAlea tak pernah menyangka mantan tentor les SMP yang dulu tiba-tiba menghilang kini kembali sebagai atasannya di tempat ia bekerja. Selama ini Alea percaya kepergiannya adalah akibat pengakuan cintanya yang dulu tak seharusnya ia ucapkan. Namun, sekarang ia ragu alasannya bukan karena dirinya, lalu rahasia apa yang sebenarnya membuat Kalandra menghilang tanpa jejak?
View More“Alea, kenapa melamun? Kamu mau masuk, gak?”
Perempuan yang dipanggil Alea itu menatap ragu seorang pria yang sedang menahan tombol lift di hadapannya. Dan jika bukan pria itu yang ada di sana, Alea pasti sudah langsung masuk ke dalam lift itu. Tapi masalahnya, pria itu adalah Andra—Kalandra Baruaji. Pria yang pernah menolak perasaannya dulu dan menghilang tanpa kabar selama tujuh tahun. Lalu sekarang muncul di hadapannya sebagai atasannya, bersikap akrab seperti dulu seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapan Andra bergeser pada tangannya yang masih menahan tombol lift, sebuah isyarat bahwa pria itu melakukannya agar Alea tidak berdiri terlalu lama di sana. Akhirnya Alea melangkah masuk dengan napas masih belum stabil akibat berlari tadi. Pintu lift menutup perlahan. Hening. Hanya suara angka lantai yang bergerak naik. Alea menatap dinding lift yang memantulkan bayangannya, dan juga sosok Andra yang memperhatikannya. Baru seminggu dia masuk sebagai Junior Editor baru di perusahaan platform novel digital. Sampai hari ini, ia masih berhasil menutup hubungan mereka dulu yang merupakan kakak tentor dan murid di lingkungan kerja. Kalau saja tujuh tahun lalu Alea tidak nekat mengungkapkan perasaannya dan lebih memilih memendamnya, semua kecanggungan ini tidak akan terjadi. Dia bisa bersikap leluasa di kantor barunya. Tapi, Alea yang masih duduk di bangku SMP saat itu masih belum berpikir panjang. Ia justru mengikuti isi kepalanya dan berakhir dengan Andra berhenti mengajar les privatnya. Tepat seminggu sebelum ujian masuk universitas. Perasaan malu dari ingatan itu kembali menyergapnya. Ia segera merapikan rambut dengan jemari tangannya, lalu menarik napas panjang. Andra berdehem sedikit, menyodorkan tangannya. “Mau kopi?” Alea mengerjap, menatap segelas kopi dengan butiran-butiran air yang perlahan menetes dari dinding luarnya. Iced Caramel Macchiato, kesukaannya. Refleks ia menelan ludah, ingin sekali menolak agar sang atasan berhenti bersikap ramah padanya. Namun sayang tenggorokannya yang kering membuatnya tergiur hingga akhirnya mengulurkan tangannya. Namun sebelum sempat meraihnya, Andra menariknya kembali. Alea langsung mengangkat pandangannya dan mendapati sudut bibir Andra terangkat tipis “Kamu belum sarapan, Alea.” Alea diam. “Minum kopi saat perut kosong tidak bagus.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terdengar seperti perhatian. Tapi justru itu yang membuatnya geram. Menurutnya, pria ini bersikap kekanak-kanakan sekali. Jika dari awal tak berniat memberi, untuk apa menawarkan? Mata Alea masih terkunci pada sosok Andra yang kini menatap lurus ke depan. Raut wajahnya yang sangat tenang membuat dadanya terasa sesak. ‘Kenapa, ya, aku bisa jatuh cinta sama dia dulu?’ rutuknya dalam hati. Tangannya yang tadi sempat terulur, perlahan turun kembali. Alea memilih mengalihkan pandangan ke layar ponselnya dan tak mengatakan apapun. Ia tidak ingin terlihat terlalu memikirkan hal sepele seperti itu. Tapi justru pikirannya semakin penuh. Sedari pagi, ia menunggu kabar dari tunangannya. Tapi hingga detik ini, belum ada pesan masuk di ponselnya. Bahkan pesan yang ia kirim sebelumnya masih belum dibaca. Alea menggenggam ponselnya lebih erat, memikirkan apa yang harus ia katakan di depan makam orang tuanya besok jika sang tunangan tidak ada kabar seperti ini Tak lama lamunannya terpotong saat terdengar bunyi lift terbuka. Buru-buru Alea keluar dari sana agar tak berlama-lama bersama Andra di sana. “Alea.” Suara di belakangnya menghentikannya. Alea menoleh, ia berdecak pelan mendengar pria itu memanggilnya dengan nama yang tak ingin ia dengar. “Sudah berapa kali saya bilang, tolong jangan panggil saya dengan nama itu di kantor,” bisiknya tajam. Matanya menyapu sekeliling, Ia tak ingin terlihat datang bersama Andra atau terlihat dekat dengannya. Risiko salah paham terlalu besar dan ia sama sekali tak ingin menjelaskan masa lalunya. Tapi Andra malah mengendikkan bahu, memasang wajah polos. “Kenapa? Namamu benar Alenta Nareswara, kan?” Ia pura-pura berpikir. “Atau aku salah? A… le… a?” Alea membulatkan matanya. Bukannya ia tidak suka dengan nama panggilan itu, tapi jika pria itu yang memanggilnya, rasanya terlalu personal dan mengingatkannya pada masa lalu. Ia sangat tidak menyukainya. Sulit sekali bicara dengan pria ini. Ia akhirnya menyerah, membalikkan badan dan segera masuk ke ruang rapat. Sudah tak ada waktu lagi, ia perlu menyiapkan diri dulu sebelum memulai. Lima menit kemudian, Alea sudah berdiri di depan layar proyektor. Ini presentasi pertamanya sebagai Junior Editor di kantor ini. Beberapa orang sudah duduk, laptop terbuka, dan suasana ruang rapat sudah penuh perhatian. Alea menarik napas panjang, ia baru akan membuka file di laptopnya, tapi tanpa sengaja ekor matanya menangkap sesuatu. Di ujung meja, Andra sedang menyodorkan kopi yang tadi ke salah satu editor perempuan di sisi meja. Dengan semburat merah di pipinya, wanita itu menerima gelas dari tangan Andra. Lalu, Andra menoleh hingga mata mereka bertemu. Pria itu tersenyum tipis padanya, seolah ingin memastikan Alea melihatnya. Alea menelan napas, berusaha untuk tak memikirkannya. Ada hal yang jauh lebih penting dari pria menyebalkan itu. Presentasi pun dimulai. Beruntungnya, semuanya berjalan lancar. Rasa bangga bercampur lega menyelimuti dadanya, hingga kebahagian singkat itu terganggu oleh ponselnya yang bergetar di atas meja. Alea membelalak saat melihat sang tunangan tertera di layarnya. Ia langsung buru-buru menyelesaikan presentasinya dan langsung menyambar ponselnya. “Maaf, saya izin sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari ruang meeting dan langsung mengangkat telepon itu. “Hallo?” Suara di seberang terdengar buru-buru, tapi jelas. “Maaf, Alea. Aku baru bisa kasih kabar. Dia sudah take off dari Perth beberapa jam lalu.” Alea diam. Kalimat itu masuk ke telinganya, tapi tidak langsung diproses sepenuhnya. “Dia… sama sekali nggak hubungi aku?” “Katanya, kamu nggak perlu jemput. Dia langsung ketemu investor begitu sampai.” Dan sambungan terputus begitu saja. Alea terpaku di lorong, beban berat seolah menekan dadanya hingga terasa sesak. Ia tak menyangka setelah menunggu selama itu, hanya jawaban itu yang ia dapatkan. “Alea,” Wanita berambut hitam ikal yang dipanggil itu terkesiap. Ia menoleh cepat, mendapati sosok pria yang memanggil berdiri tepat di belakangnya. Alea meneguk liurnya susah payah. “I–Iyaa, Pak…?” Pandangan Andra berhenti sebentar ke arah Alea, tapi untuk sesaat tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Kalau sudah selesai dengan urusan ‘penting’ mu itu, segera menghadap ke mejaku.”“Dia hampir menamparmu, Alea. Dia jelas tidak peduli padamu—”Alea menoleh tajam. Dadanya naik turun, emosinya yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja.“Bapak tahu apa soal hidup saya?” potong Alea. Suara itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Tangannya mengepal di atas pahanya.“Tiga bulan lagi kami menikah.”Sunyi kembali menguasai. Untuk satu detik, dua detik—tidak ada suara apa pun selain napas mereka sendiri.Dan kemudian—Tiiin!Andra menekan klakson tiba-tiba. Alea tersentak, refleks menaikkan pandangannya ke jalan. Tapi tak menemukan apapun.“Astaga. Ngagetin aja, Pak.”“Ada kucing,” jawab Andra ringan.Alea hampir memprotes, tapi saat menoleh—rahang Andra sedikit mengeras. Alea mengernyit. Sadar bahwa ucapan Andra barusan bukan tentang kucing.‘Kenapa dia?’Sejak mereka berdua bertemu lagi, Andra selalu seperti ini—terlihat ramah, perhatian, tapi ‘menyebalkan’.“Pak Kala kayaknya hobi banget cari perhatian sama kamu, Al. Jangan-jangan…”Suara itu terlint
Alea masih belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.Suasana restoran perlahan pulih; percakapan kembali riuh mengisi ruangan. Namun bagi Alea semuanya terdengar samar, jauh seolah terhalang dinding tebal.Yang ia lihat hanya satu hal. Tangan itu. Yang masih mencengkeram pergelangan Lukas dengan kuat. Bahkan kini menariknya dengan kasar ke belakang.Lukas mencoba berontak, rahangnya mengeras. “Lepasin.”Namun cengkeraman itu tidak bergeming. Alea menelan ludah. Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat pandangannya.Dan saat itulah ia melihatnya.“Andra…?”Suaranya nyaris tak terdengar.Pria itu berdiri di samping Lukas, wajahnya santai seperti biasa—tidak ada tanda-tanda emosi berlebihan. Bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat, seolah situasi ini tidak lebih dari gangguan kecil dalam harinya.“Lho,” Andra mengangkat alis tipis, masih memegang pergelangan Lukas. “Saya pikir kamu butuh waktu lima belas menit. Ini baru berapa menit?”Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untu
“Kamu belum jawab, Alea—kamu ke sini mau ketemu siapa?” Andra mengikutinya melangkah masuk. Tulisan Lumina Hall & Table terpampang jelas di dinding dekat pintu. Alea terdiam sepersekian detik. Ia memang belum menjelaskan apapun pada Andra. Karena merasa tak perlu. Dan juga saat ini, kepalanya hanya penuh dengan keinginan untuk segera bertemu Lukas. “Penulis,” jawabnya singkat. Alis Andra sedikit terangkat. Jelas tidak percaya. “Penulis?” ulangnya. “Kenapa harus sampai tatap muka?” Alea terkesiap sebentar. Ia tersadar, bahwa alasannya memang tidak masuk akal. Mereka bekerja di kantor platform novel digital. Untuk penyerahan dan pembahasan naskah, melalui email atau aplikasi pesan singkat saja sudah cukup. “Kenalan saya,” jawabnya terburu-buru, mulai gelisah. Ia menunjuk ke bagian dalam ruangan. “Tolong tunggu di meja lain sebentar saja, Kak. Saya cepat selesai, kok.” Andra menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan yang membuat Alea ingin mundur satu lan
“Bagus, Alea. Katamu nggak ingin berurusan sama orang itu lagi.”Alea sedari tadi merutuki dirinya sendiri di depan ruangan. Sampai Sera menepuk bahunya.“Mau aku temenin ke meja Pak Kala?” Raut wajah wanita berambut pendek itu terlihat prihatin.Alea hanya menggeleng.“Nggak usah, Ra. Aku cuma butuh waktu sebentar buat mempersiapkan hati dan telinga.” jawabnya dengan cengiran di bibirnya. “Tenang aja, Al. Pak Kala itu nggak galak. Cuman agak… nyelekit dikit.” Sera mengacungkan ibu jari dan telunjuknya mendekat. “Lagian, ini kan kesalahan pertamamu. Aman.”Sejak seminggu bekerja di Storyla, Alea selalu berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan agar tidak perlu berhadapan langsung dengan Andra.Tapi hari ini, semuanya berantakan karena tunangannya, Lukas. Jika saja Lukas tidak mendiamkannya selama dua minggu, tentu saja Alea tidak akan segelisah ini menunggu teleponnya. Padahal besok adalah hari peringatan kematian orang tuanya, dan ia butuh kejelasan dari pria itu.Alea menutup ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.