Aku menatapnya dengan dingin, seolah-olah sedang melihat seorang badut yang tak ada harganya, lalu berkata, “Coba maki sekali lagi kalau berani?”Seketika, Mario terbungkam seperti ayam yang mencekik lehernya sendiri. Amarah dan kesombongannya lenyap tak berbekas dalam sekejap.Dia terduduk lemas di atas sofa, tampak pasrah bagaikan ayam jago yang kalah telak.Setelah terdiam cukup lama, barulah dia berbicara dengan nada yang memohon, “Rara, kita… kita bisa duduk dan bicarakan baik-baik. Bagaimanapun kita pernah jadi suami istri, nggak perlu sampai sebegitunya. Aku rela membagi rata harta kita, bagaimana menurutmu?”“Haha.” Aku terkekeh, “Mario, kamu nggak bilang seperti itu tadi. Bukannya kamu mau aku cerai tanpa mendapat sepeser pun? Boleh saja kalau mau cerai, tapi rumah dan mobil jadi milikku, sedangkan kamu… nggak mendapat sepeser pun.”“Mimpi!” teriak Mario dengan emosi yang meledak-ledak.“Baiklah.” Aku mengeluarkan ponsel dan berpura-pura hendak menekan nomor, lalu melanjutkan,
Magbasa pa